Harga Mobil Akan Naik Bertahap Tahun Ini - Sektor Otomotif

NERACA

Jakarta – Mengawali 2014, para agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil dipastikan segera menaikkan harga jual kendaraan. Siklus tahunan ini memang selalu terjadi pada awal tahun, seiring tiap-tiap pemerintah daerah menetapkan Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PBBNKB). Namun, kenaikan tahun depan agak berbeda karena dipastikan ada tambahan penyesuaian ongkos produksi yang semakin tinggi. "Yang jelas, akan ada kenaikan harga," ujar Sudirman Maman Rusdi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), di Jakarta, Kamis.

Faktor utama penyebab kenaikan harga selain PBBNKB adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang masih bercokol di atas Rp 12.000. Meski sebagian besar mobil yang dipasarkan sudah rakitan lokal (CKD) dan menggunakan komponen dari dalam negeri, tetap saja bahan baku komponen itu dari impor dan dibeli menggunakan kurs dollar AS.

"Kenaikan harga akan dilakukan bertahap, tidak sekaligus. Untuk tahap awal, biasanya 1,5-2 % Dalam dua bulan kemudian, dihitung lagi, lihat seberapa jauh penerimaan pasar," beber Sudirman yang juga Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor (ADM).

Sementara itu, Budi Darmadi, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, memprediksi total penjualan mobil tahun depan akan naik sekitar 5 persen menjadi 1,3 juta unit dari tahun ini sekitar 1,2 jutaan unit. Meski demikian, banyak faktor yang memengaruhi pasar, antara lain suku bunga tinggi, nilai tukar rupiah, dan inflasi. Walau begitu, kebutuhan terhadap mobil masih besar di Indonesia. "Tahun ini, target pemerintah lebih besar dari asosiasi. Biasanya, sebaliknya," celoteh Budi.

Di lain pihak, Sudirman menambahkan, Gaikindo pada tahun depan memprediksi bahwa total pasar akan flat alias sama dengan tahun ini, sekitar 1,2 juta unit lebih sedikit. PT Toyota Astra Motor. Toyota menaikkan harga jual mobil rata-rata sebesar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. "Kami masih menyesuaikan harga dengan melihat kondisi konsumen," ujar Rahmat Samulo, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor.

PT Astra Daihatsu Motor juga menaikkan harga. Rio Sanggau, Head Domestic Marketing Division PT Astra Daihatsu Motor mengatakan, awal tahun ini, perusahaannya sudah menaikkan harga rata-rata antara Rp 4 juta hingga Rp 7 juta. "Harga jual naik karena ada kenaikan material dan jasa," ujar Rio.

Adapun untuk model Daihatsu yang mengalami kenaikan harga yakni Xenia dan Terios (mulai Rp 1,75 juta), Daihatsu Luxio (Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta), Gran Max pick-up dan Gran Max minibus masing-masing naik Rp 1 juta dan Rp 1,5 juta.

Tak mau kalah, PT Suzuki Indomobil Sales juga mengerek harga jual mobilnya sebesar 1%. "Kenaikan harga bervariasi, mulai Rp 1,5 juta-Rp 3 juta," kata Davy J. Tuilan, 4W Marketing & DND Director PT Suzuki Indomobil Sales.

Ada beberapa pertimbangan yang membuat Toyota harus menaikkan harga jual mobil. Pertama adalah rupiah loyo, maklum saja beberapa komponen mobil masih bergantung kepada impor. Kedua adalah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan energi.

Idealnya, kata Davy, kenaikan harga jual mobil harus mengikuti kenaikan nilai tukar. Sebab, nilai tukar merupakan salah satu faktor utama untuk menentukan harga jual mobil. "Nilai tukar naik 15 % - 18 % seharusnya harga mobil naik 10 %," tandasnya.

Namun, tak mungkin buat ATPM untuk menaikkan harga mobil setinggi itu. Meski begitu, jika rupiah terus loyo, Davy bilang, bukan tidak mungkin harga jual mobil akan naik lagi. "Tahun lalu, rupiah masih Rp 9.500 - Rp 9.800, tahun ini naik Rp 11.200," katanya.

Meski harga naik, Davy yakin tak akan berdampak terhadap penurunan penjualan mobil. Tahun ini, Suzuki menargetkan market share dari pasar nasional sebanyak 16,7 %. "Faktor ekonomi dan politik lebih mempengaruhi volume penjualan mobil," jelasnya.

Related posts