Ditjen Bea Cukai Butuh 15 Ribu Pegawai - Sulit Awasi Arus Barang di Perbatasan

NERACA

Jakarta – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengaku kekurangan pegawai. Hal itu membuat lembaga tersebut kesulitan untuk mengawasi barang masuk dan keluar di perbatasan. Terlebih tahun 2015 nanti segera menjelang free trade dengan negara-negara kawasan.

“Sekarang kami sedang melakukan fokus pengawasan di wilayah perbatasan. Itu sebabnya dari awal kemarin kita minta penambahan pegawai. Karena kalau jumlah pegawai kita kurang di perbatasan maka akan ada kesulitan mengawasi barang masuk dan barang keluar di sana,” kata Kepala Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Agung Kuswandono di Auditorium Gedung B Kantor Pusat DJBC, Rabu (8/1).

Agung menjelaskan hingga tahun 2013 kemarin sebetulnya DJBC butuh penambahan pegawai hingga 15.000 orang. Namun hingga akhir tahun kemarin baru sebanyak 9.500 orang yang dapat terealisasi menjadi pegawai baru. Juga ada penambahan melalui rekruitmen sebesar 260 pegawai.

“Tapi penambahan pegawai itu masih kurang meskipun patut disyukuri ada penambahan. Hingga saat ini kita sudah memiliki sekitar 10.600 pegawai. Termasuk di dalanya 18 regu Custom untuk pengawasan penyelundupan narkotika,” terang Agung.

Kemudian Agung menerakankan sepanjang tahun 2013 kemarin pihaknya mencatat ada 4.752 kasus penyelundupan. Sebanyak 3.690 kasus berasal dari perdagangan impor, 237 kasus berasal dari perdagangan ekspor, penyelundupan fasilitas sebesar 128 kasus, cukai 697 kasus, dan penyelundupan tekstil berserta produk tekstil sebesar 201 kasus. Angka itu meningkat drastis dibanding temuan tahun 2012 yang baru mencapai 2.998 kasus.

“Tahun 2013 kemarin kerugian negara dari kasus-kasu itu mencapai Rp165,15 miliar. Tapi secara nilai angka itu lebih rendah dari tahun 2012 yang sudah mencapai Rp247,78 miliar. Paling banyak kita menemukan penyelundupan barang tekstil berupa baju bekas. Bahkan sekarang gudang-gudang bead an cukai sudah mulai dipenuhi dengan baju bekas itu,” ungkap Agung.

Menjelang MEA

Lanjut, Agung mengakui dengan adanya event Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 nanti direktorat bea dan cukai akan menghadapi tantangan yang lebih berat lagi. Pasalnya di era perdagangan bebas sesama negara kawawan itu membuka peluang lebih besar terhadap masuknya barang selundupan. Terutama barang jenis narkotika dan obat berbahaya lainnya.

“Namun kita sudah mulai bangun kerjeasama dengan Custom negara sahabat seperti Singpaura dan Malaysia. Kita berharap barang-barang selundupan itu termasuk narkoba dapat dicegah distribusinya sebelum masuk ke Indonesia. Tapi pembahasan ini memang masih dalam proses,” papar Agung.

Kemudian Agung mengakui pembahasan ini sangat perlu dipertegas dengan negara tetangga. Pasalnya negara-negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia kerap tidak melakukan pemeriksaan terhadap barang transit yang masuk ke negara tersebut. Bahkan tidak pernah melaporkan kepada pemerintah Indonesia mengenai jumlah dan jenis barang yang akan masuk tersebut.

“Misalnya di Malaysia ternyata barang-barang itu terlebih yang cuma barang transit tidak diperiksa apapun. Tapi kita meskipun tidak diperiksa di sana ya tolong kasih tahu kami dong. Supaya kita tahu dan bisa lebih tajam untuk mengawasi barang-barang yang masuk ke dalam negeri,” tukas Agung. [lulus]

Related posts