Rupiah Masih Sakit, Industri Kemasan Ciut - Diperkirakan Hanya Akan Tumbuh 8%

NERACA

Jakarta - Saat ini perekonomian Indonesia sedang melandai, dimana rupiah masih terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Dengan kondisi seperti ini, beberapa pelaku usaha industri menyangsikan pertumbuhan dapat naik secara signifikan, salah satunya adalah industri kemasan.

Business Development Director Indonesia Packaging Federation, Ariana Susanti mengatakan awalnya para pelaku industri kemasan memprediksi industri ini dapat tumbuh hingga 11% tahun ini. Namun dengan melihat kondisi yang ada, industri diperkirakan hanya bisa tumbuh sebesar 8%.

Hal dapat dilihat dari posisi pada kuartal terakhir 2013, di mana pemesanan terus menurun karena harga yang terus naik, akibat merosotnya nilai rupiah. "Melihat kondisi saat ini kami tidak begitu yakin. Tahun ini maunya tentu ada investasi, tapi kondisi rupiah terus menurun. Kami sedang menunggu kondisi rupiah membaik," ujarnya di Jakarta, Kamis (9/1).

Menurut dia, pertumbuhan 11% dapat tercapai jika kondisi rupiah dapat kembali ke angka Rp 11 ribu per dollar AS. Namun dia tetap berharap, pada Maret tahun ini, investasi baru di industri mulai terlihat. "Seperti 2012 saja, dengan kondisi rupiah di tahun itu industri pengemasan tumbuh signifikan," lanjutnya.

Ariana menjelaskan, kondisi rupiah memang sangat memberikan pengaruh terjadap industri ini karena 50% bahan baku pengemasan berupa plastik masih harus diimpor. Industri pengolahan plastik dalam negeri sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan industri kemasan.

Selain itu, plastik yang dipasok dari dalam negeri juga menggunakan harga dalam dolar, sehingga otomatis harga plastik lokal tetap mengikuti kurs dolar. Dengan kondisi seperti ini membuat industri kemasan tidak berani melakukan stok bahan baku. Bahan baku hanya dipasok sesuai dengan pesanan yang ada. Ini membuat pelaku industri tidak mempunyai negara pemasok utama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hal senada juga diungkap Ketua Umum Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Felix S Hamidjaja. Menurut dia selama ini industri kemasan membeli bahan baku dengan mata uang dollar AS, sedangkan industri menjual produk kepada produsen menggunakan mata uang rupiah. Hal ini jelas merugikan dan menekan marjin perusahaan.

"Sistem perdagangan kita saat ini, khususnya dalam pembelian bahan baku itu dalam dollar AS, meskipun beli dari industri dalam negeri tapi tetap kita beli pakai dollar. Marjin pasti berkurang, sebab 80 % bahan baku yang kita pakai dibeli dengan dollar," katanya.

Menurut Felix, jangankan memikirkan keuntungan, untuk mendapatkan kembali modal yang sudah dikeluarkan saja sudah sulit. "Apalagi saat ini, ketika produsen membeli ke kami tetap menggunakan sistem kontrak. Sehingga tidak bisa terima langsung pembayarannya," ujarnya.

Untuk menyiasati hal tersebut, asosiasi sepakat menaikkan harga jual produk kemasan ke produsen hingga 20 %. "Kenaikan harga jual 20 % itu paling membalikkan modal yang sudah kami keluarkan selama ini," katanya. Namun, Felix belum menyebutkan kapan kenaikan harga tersebut bisa diberlakukan.

Terapkan UU

Felix juga menuturkan, pemerintah sudah seharusnya menerapkan UU Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang untuk melindungi industri nasional. Implementasi dari UU tersebut bisa mendorong seluruh produsen bahan baku yang ada di dalam negeri untuk menjual produknya dalam mata uang rupiah.

"Sistem perdagangan di dalam negeri harusnya pakai mata uang rupiah. Kalau tidak mau, maka bakal ada sanksi dari hal itu. Kalau diberlakukan, saya optimistis dalam jangka waktu tiga bulan pasti aman lagi industri kita," katanya.

Kalau ini tidak segera dilakukan, maka dalam waktu dekat industri kemasan tinggal menunggu waktu untuk gulung tikar. "Bisa dibayangkan ribuan pekerja menjadi pengangguran akibat hal tersebut," ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat, mengatakan konsumsi produk plastik per kapita di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

Potensi konsumsi produk plastik di Indonesia masih cukup besar mengingat konsumsi nasional per kapita per tahun baru mencapai 10 kilogram. Hidayat mengatakan, angka tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang mencapai angka 40 kilogram per kapita per tahun. "Permintaan plastik kemasan didorong oleh pertumbuhan industri makanan minuman dan fast moving consumer goods sebesar 60 %," ujarnya.

Hidayat menambahkan, meskipun struktur industri plastik nasional sudah cukup lengkap dari hulu sampai hilir, namun masih ditemui tantangan dalam pengembangannya. Menurutnya, tantangan tersebut antara lain adalah kapasitas produksi yang terbatas pada bahan baku seperti polipropilen dan polietilena.

"Dengan kondisi tersebut, kita masih mengimpor sebanyak 694 ribu ton dari total kebutuhan sebesar 1,64 juta ton pada tahun 2011. Sekarang kami tidak ada negara pemasok utama. Yang penting harganya tidak terlalu mahal. Kadang china, kadang kawasan Timur Tengah atau negara lainnya," tandas dia.

Related posts