Industrialisasi Masih Jadi Fokus KKP di 2014 - Sektor Kelautan dan Perikanan

NERACA

Jakarta - Program industrialisasi kelautan dan perikanan dengan pendekatan ekonomi biru (blue economy) yang dicetuskan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menuai hasil positif sepanjang tahun 2013. Oleh karenanya, menapaki tahun 2014 konsentrasi kebijakan yang diambil KKP tetap konsentrasi pada Industrilasisasi dengan pendekatan ekonomi biru (blue economy).

Sharif C. Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan, mengatakan tema rencana kerja KKP pada tahun 2014 ini yaitu “Pembangunan Kelautan dan Perikanan untuk Penguatan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat melalui Industrialisasi dengan Pendekatan Ekonomi Biru” karena memang sesuai dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) KKP tahun 2013 konsep industrialisasi menjadi cerminan keberhasilan sektor kelautan dan perikanan nasional.

“Konsep industrialisasi dengan pendekatan ekonomi biru telah menuai keberhasilan yang lauar biasa di tahun 2013, makanya kami tetap konsentrasi dengan konsep itu di tahun 2014 ini,” katanya pada acara Chief Editors Meeting, di Jakarta, Rabu (8/1).

Capaian 2013

Sharif menjelaskan, dari data IKU KKP 2013, menunjukkan hampir semua program yang ditetapkan KKP dapat di selesaikan dengan hasil baik. Dimana, produksi perikanan tangkap mencapai 19,56 juta ton atau melampaui 12% dari target yang ditetapkan 17,42 juta ton. Produksi perikanan budidaya tahun 2013 mencapai 13,70 juta ton atau melampaui 17% dari target 11,63 juta ton. Demikian juga dengan produksi garam rakyat tahun 2013 mencapai 1,041 juta ton atau melampaui hampir 2 kali lipat dari yang ditargetkan KKP sebesar 545 ribu ton.

"Tingkat konsumsi ikan dalam negeri sebagai indikator utama tingkat konsumsi ikan nasional juga sudah mencapai 35,62 kg/kapita/tahun, naik dari 33,89 kg/kapita/tahun 2012 atau naik rata-rata 5,04% pertahun. Kenaikan ini juga diikuti dengan tumbuhnya nilai tukar nelayan yang sudah mencapai angka 104,34," jelasnya.

Sedangkan di bidang konservasi dan sumberdaya kelautan dan perikanan juga menunjukkan perkembangan positif. Dimana, luas kawasan konservasi perairan yang dikelola secara berkelanjutan mencapai 3.647 juta hektar atau melebihi dari target 3,6 juta hektar yang ditetapkan tahun 2012. Termasuk, jumlah penambahan kawasan konservasi perairan dari target 500 ribu hektar tercapai 689 ribu hektar atau melampaui target hingga 38%.

Adapun jumlah pulau pulau kecil termasuk pulau kecil terluar yang dikelola sebanyak 62 pulau atau melebihi dari target yang ditetapkan KKP sebanyak 60 pulau. “KKP juga menargetkan wilayah perairan bebas IUU Fishing dan kegiatan yang merusak sumberdaya KP dari target 40%, kini sudah tercapai 46,35%,” tegasnya.

Nilai ekspor hasil perikanan, lanjut Sharif, hingga data ini disampaikan sudah mencapai US$ 4,19 miliar. Kenaikan ini juga diikuti dengan menurunnya jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra tahun 2013 masih dibawah 10 kasus. Bahkan dari data pertumbuhan nilai ekspor dari 2011-2012 produk perikanan rata rata terjadi kenaikan hingga 11,62%, jauh diatas pertumbuhan ekspor Nasional yang hanya minus 6,25%.

Sebailkya, nilai impor perikanan dari 2011-2012 terus mengalami penurunan hingga -15.49% jauh dibawah nilai impor nasional yang mencapai 9,40%. “Dari data tersebut, neraca perdagangan tahun 2012 perikanan surplus US$ 3,52 miliar atau 81,11% dari total transaksi perdagangan impor, jauh diatas Neraca perdagangan nasional yang defisit US$ -1,33 miliar,” katanya.

Sharif menegaskan, program industrialisasi kelautan dan perikanan memang sudah menjadi konsen KKP. Untuk itu upaya peningkatan kinerja ekspor terus dilakukan. Diantaranya, KKP telah melakukan peningkatan utilitas kapasitas industri untuk 6 komoditas utama. Yakni ikan kaleng cakalang (canned tuna), ikan kaleng sardine (canned sardine), Ikan tuna loin segar dan beku (fresh and frozen tuna loin), udang beku dan olahan, Katsuebushi Cakalang dan tuna rebus.

