Perikanan Budidaya Perlu SDM Berkemampuan Khusus

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto kepada Neraca, pada acara FGD di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, Kamis (9/1), mengatakan, penyerapan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor budidaya bakal semakin besar di tahun-tahun mendatang.

“Hanya saja di perikanan budidaya ada kemampuan atau pun skill yang harus disesuaikan dengan komoditas perikanan tertentu, mengingat jumlah komoditas perikanan budidaya sangat banyak. Kedepan, harapannya tenaga ahli yang mengawal teknologi lebih mengarah pada spesifikasi komiditas perikanan yang dibutuhkan,” kata Slamet.

Sementara terkait dengan program perikanan budidaya, yakni revitalisasi tambak, pada kesempatan sebelumnya, dalam siaran pers direktorat yang dia pimpin, Slamet menjelaskan, program revitalisasi tambak udang melalui tambak demfarm (tambak percontohan) yang digulirkan sejak tahun 2012 telah memberikan efek yang luar biasa bagi para petambak udang tradisional maupun masyarakat di sekitar lokasi tambak demfarm.

Selain adanya peningkatan produksi yang signifikan dari tambak-tambak yang sebelumnya mangkrak dan kurang produktif, sebut Slamet, kesejahteraan petambak dan pekerja yang bekerja di tambak perlahan tapi pasti mengalami peningkatan.

“Dari segi produksi udang secara nasional, per triwulan 3 atau per September 2013, produksi udang telah mencapai 480 ribu ton (data sementara). Jumlah ini telah melebihi capaian produksi tahun 2012 yang mencapai 457.600 ton. Data produksi ini berkorelasi positif dengan bertambahnya luasan tambak budidaya udang, di sekitar tambak demfarm,” ujarnya.

Dalam catatan Ditjen Perikanan Budidaya, ada penambahan luasan tambak baru yang mencapai 675 ha di enam lokasi tambak demfarm (Serang, Tangerang, Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon). “Bahkan dari seribu hektar tambak yang direvitalisasi melalui program ini, mampu menyerap tenaga kerja baik musiman maupun tetap sebanyak 130 ribu orang. Ditambah lagi, posisi tawar udang Indonesia yang cukup tinggi di dunia karena bebas EMS dan bebas residu. Hal ini berkat kerja keras dan disiplin semua stake holders usaha budidaya udang dalam menerapkan standard prosedur sesuai acuan. Hasilnya adalah peningkatan permintaan udang dari Indonesia sehingga harganya pun juga meningkat dan mampu memberikan keuntungan usaha yang signifikan bagi petambak udang,” imbuhnya.

Dampak Demfarm

Dampak positif dari program revitalisasi tambak melalui tambak demfarm ini dirasakan langsung oleh para petambak selaku pelaku usaha. Seperti yang disampaikan oleh H. Bidin, salah satu petambak di tambak demfarm Kec. Pasekan, Kab. Indramayu. H. Bidin mengatakan bahwa dengan adanya tambak demfarm telah mengubah pola budidaya yang semula tradisional dengan produksi 1 ton per 1 ha, menjadi pola intensif dengan produksi menjadi sepuluh kali lipat yaitu 10 ton per ha. H. Bidin yang juga ketua kelompok Vaname Jaya 2 dengan jumlah anggota 10 orang, telah berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar tambak yang bekerja di lokasi tambak udang.

Petambak lain di Kec. Sindang Kab. Indramayu, yang tergabung dalam kelompok Vaname Jaya 1 dan di ketuai oleh Budiono juga merasakan hal yang sama. Bahkan Budiono merasakan system kemitraan yang dibangun dalam program tambak demfarm ini sangat bermanfaat. “Sistem kemitraan yang ada menjadikan kami dapat saling bertukar informasi atau sekedar berbagi cerita tentang pengalaman berbudidaya udang dan kondisi di lapangan,” kata Budiono.

Budiono juga mengatakan bahwa dampak dari program tambak demfarm ini tidak hanya berdampak pada petambak, tapi berdampak pula pada sektor lain seperti toko material bangunan, listrik dan toko makanan dan minuman.

Baik H. Bidin dan Budiono juga mengatakan bahwa program tambak demfarm juga memunculkan pro dan kontra. Akan tetapi mereka melihat bahwa program tambak demfarm ini adalah program yang terlihat jelas hasilnya dan terbukti bermanfaat. Kalau ada petambak yang kurang setuju dengan program ini, mungkin karena belum merasakan dampak positif dari program ini. “Apabila melihat hasil produksi udang vaname dari tambak demfarm yang kian terus bertambah, saya yakin masyarakat akan bersemangat pengen punya tambak sendiri,” kata H. Bidin.

Lain lagi cerita dari lokasi tambak demfarm di Kec. Blanakan Kab. Subang. Carkimudin, Ketua KUD Karya Bukti Sejati menyatakan bahwa keberhasilan tambak demfarm telah mendorong masyarakat sekitar untuk berbudidaya udang dengan mencontoh system budidaya yang diterapkan dalam tambak demfarm.

Melalui program revitalisasi tambak, jiwa kewirausahaan yang dibangun adalah melalui kelompok yang sehat, disiplin dan dapat menjaga perjanjian usaha serta mematuhi anjuran teknis yang diberikan. ”Ke depan menjaga komitmen adalah ciri pengusaha kecil yang harus dibangun di Indonesia karena kita bersiap menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 yaitu era perdagangan bebas regional ASEAN. Tugas KKP adalah mencetak pembudidaya tradisional untuk menjadi pengusaha yang mempu bersaing secara global dengan sentuhan teknologi dan pemberdayaan secara kelompok. Kondisi ini dapat dicapai salah satunya melalui program revitalisasi tambak,” tutup Slamet.

Related posts