Benarkah Jakarta 2014 Macet Total?

Benarkah Jakarta 2014 Macet Total?

Kini tiba 2014. Yaitu tahun yang diprediksi akan terjadi kemacetan yang sangat parah di Jakarta. Karena itu, kalau tak ingin terjebak kemacetan, lebih baik jangan membawa kendaraan pribadi.

Pasti stres dan uring-uringan di sepanjang perjalanan, baik pulang kerja atau ke kantor, atau untuk berbagai keperluan lainnya. Sebab, luas jalanan di Jakarta yang mencapai 4,5 juta m2 atau 45 km2, sama dengan luas lahan bagi jumlah kendaraan yang ada.

Dari angka kasar bahwa jumlah mobil di Jakarta sudah mencapai 3 juta unit, dan tiap kendaraan membutuhkan ruang rata-rata 15 m2, maka seluruh kendaraan itu akan menempati ruang jalan seluas 3 juta x 15 m2 sama dengan 4,5 juta m2 atau 45 km2. Jika seluruh mobil itu turun ke jalan, pasti tak bisa bergerak sama sekali. Artinya, luas mobil dengan luas kendaraan itu sama. “Jadi tugas kami adalah menurunkan agar angka yang naik ini ke bawah. Bagaimana ke bawahnya itu?” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Udar Pristono.

Hal itu diungkapkan Pristono saat menjadi narasumber seminar nasional bertajuk “Mobil Murah dan Kemacetan Jakarta, serta Keseimbangan Infrastruktur dan Moda Transportasi’ yang diadakan anggota DPD RI AM Fatwa bekerjasama dengan Institut Studi Transportasi (Instran) akhir Desember 2013 lalu.

Padahal, jumlah mobil di Jakarta jauh lebih banyak lagi. Data dari Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya menyebutkan, pada 2013 tercatat 16.043.689 unit kendaraan di Jakarta. Jumlah itu meningkat 9,8% dibanding tahun 2012, yang berjumlah 14.618.313 kendaraan. Dari jumlah itu, terbanyak adalah sepeda motor yang mencapai jumlah 11.929.103 unit. Sedangkan mobil pribadi berjumlah 3.003.499 unit.

Kekhawatiran Jakarta bakal dilanda kemacetan yang makin parah juga dilontarkan Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Dirjen Hubdat Kemenhub) Soeroyo Alimoeso, Kepala Subdit Pengembangan Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Tol Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Herry Trisaputra Zuna, Ketua Komisi V DPR Laurens Bahang Dama, Direktur Transportasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasiobnal (Bappenas) Bambang Prihantono, maupun Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Prof Danang Parikesit, di tempat yang sama.

Nyaris semua menyatakan, kemacetan itu daya beli masyarakat yang meningkat, maupun dipicu hadirnya mobil murah. Namun, sayang, tak ada upaya yang signifikan untuk mewujudkan jaringan transportasi umum massal yang memadai dalam arti, dengan tarif yang terjangkau, aman, nyaman, dan cepat. Kemacetan pun diyakini lebih akibat banyaknya orang yang beralih ke kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil, serta buruknya penegakan hukum lalu lintas, di samping tentu saja makin merosotnya tingkat kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas.

Darurat macet Jakarta juga digulirkan Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas yang memandu seminar itu maupun mantan Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Chrisynanda Dwi Laksana dalam kesempatan terpisah. “Saya berharap, semu pihak bertindak cepat ikut mengatasi masalah ini,” kata Darmaningtyas diamini peserta seminar yang jumlahnya mendekati lima ratus orang mewakili unsur masyarakat.

Pristono mengatakan, kata kunci dari upaya menurunkan tingkat kemacetan adalah mengupayakan agar pemakai kendaraan pribadi beralih naik angkutan umum. Dia pun menjanjikan tahun ini akan ada perbaikan terhadap angkutan umum. Dia mengakui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta gagal mengadakan 1.000 bus Transjakarta dan bus sedang sebagai pengumpan (feeder). Yang berhasil direalisasikan pada 2013 adalah 210 bus besar dan 346 bus sedang.

“Tahun ini akan didakan 1.000 bus Transjakarta dan 3.000 bus sedang. Ini adalah political will Gubernur DKI Jakarta untuk meningkatkan pelayanan angkutan umum massal. Semoga dananya disetujui oleh DPRD,” kata Pristono. Dia berharap, program itu mampu memenuhi harapan masyarakat yang menginginkan layanan angkutan umum massala yang sekali lagi aman, nyaman, terjangkau, dan bebas kemacetan.

Jika demikian, orang akan memarkir kendaraan pribadinya. Jika hal itu tercapai, kata Pristono, kehadiran mobil murah yang katanya ramah lingkungan (LCGC) itu tak banyak pengaruhnya. Barangkali, mobil-mobil murah itu hanya akan turun ke jalan pada hari-hari libur dan untuk mengangkut penumpang sekeluarga. (saksono)

Related posts