Membangun Daerah Butuh Swasta dan Investasi - Ir Junaidi Elvis M Hum, Presiden & CEO Carana Group

Ir Junaidi Elvis M Hum, Presiden & CEO Carana Group

Membangun Daerah Butuh Swasta dan Investasi

Ada banyak cara untuk mempersempit jurang ketimpangan antara pusat dan daerah. Sulit jika hanya mengandalkan APBD yang kecil. Karena itu perlu gerak langkah cepat dan strategis.

“Percepatan itu dapat ditempuh dengan mengundang peran seluas-luasnya dari kalangan swasta berikut investasinya,” kata Junaidi Elvis yang kini mempunyai kampung halaman baru. Kampung halaman yang dimaksud adalah Nusa Tenggara Barat (NTB). Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu dia sering habiskan waktunya tinggal di NTB yang memiliki dua pulau Lombok dan Sumbawa dan beribu kota di Mataram.

Lho? Bukankah kampung halaman atau tempat kelahiran Junaidi Elvis adalah Lubuk Linggau, Sumatera Selatan? Istinya pun, Nilawati, tidak berasal dari sana, tapi putri Minang kelahiran Palembang, Sumatera Selatan. Banyak cerita mengapa Elvis berjuang mati-matian ingin membangun NTB. Menurut presiden dan CEO Carana Group, NTB sebetulnya memiliki sumber daya yang berlimpah.

Sebagai pengusaha, kata dia, banyak peluang yang dapat digali di daerah tersebut, baik hasil bumi maupun lautnya seperti sektor pertanian, perikanan dan kelautan dan tambang mineral serta pariwisatanya. Di antara yang terkenal adalah beras, tembakau, juga tambang emasnya serta pantai yang sangat indah.

Sebagai orang swasta yang memiliki jiwa enterpreneur tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun agar daerah itu maju dan berkembang sehingga penduduknya menikmati kemakmuran, sedangkan pengusahanya bisa berkarya dan berinvestasi. “Jadi kami memang harus punya seribu akal, karena agar maju, daerah memang membutuhkan keberpihakan baik secara ekonomi dan politik,” kata pria kelahiran 24 April 1963 ini.

Mengapa harus menggabungkan kepentingan ekonomi dan politik? Menurut pendiri dan pemimpin Nusantara Organic SRI Center (NOSC) yang merupakan Pusat Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan, Lombok-NTB ini, pembangunan daerah harus didukung oleh kebijakan yang kuat dan tegas hingga mampu menarik banyak investasi dari luar. Kehadiran para investor dan peran swasta seluas-luasnya.

“Kata kuncinya, kebijakan pembangunan itu merupakan produk politik karena proses pembuatannya melibatkan unsur eksekutif dan legislatif, baik di DPR maupun DPRD,” kata ketua Kompartemen Tetap (Komtap) Kemitraan Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin Indonesia) ini.

Yang penting adalah, kebijakan politik itu harus dijalankan secara transparan agar terhindar dari berbagai praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). “Kami ingin menciptakan sinergi iklim politik dan investasi yang bersih, sebab, politik itu tak selalu kotor, tergantung siapa pelakunya,” ujar alumnus program S2 yaitu Maister Hukum Bisnis di UGM ini.

Elvis, demikian pria itu dipanggil, merasa apa yang dimilikinya telah cukup untuk menjadi modal dasar membangun daerah. Pengalamannnya di dunia bisnis, kata dia, alangkah baiknya jika ditularkan dan dikembangkan tidak hanya di pusat dan untuk diri dan keluarganya saja, tapi juga untuk kejayaan daerah khususnya daerah NTB serta masyarakatnya.

Karir Usaha

Walaupun dulu, ayahnya seorang pedagang, namun Elvis tak mewarisi usaha orang tuanya Karir bisnisnya dibangun dari nol dan berbekal pengalaman bekerja di berbagai perusahaan. Saat masih kuliah di program D3 Teknik Sipil FNT UGM, dia sudah ditugasi dosennya menjadi tenaga di PT Brantas Adipraya pada proyek pembangunan bendungan Wadaslintang di Kebumen Jawa Tengah.

