BI Rate Diprediksi Bertahan

NERACA

Jakarta - Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistaningsih memprediksi bahwa hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 7,5%. Dia juga menjelaskan, prediksi tersebut juga didukung oleh data-data inflasi bulan ini yang berada dibawah target bank sentral.

“Selain itu ekspektasi inflasi juga melambat pada tiga bulan ke depan, serta surplusnya neraca perdagangan kita bulan ini sebesar US$776,8 juta,” kata Lana kepada Neraca, Rabu (8/1). Sedangkan dari faktor eksternal yang turut mempengaruhi kebijakan BI, Lana mengatakan isu penarikan stimulus moneter (tapering off) oleh Bank Sentral AS (The Fed) yang telah diputuskan.

“Isu tapering off sudah jelas keputusannya sejak bulan Desember lalu. Selain itu pergantian Gubernur Bank Sentral AS dari Ben Bernanke ke Janet Yellen bulan ini, juga turut mempengaruhi (kebijakan BI),” imbuh dia. Akan tetapi, Lana memperkirakan faktor eksternal belum akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, setidaknya, hingga Maret 2014 mendatang.

Terlebih, lanjut dia, dengan meningkatnya jumlah cadangan devisa Indonesia, per Desember 2013, maka menjadi hal positif bagi perekonomian Indonesia. Meskipun rupiah belum kunjung menguat, namun Lana meyakini hal itu sifatnya hanya sementara.

“Kondisinya hanya sementara. Kalau misalnya masih dikisaran Rp12 ribu per dolar AS selama sebulan ini saja, saya yakin para pemilik dolar AS akan segera melepas dolarnya. Menurut saya dolar AS tidak akan mencapai level Rp13 ribu per dolar AS,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, akhir Desember 2013, Bank Indonesia (BI) mencatatkan cadangan devisa (cadev) sebesar US$99,4 miliar, posisi ini meningkat sebesar US$2,4 miliar jika dibandingkan dengan posisi akhir bulan November tahun lalu yang sebesar US$97 miliar.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Peter Jacobs menjelaskan, pada jumlah tersebut, cadev masih bisa membiayai 5,6 bulan impor. “Selain itu cadev juga bisa membiayai 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah, ini masih berada di atas standar kecukupan internasional.

Lebih lanjut Peter juga mengatakan, bank sentral menilai akumulasi cadev tersebut bisa menambah kekuatan dari ketahanan sektor eksternal. “Meningkatnya jumlah cadangan devisa ini tidak lepas dari respon kebijakan BI untuk terus mengendalikan defisit transaksi berjalan agar menurun ke tingkat yang lebih sehat dan berkesinambungan,” tutur dia. Selain itu, dia juga menjelaskan kebijakan tersebut untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar selalu berada pada kondisi fundamentalnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memastikan bank sentral terus melakukan intervensi di pasar uang, guna menjaga pelemahan rupiah. Agus bilang, pelemahan rupiah yang telah mencapai 24% sejak awal tahun, mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

"Selama tiga bulan terakhir BI selalu ada di pasar. Kondisi rupiah yang tembus Rp12.105 per dolar AS masih aman dan mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Kondisi yang ada adalah kondisi mencerminkan dunia," katanya, belum lama ini.

Agus mengungkapkan, kondisi pelemahan rupiah, terbukti mampu mendorong mempersempit defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) menjadi 3,8% pada kuartal III-2013 terhadap GDP. Sebelumnya, CAD sempat menyentuh level 4,4% terhadap GDP pada kuartal I-2013 dan kuartal II-2013. [sylke]

Related posts