Perubahan Lot Saham Jadi Blunder BEI

NERACA

Jakarta – Kendatipun PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengklaim perubahan lot saham berjalan lancar, namun diakui perlu adaptasi sehingga saat ini belum banyak memberikan dampak terhadap transaksi di bursa saham.

Namun menurut pengamat pasar modal dari PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, kebijakan tersebut menjadi blunder bagi BEI. Pasalnya, pengurangan lot saham dari 500 lembar menjadi 100 lembar saham banyak di keluhkan investor ritel, “Kebijakan pengurangan lot saham bisa di bilang upaya pengusiran halus pemodal ritel. Padahal pihak bursa sedang menggenjot pemodal ritel, “ujarnya di Jakarta, kemarin.

Alasannya, perubahan lot saham tersebut bakal menggerus keuntungan bagi investor ritel dan termasuk pemodal besar. Hal senada juga disampaikan Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang, pemberlakuan fraksi harga dan satuan lot yang baru khususnya saham di bawah harga Rp500 menjadi kurang menarik bagi trader, “Perubahan lot saham kurang menarik karena makin sulit mendapat short term gain dan karena semakin banyak effort yang harus dilakukan," kata Edwin.

Satrio juga mengakui, daya saing industri pasar modal masih rendah dibandingkan dengan negara lain, seperti Malaysia dan Singapura. Hal ini bisa dilihat dari jumlah investor pasar modal masih rendah karena penetrasi pasar saham masih jelek sehingga membuat pasar saham kurang menarik. “Investornya hanya itu-itu saja dan hanya kalangan-kalangan tertentu,”tandasnya.

Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah pihak bursa yang kurang memberikan edukasi bagi kalangan investor. Kedepan, lanjutnya, pasar bursa bakal menemui kendala karena ada kegiatan pemilu. Alasannya, pada event tersebut, pemerintah lebih fokus ke ranah politik dibandingkan di sektor ekonomi. “Kendalanya yaitu pemilu,” ucapnya.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Ito Warsito pernah bilang, industri pasar modal tetap optimis masih bisa tumbuh di tahun ini meskipun memasuki tahun pemilihan umum (pemilu). Pasalnya, hal yang perlu diantisipasi pasar modal di tahun 2014 agar mengalami peningkatan yang cukup baik dengan memperbaiki pekerjaan rumah, yakni mengalami beberapa defisit, “Untuk itu pemerintah harus memperbaiki. Ketiga ini harus diperbaiki dan diawasi, antara lain defisit neraca perdagangan, defisit neraca transaksi berjalan dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),”ujarnya.

Ito menambahkan, BEI dan Self Regulatory Organization (SRO) lainnya tidak akan ikut campur terhadap keadaan pasar agar naik dan turun. Tapi, bursa dan SRO hanya mengatur dan memantau pasar naik dan turun secara wajar."Untuk itu, semua defisit yang terjadi di tahun ini harus diperbaiki sebaik mungkin, khususnya defisit neraca transaksi berjalan yang terus tumbuh harus ditekan sebaik mungkin," paparnya.

Ito mengungkapkan, industri pasar modal Indonesia masih bisa tumbuh dan meningkat di tahun pemilu 2014. Hal ini mengacu pada tahun pemilu 2004 dan 2009. Pada tahun pemilu 2004 dan 2009, industri pasar modal Indonesia mengalami peningkatan,”Pada tahun depan pasar modal Indonesia tumbuh, data empirisnya tahun pemilu sebagainya. Tahun pemilu 2004 dan 2009 naik terus, hanya isunya berbeda,"tandasnya. (bari)

Related posts