Dia terus bergabung di perusahaan itu saat lulus D3-nya dan berkantor di Malang, Jawa Timur. Sambil menyelam minum air. Dia pun berhasil melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan program S-1 di Fakultas Teknik Sipil Universitas Merdeka (Unmer) pada 1989. “Saya tercatat sebagai lulusan terbaik kedua saat itu,” ujarnya.

Ada dua pilihan jenjang karir yang bisa ditempuh Elvis, menjadi dosen dan bekerja di swasta. Pilihannya adalah bekerja di perusahaan swasta. Lepas dari Brantas Abipraya, dia pun bergabung di perusahaan minyak asing yaitu Halliburton Energy Services yang berkantor pusat di Duncan, Oklahoma USA. Di sana, Elvis punya banyak kesempatan menjelajah berbagai wilayah tidak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai negara hingga 6,5 tahun lamanya.

Pada 1992, Elvis pun mempersunting Nilawati, alumnus FE Universitas Andalas. Hingga kini dikaruniai dua anak, Kevin Hartman Putella dan Shafira Elvina Putella yang sudah mulai beranjak dewasa. Bosan jadi karyawan, Elvis memberanikan diri mendirikan perusahan sendiri. Pada 1995, didirikankan PT Carana Bunga Persada yang bergerak di bidang supplier dan services di lingkungan perminyakan.

Sambil kuliah program S-2, pada 2005, pria berkacamata ini mendirikan dan memimpin PT Carana Indonesia sebagai Induk perusahaan dari beberapa perusahaan, termasuk PT Carana Bulk Logistic (PMA) dan PT Carana Lentera Prima. Bersama temannya, pada 2008, Elvis mendirikan perusahaan Sino Surplus Consultant Ltd, di Hongkong yang bergerak di bidang Trading dan Keagenan.

Hingga akhirnya, sejak 2011, dia ditunjuk sebagai Indonesia Representative SOKTAN Resources Group (Singapore). Saat itu pula, dia mendirikan perusahaan PT Batur Lombok Lestari dan memimpin pusat pelatihan pertanian rakyat ramah lingkungan NOSC (Nusantara Organic SRI Center) di Lombok. “Semua itu kini saya himpun dalam JE Corporation,” tutur Elvis.

Brand JE juga diwujudkan dalam bentuk yayasan, yaitu Yayasan Jendela Emansipasi. Yayasan itu berkonsentrasi di bidang pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya di kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB). Mengapa di NTB, menurut dia, karena provinsi itu masih harus berjuang mengejar ketertinggalan pembangunan di berbagai bidang.

“Kami selenggarakan berbagai kegiatan pemberdayaan dan pencerahan di berbagai bidang, seperti ekonomi, sosial, politik, dan budaya, dalam bentuk pelatihan atau workshop, juga seminar, maupun kegiatan olah raga dan kesenian,” kata Elvis yang juga aktif di Partai Golkar sejak rezim Ketua Umum Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, hingga Aburizal Bakrie.

Tokoh-tokoh seperti Aburizal Bakrie, Sharif C Sutardjo dan Agung Laksono maupun Adi Dharmawan Putra Tahir adalah para seniornya saat Elvis mulai membangun bisnis dan aktif berorganisasi, baik di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Kadin Indonesia dan saat ini di Partai Golkar.

Ada tiga misi yang ingin dia perjuangkan untuk membangun bumi sasak NTB ini. Yaitu, pertama, memajukan usaha masyarakat petani, nelayan dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan menciptakan inovasi dalam mengelola usaha, membuka alternatif sumber-sumber permodalan, dan jaringan pemasaran.

Kedua, mendorong terbukanya akses investasi baru untuk memberdayakan potensi sumber daya alam NTB yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, mendukung lahirnya generasi muda yang memiliki kemampuan berwirausaha dan kepemimpinan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang berbasis pada pemberdayaan sumber daya manusia NTB.

Apa kiat agar setiap upaya itu bisa berhasil? Elvis pun mengungkapkan sejumlah jurus jitu. “Kalau ingin berhasil, kita harusnya bukan sekadar bekerja keras, tapi berpikir cerdas, lalu bekerja pintar, serta bermain taktis dan strategis.” Itu yang diajarkan oleh para seniornya.

