Suku Bunga Tinggi Perlambat Penetrasi PC

NERACA

Jakarta – Penetrasi komputer di Indonesia masih terbilang rendah bila dibandingkan penetrasi di negeri-negeri tetangga sesama anggota ASEAN. Hal ini ironis mengingat cakupan industri Information and Communication Technology (ICT) Indonesia telah mencapai angka lebih dari 90%.

Penetrasi PC seperti komputer meja, jinjing dan komputer tablet di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu hanya sebesar 5-6 persen. Artinya, dari 100 orang, hanya 5-6 orang yang mampu mengakses dan menggunakan PC. Banyak faktor yang menyebabkan masih rendahnya penetrasi PC di Indonesia. Secara global, rendahnya penetrasi ini bisa dilihat dari penggunaan internet serta kepemilikan dan penggunaan personal computer (PC). Untuk internet, Indonesia hingga saat ini masih berkutat untuk membangun penetrasi internet melalui jaringan broadband, baik fixed broadband maupun wireless atau mobile broadband. Faktor lainnya terkait dengan distribusi pemanfaatan teknologi yang masih terpusat di kota-kota besar. Ini tentu menjadi penyebab kesenjangan pemanfaatan teknologi di kalangan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Kesenjangan ini pula yang menyebabkan sebagian besar masyarakat merasa harga PC di tanah air masih terbilang mahal. Padahal, sejumlah vendor mengaku telah menjual PC dengan rentang harga beragam, mulai Rp 3 jutaan hingga belasan bahkan puluhan juta.

Memiliki PC juga semakin susah karena lembaga pembiayaan masih memungut bunga tinggi, di kisaran 35% hingga 40% per tahun. Selain itu, bagi masyarakat kebanyakan, mendapatkan kredit juga bukan perkara mudah. Tingginya bunga kredit ini jelas memberatkan kreditor. Apalagi rata-rata bunga kredit bank saat ini hanya 12%. Bunga ini juga masih lebih tinggi dari BI rate yang cuma 7,5%. Muhammad Ma’ruf, pemerhati Teknologi Informasi (TI), menilai, suku bunga lembaga pembiayaan atau multifinance masih terbilang tinggi. Padahal dari kacamata konsumen, selain memperoleh harga barang yang terjangkau, mereka mengharapkan tenor pembayaran yang lebih panjang dan bunga cicilan yang lebih lunak. Itulah sebabnya, kata Ma’ruf, konsumen mesti diingatkan dengan kondisi ini. “Jangan sampai mereka terlena hanya karena bisa mencicil tanpa harus membayar tunai sehingga melupakan jerat bunga multifinance yang tinggi ini,” ujarnya. Karena itu, Ma’ruf mendukung desakan agar suku bunga di lembaga pembiayaan bisa diturunkan, selain kemudahan akses memperoleh kredit tersebut. Rezim suku bunga murah akan mendorong perkembangan sektor riil, khususnya ritel. Suku bunga rendah juga membuat daya beli masyarakat juga meningkat sehingga ini akan mempercepat penetrasi komputer di masyarakat, terutama di kalangan menengah ke bawah. Direktur Marketing PT Acer Indonesia Daniel Rustandi juga mendukung agar multifinance mengoreksi suku bunganya yang tinggi. Maklum, dengan suku bunga rendah, tentu akan mempermudah akses kalangan menengah ke bawah untuk memiliki PC. “Mereka mendapat kemudahan pembayaran yang tidak lagi dilakukan secara tunai. Mereka bisa mencicil dengan harga dan bunga yang wajar,” ujarnya. Dia tak menampik bahwa keberadaan multifinance ini mampu mendongkrak pasar PC akan semakin bergairah. Tentu saja, bila bunga tidak setinggi sekarang, pasar dipastikan bakal makin bergairah.“Saya melihat tingginya suku bunga ini juga memperlambat penetrasi PC di kalangan masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah,” ujarnya. “Tapi jangan lupa, penurunan suku bunga ini juga harus diikuti dengan edukasi kepada masyarakat akan manfaat produk-produk TI terutama PC, smartphone dan tablet,” tambahnya. Daniel mengaku tidak terlibat langsung terkait dengan lembaga pembiayaan ini karena posisinya sebagai vendor, bukan agen. “Tugas kami sebagai vendor secara terus-menerus mengeluarkan produk-produk dengan harga terjangkau. Tugas agen yang menjualnya kepada masyarakat,” ujarnya. [bani]

Related posts