Kembalikan Kejayaan Angkutan Umum

Kembalikan Kejayaan Angkutan Umum

Biarkan orang mengantre membeli mobil murah. Sebab, jika mereka nekat melaju di jalanan di Jakarta, kemacetan akan mendera dan membuat stres. Pengeluaran untuk ongkos transportasi setiap hari kian mahal, tak sebanding dengan murahnya harga mobil itu.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah skenario untuk memberikan hak kemudahan bagi angkutan umum massal. Betapa tidak, pada 1991, angkutan umum masih mendominasi perjalanan hingga 74%. Tahun-tahun berikutnya, ternyata merosot. Pada tahun 2000, turun menjadi 55%. Dua tahun kemudian, kembali turun menjadi 52%. Pada kurun delapan tahun kemudian, yaitu pada 2010, tinggal 28% saja. Dan, pada 2012, drop hingga pada angka 12%. Jalanan dikuasai kendaraan pribadi.

Untuk mengembalikan kejayaan angkutan umum massal, Dinas Perhubungan DKI Jakarta sedang menyiapkan sejumlah cara. Pertama, perbanyak jumlah armada bus Transjakarta (TJ). Tahun ini ditargetkan pengadaan 1.000 bus TJ. Kedua, sterilisasi jalur busway dan pengenaan denda maksimal. Denda maksimal hingga Rp 500 ribu itu, seperti diusulkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, juga diberlakukan terhadap mereka yang parkir sembarangan, melawan arah (contraflow), dan ngetem sembarangan.

Ketiga, untuk mendukung operasional bus TJ, akan diperbanyak jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Saat ini, dari 15 SPBG yag ada, lima tidak beroperasi. Tahun ini, akan dibangun 20 SPBG lagi. Idealnya, tiap koridor memiliki SPBG. Keempat, penerapan tarif parkir mahal. Saat ini sedang disiapkan SK Gubernur DKI tentang kenaikan tarif parkir untuk di mal-mal, dan pinggir jalan (on street).

Kelima, sebagai penghubung transportasi dari daerah pinggir ke Jakarta, diadakanlah Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB), yaitu angkutan umum yang armadanya mirip TJ berangkat dari wilayah pinggir/perbatasan ke pusat-pusat kota di Jakarta, dan bebas melintas di jalur busway.

Keenam, diadakanlah bus kota terintegrasi busway (BKTB), berupa bus sedang atau bus kecil seperti Metromini, Kopaja, dan Kopami Jaya. Tentu, model busnya disesuaikan dengan pola Transjakarta. Misalnya, sopirnya bergaji bulanan, ber-AC, tak boleh ngetem, dan tak perlu kejar setoran, serta bebas pengemis dan pengamen. Jadi aman.

Ketujuh, akan diterapkannya jalan berbayar atau electronic road pricing (ERP). Untuk melintasi jalan-jalan tertentu, harus membayar yang besar tarifnya kemungkinan bakal memberatkan mereka yang berdompet pas-pasan.

Kedelapan, Pemprov DKI akan mengupayakan kantong-kantong parkir bertarif murah bagi kendaraan pribadi yang pemiliknya akan menggunakan angkutan umum (park and ride). Kesembilan, mengupayakan atau memperbanyak jalur/gate khusus di gerbang jalan tol bagi kendaraan angkutan umum. Dengan cara demikian, kendaraan pribadi akan mengantre panjang hingga beratus-ratus meter. (saksono)

Related posts