Aktif Berorganisasi

Sukses Elvis di bidang bisnis, tentu tak lepas dari pengalamannnya berorganisasi sejak masa sekolah hingga sekarang. Saat duduk di bangku SMP di Curup, Bengkulu, dia sudah aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Saat ditaman kanak-kanak pun dia sudah memimpin temannya barus-berbaris.

Lulus SMP langsung hijrah ke Yogyakarta berbekal restu dari orang tuanya, alm Darmawi dan Yusma. Ijazah SMA dikantunginya pada 1983. Lalu masuk ke program D-3 Jurusan Teknik Sipil Fakultas Non-gelar Teknologi (FNT) UGM. Di sana sempat terpilih menjadi ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) tingkat fakutas. Prestasi akademiknya yang menonjol, dia pun ditunjuk menjadi asisten dosen dan sering mendapat penugasan ke berbagai proyek teknik sipil dari fakultas.

Ketika sudah berkutat di dunia bisnis, berbekal luasnya jaringan pertemanan, Elvis sebagai seorang insinyur dia juga bergabung di PII sejak 1990. Mulai hanya sebagai anggota, hingga pernah menjadi wakil sekjen Pengurus Pusat PII hingga dua periode sampai sekarang.

Aktif di Hipmi sejak 1997. Kiprahnya mulai dari Hipmi Jaya, menjadi wakil ketua komtap. Lalu dipromosi ke Hipmi Pusat dan sempat menjadi ketua IV. Kini, masih menjadi anggota Dewan Kehormatan Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi.

Organisasi berikut yang diikutinya adalah Kadin. Di era 2008-2013, Elvis tercatat sebagai wakil ketua umum Kadin DKI bersama teman teman lainnya pada masa ketua umumnya Eddy Kuntadi. Pada saat yang bersamaan, dia juga direkrut menjadi ketua Komtap Kemitraan Daerah Kadin Pusat untuk periode 2010-2015 dibawah wakil ketua umum OKP dan TKP Anindya Bakrie. “Saya seperti ada panggilan batin untuk terjun dalam aktivitas organisasi semacam itu,” tutur Elvis.

Masih ada dua organisasi yang dia geluti sampai sekarang, yaitu di Kosgoro 1957 dan di Partai Golkar. Di Pengurus Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro 1957, penah menjadi ketua Biro Ekonomi dan Usaha. Di sana dia juga merangkap organisasi sayap yaitu Himpunan Pengusaha Kosgoro (HPK) 1957. Mula-mula dia mendapat mandat untuk mendirikan dan sekaligus menjadi ketua DPD HPK 1957 DKI Jakarta dan sekarang menjadi sekjen DPP HPK 1957 hingga 2015 mendampingi Ketua Umum Emil Abeng.

Berikutnya, di Partai Golkar, saat ini Elvis mendapat amanah menjadi pengurus harian sebagai Wakil Sekjen Pemenangan Pemilu Wilayah Bali, NTB dan NTT. Dia juga tercatat sebagai Ketua Divisi Khusus Keorganisasian Balitbang DPP Partai Golkar. Itu sebabnya, Elvis pun punya kampung besar baru, yaitu NTB. (saksono)

Pull Out

“Kalau ingin berhasil, kita harusnya bukan sekadar bekerja keras, tapi bekerja pintar, lalu berpikir cerdas serta bermain taktis dan strategis.”

BOX

Pengalaman Pekerjaan

1986 - 1988 Engineer PT Brantas Abipraya, Malang

1988 - 1995 Field Engineer, Halliburton Energy Services, Jakarta

1995 - 1996 Site Manager, JDC Corporation, Jakarta

1996 - 2005 Presiden Direktur PT Carana Bunga Persada

2005 – sekrg Presiden & CEO Carana Group

-PT Carana Indonesia (Induk Perusahaan)

- PT Carana Lentera Prima

- PT Carana Bulk Logistic (PMA)

-SINO Surplus Consultant Ltd, Hong Kong

2010- skrg Pendiri & Pemimpin NOSC Lombok, NTB

2011 – skrg Komisaris Utama PT Batur Lombok Lestari

2011 – skrg Indonesia Representative (Perwakilan) Soktan Resources Group, Singapura dan Australia.

Related posts