Pergerakan IHSG Akhir Pekan Masih Layu

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,625 poin (0,01%) ke level 4.201,218. Sementara Indeks LQ45 menipis 0,333 poin (0,05%) ke level 698,649. Masih bertahannya suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) 7,5% menjadi sentimen positif, ditambah menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di posisi Kata analis Trust Securities, Yusuf Nugraha, BI Rate yang tetap bertahan di tingkat 7,5% tidak terlalu signifikan mempengaruhi pasar karena sudah diprediksi pasar seiring dengan inflasi yang stabil dan neraca perdagangan Indonesia yang surplus.

Namu menurutnya, menguat tipisnya indeks BEI karena sikap wait and see pelaku pasar menanti kebijakan tapering off the Fed,”Indeks BEI cenderung mendatar, pelaku pasar saham sedang 'wait and see' terhadap kapan waktu pelaksanaan 'tapering off' the Fed,”ujarnya di Jakarta, Kamis (9/1).

Dia mengatakan, pada pekan depan the Fed dikabarkan akan melakukan pertemuan untuk membahas pelaksanaan pemangkasan stimulus keuangannya,”Diharapkan pemangkasan stimulus tidak berubah dari yang pernah diputuskan yakni sebesar US$10 miliar,”ujarnya.

Lanjutnya, sebagian pelaku pasar juga sedang menanti kebijakan gubernur baru the Fed yang menggantikan Ben Bernanke pada akhir bulan ini. Diharapkan sesuai dengan ekspektasi pasar yakni Wakil Gubernur the Fed Janet Yallen. Berikutnya, perdagangan akhir pekan diproyeksikan bakal terkoreksi seiring aksi ambil untung pasar sambil menunggu kebijakan tapering off the Fed.

Menutup perdagangan, aksi beli banyak dilakukan investor asing, sayangnya tekanan jual investor domestik membuat IHSG berakhir flat. Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 128,69 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 164.466 kali pada volume 3,04 miliar lembar saham senilai Rp 4,085 triliun. Sebanyak 125 saham naik, sisanya 152 saham turun, dan 75 saham stagnan.

Bursa-bursa regional mengakhiri perdagangan dengan kompak melemah di teritori negatif. Sentimen negatif melemahnya pasar global membuat pelaku pasar Asia lakukan aksi jual. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) turun Rp 29.000 ke Rp 1,14 juta, Tembaga Mulia (TBMS) naik Rp 500 ke Rp 8.000, SMART (SMAR) naik Rp 150 ke Rp 6.700, dan Cita (CITA) naik Rp 150 ke Rp 755.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Waran Solusi Tunas (SUPR-W) turun Rp 1.500 ke Rp 1.100, United Tractor (UNTR) turun Rp 650 ke Rp 18.800, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 25.700, dan Waran Inovisi (INVS-W) turun Rp 400 ke Rp 800.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup menguat 12,783 poin (0,30%) ke level 4.213,376. Sementara Indeks LQ45 menguat 2,708 poin (0,39%) ke level 701,690. Indeks sempat menanjak hingga posisi tertingginya di level 4.216,822. Tujuh sektor berhasil menguat, kecuali sektor aneka industri, konsumer dan manufaktur.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 95.274 kali pada volume 1,751 miliar lembar saham senilai Rp 2,307 triliun. Sebanyak 119 saham naik, sisanya 108 saham turun, dan 77 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia akhirnya kompak melemah di zona merah setelah diawal mixed. Bursa saham Jepang terkoreksi paling dalam dengan terpangkas hampir dua persen. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Tembaga Mulia (TBMS) naik Rp 500 ke Rp 8.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 500 ke Rp 23.300, SMART (SMAR) naik Rp 200 ke Rp 6.750, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 200 ke Rp 26.400. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang (MLBI) turun Rp 58.500 ke Rp 1,06 juta, Waran Solusi Tunas (SUPR-W) turun Rp 1.600 ke Rp 1.000, Waran Inovisi (INVS-W) turun Rp 400 ke Rp 800, dan Garda Tujuh Buana (GBTO) turun Rp 240 ke Rp 1.310.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah tipis sebesar 0,63 poin Atau 0,01% menjadi 4.199,97 dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,16 poin (0,02%) ke level 698,82 seiring dengan bursa regional,”IHSG BEI bergerak melemah seiring dengan bursa regional, koreksi bursa regional itu mengikuti bursa AS yang juga terkoreksi," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung .

Dia mengemukakan bahwa koreksi bursa AS itu terjadi setelah sejumlah pejabat The Fed menilai kebijakan pembelian surat utang (obligasi) yang dilakukan selama ini mulai tidak menguntungkan bagi ekonomi AS.

Meski demikian, lanjut dia, sentimen dari dalam negeri cukup positif menyusul ekspektasi suku bunga acuan (BI rate) yang tetap di level 7,5% seiring membaiknya data neraca perdagangan Indonesia dan cadangan devisa yang naik menjadi US$ 99,4 miliar.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 37,65 poin (0,16%) ke level 22.958,94, indeks Nikkei turun 215,53 poin (1,34%) ke level 15.905,96 dan Straits Times menguat 1,26 poin (0,04%) ke posisi 3.152,33. (bani)

Related posts