Pemanfaatan Bahan Baku lokal Bisa Tekan Impor

NERACA

Jakarta - Saat ini, kondisi perekonomian di dalam negeri sedang mengalami keterpurukan. Bahkan, sektor industri yang diandalkan pemerintah sebagai salah satu penggerak perekonomian sedang mengalami defisit perdagangan. Menurut data, hingga kini ada sekitar 13 sektor industri masih mengalami defisit. Ini terjadi karena, industri masih ketergantungan yang amat besar pada bahan baku impor.

Beberapa waktu lalu, Menteri Perindustrian mengatakan industri yang mengalami defisit perdagangan terbesar secara berturut-turut adalah industri besi dan baja, industri mesin dan otomotif, industri kimia dasar, industri elektronika, industri makanan ternak industri alat-alat listrik, industri pengolahan aluminium, industri pupuk, dan industri plastik, industri barang kimia, industri makanan minuman, dan produk farmasi.

Oleh sebab itu, Pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Latief Adam meminta agar pemerintah melakukan penguatan sektor industri hulu nasional dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal sebagai bahan baku secara maksimal untuk menekan lajunya impor bahan baku. “Pemerintah kurang memanfaatkan bahan baku lokal. Padahal, dengan cara seperti ini dapat mengurangi impor bahan baku yang selama ini masih cukup tinggi,” ujar Latief saat dihubungi Neraca, Rabu (8/1).

Lebih lanjut Ekonom dai LIPI ini mengatakan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, Indonesia harus segera menjalankan program hilirisasi industri dengan berbasis mineral logam.“Selama ini, pemerintah mempunyai roadmap yang jelas mengenai hilirisasi industri berbasis mineral logam. Hal ini harus segera dijalankan dan pemerintah bisa menarik investasi dari dalam maupun luar negeri,” katanya.

Lonjakan impor terjadi, lanjut Latief, karena beberapa waktu yang lalu telah terjadi kasus penahanan ribuan kontainer berisi scrap impor di pelabuhan yang menyebabkan produsen baja nasional mengganti bahan baku dengan billet yang harganya jauh lebih mahal.“Lonjakan impor yang didominasi bahan baku dan barang modal didorong oleh realisasi sejumlah proyek dan investasi,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Menperin bertekad untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku pada tahun ini."Fokus saya adalah memperkuat struktur industri. Saya berharap, pada 2014, kita sudah bisa menekan ketergantungan impor," kata Hidayat.

Menperin mengakui, hampir 50% kebutuhan barang modal dan bahan baku industri di dalam negeri masih didatangkan melalui diimpor. Padahal idealnya, kebutuhan itu harus dipenuhi di dalam negeri."Untuk mendorong pemenuhan bahan baku di dalam negeri, diperlukan berbagai insentif fiskal agar pelaku usaha berminat menginvestasikan dananya. Pemenuhan insentif tersebut telah disadari oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan diharapkan dapat mendorong pengembangan industri bahan baku di dalam negeri,"terang Hidayat.

Hidayat mengatakan ketergantungan impor barang modal dan bahan baku yang tinggi juga menjadi salah satu kelemahan struktur perdagangan nasional. Importasi barang modal dan bahan baku yang tinggi menjadi salah satu penyebab defisit perdagangan yang semakin bertambah. Untuk itu, pemerintah akan terus memperkuat pembangunan industri dasar di dalam negeri, terutama sektor petrokimia dan logam dasar.

Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Kemenperin, Benny Wachjudi mencontohkan, ketergantungan impor bahan baku petrokimia sudah mencapai US$ 5,8 miliar. "Kalau ketergantungan ini tidak segera diatasi, ketika terjadi pemulihan global dari krisis saat ini, kita tidak akan bisa mengejar karena sektor hulu kita tidak berkembang," ujar Benny.

Related posts