Selanjutnya KKP juga melakukan perluasan dan diversifikasi produk ekspor, Compliance terhadap standar dan persyaratan pasar internasional, Promosi dan branding produk ekspor serta penanganan hambatan ekspor baik tarif maupun non tarif. “Prinsipnya ekspor hasil perikanan telah diarahkan pada produk bernilai tambah, dengan meningkatnya harga rata rata produk perikanan,” ujarnya.

Keberhasilan kinerja KKP juga ditunjukkan pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Perikanan yang terus mengalami kenaikan. Dari data sementara tahun 2013, PDB Perikanan mencapai 6,45%. Data ini menunjukkan perkembangan PDB perikanan tumbuh diatas pertumbuhan ekonomi nasional. Dimana laju pertumbuhan PDB tahun 2013 dari data triwulan III, PDB Perikanan sudah mencapai 6,45, masih jauh diatas pertumbuhan PDB Pertanian 3,27% dan PDB Nasional 5,82%. “Apabila dibandingkan dengan tahun 2012 sampai triwulan III, nilai PDB Perikanan naik sebesar 6,42% yakni dari Rp 42,8 Triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 45,4 triliun tahun 2013,” tambahnya.

Keberhasilan pelaksanaan program KKP juga tidak terlepas dari komitmen peningkatan kinerja yang profesional dan transparan dilingkungan KKP. Terbukti dari penilaian akuntabilitas keuangan dan kinerja, laporan keuangan KKP mendapat penilaian wajar tanpa pengecualian. KKP juga memperoleh nilai sangat baik atau nilai A dalam penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Bahkan prestasi ini menjadikan KKP satu satunya pembina sektor yang memperoleh penghargaan Akuntabilitas sangat baik.

Sedangkan Penilaian Pelayanan Publik, nilai integritas KKP mencapai 7,12 atau naik dari 6,68 di tahun 2012. Untuk kegiatan anti korupsi, KKP mendapat nilai inisiatif Anti Korupsi 7,6 naik dari 7,4 ditahun 2012. Penghargaan lain juga diberikan presiden RI, berupa penghargaan Karya Iptek Anak Bangsa pada acara Harteknas ke 18, yakni penemuan vaksis Hydrovac dan Streptovic. Termasuk, Anugerah Parahita Ekapraya (APE) pada puncak peringatan Hari Ibu tahun 2013 atas prestasi pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) di KKP dan Herudi Technical Committee Award 2013 dari Badan Standarisasi Nasional untuk perumusan SNI Produk Perikanan.

Sharif menambahkan, anggaran APBN KKP tahun 2014 sebesar Rp 6,52 triliun atau turun dibanding anggaran tahun 2013 sebesar Rp 7,09 triliun. Dengan APBN tersebut KKP tetap memberi target untuk peningkatan PDB Perikanan 7,25 Nilai tukar nelayan/pembudiaya ikan 112/105 dan Tingkat konsumsi ikan dalam negeri menjadi 38,00 kg/kapita/tahun. Sedangkan untuk produksi perikanan tangkap ditarget sebesar 6,08 perikanan budidaya 13,97 serta produksi garam rakyat ditingkatkan menjadi 3,30 juta ton.

Nilai ekspor hasil perikanan akan dinaikkan US$ 5,65 miliar. Sebaliknya jumlah kasus penolakan ekspor ditekan dibawah 10 kasus. Target lain, diantaranya untuk luas kawasan konservasi perairan yang dikelola secara berkelanjutan seluas 4,5 juta hektar dan jumlah penambahan kawasan konservasi 500 ribu hektar. “Termasuk jumlah pulau pulau kecil termasuk pulau pulau kecil terluar dikelola 30 pulau dan wilayah perairan bebas IUU Fishing dan kegiatan yang merusak sumberdaya kelautan perikanan ditarget mencapai 39%,” tuturnya.

Beri Penghargaan

Dalam acara Chief Editors Meeting kali ini, Menteri Sharif juga memberikan penghargaan kepada media yang dinilai paling banyak memberitakan seputar isu maupun berita tentang kelautan dan perikanan nasional. Secara berurutan, media yang menerima penghargaan tersebut yaitu Bisnis Indonesia, Kompas, dan Harian Ekonomi Neraca.

“Bagi kami media merupakan mitra kerja bagi KKP, karena semua arah kebijakan, kinerja, program-program dari KKP tidak pernah sampai kalau tidak diberitakan oleh media. Oleh karenanya, saya selaku Menteri Kelautan dan Perikanan mengucapkan banyak terimakasih kepada semua media yang telah bekerjasama dan bermitra membangun kelautan dan perikanan nasional,” tuturnya.

Related posts