DJBC Mengaku Keberatan - Target Penerimaan Rp170,2 Triliun

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengaku keberatan dengan target pendapatan bea dan cukai sebesar Rp170,2 triliun pada APBN 2014. Pasalnya target tersebut dianggap tidak realisitis terhadap lambatnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Bahkan keberadaan Undang-Undang (UU) Mineral dan Batubara (Minerba) yang melarang ekspor material mentah turut ambil andil dalam penurunan penerimaan.

“Saya kira sangat berat untuk lembaga bead an cukai untuk mencapai target penerimaan sebesar Rp170,2 triliun pada tahun 2014 ini. Sebab tingkat target pertumbuhan pendapatan bea dan cukai kali ini tidak seimbang dengan perlambatan ekspor dan impor yang akan terjadi. Terlebih tahun ini juga sudah mulai diterapkan UU Minerba yang melarang ekspor hasil tambang mentah,” kata Kepala Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Agung Kuswandono di kantornya, Rabu (8/1).

Agung menjelaskan dengan adanya UU Minerba lemabga DJBC akan mengalami kehilangan pendapatan dari bea keluar sekitar Rp4 triliun. Belum lagi ditambah dengan potensi kehilangan lain dari dampak melemahnya industri pertambangan. “Sementara saya kira bea keluar kita akan hilang sebesar Rp4 triliun.”

Unruk itu Agung mengaku kemungkinan besar Kemenkeu akan merevisi target penerimaan bea dan cukai tahun ini. Revisi itu akan dilakukan pada pertengahan tahun dalam agenda APBN-P 2014. Dengan begitu revisi itu maka lembaganya dapat bekerja secara realitisti untuk mencapai target.

Kemungkinan besar kita bisa minta turunkan targetnya. Tapi itu bukan domain saya untuk bilang penurunan ini. Maka sementara ini saya hanya akan bilang target tersebut optimis tercapai,” tutur Agung.

Kemudian Agung memaparkan pendapatan bead an cukai hingga akhir tahun 2013 sudah terealisasi sebesar 101,75% atau sebesar Rp155,8 triliun dari target sebesar Rp153,15 triliun. Prestasi itu diproleh dari penerimaan bea masuk yang dapat tumbuh sebesar 2,44% atau mengalami kelebihan senilai Rp751,36 juta. Pasalnya target bea masuk 2013 yang sebesar Rp30,8 triliun itu dapat terealisasi sebesar Rp31,56 trilun hingga akhir tahun.

Begitu juga dengan pendapatan cukai yang tercatat tumbuh sebesar 3,55% atau mengalami selisih lebih dari target senilai Rp3,72 triliun. Pasalnya target akhir tahun 2013 dari penerimaan cukai hanya sebesar Rp104,7 triliun. Sedangkan realisasinya sudah mencapai Rp108,45 triliun hingga akhir tahun.

“Penerimaan tahun 2014 memang sepertinya lebih tinggi dari 2013. Kalau kita lihat penerimaan dari cukai 95% nya masih diperolah dari tembakau. Sedangkan sisanya kita sangat mengutamakan penerimaan bea masuk dan keluar,” tandasnya. [lulus]

Related posts