2014, Indikator Makro Ekonomi Masih Dilingkupi “Awan Hitam”

NERACA

Jakarta - Tahun lalu, perekonomian Indonesia mengalami perlambatan. Hal ini ditandai dengan defisit perdagangan yang makin tergerus sehingga menyebabkan defisit transaksi berjalan kian melebar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi terkoreksi di bawah enam persen serta inflasi yang melonjak dan rupiah terus melemah. Apakah pada 2014 terjadi perubahan ekonomi ke arah positif?

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati mengaku pesimistis. Dia pun menilai tidak ada bedanya pertumbuhan ekonomi antara 2013 dan 2014. Enny melihat bahwa proyeksi ekonomi Indonesia tahun ini sangat mungkin meleset dari proyeksi yang dibuat Pemerintah. Pasalnya, sepanjang tahun kemarin tidak terlihat Kebijakan Pemerintah yang mampu mendorong stimulus fiskal untuk pertumbuhan yang tinggi dan berkualitas.

Maka tak heran, Enny berani menyebut kalau ketidakmampuan dan ketidakberdayaan Pemerintah ini masih terus berlangsung di tahun ini. “Saya pastikan stimulus fiskal gagal total dalam penggunaan APBN 2013. Dengan target belanja Pemerintah hingga Rp1.600 triliun, ternyata kontribusinya hanya 10% terhadap pertumbuhan,” jelas Enny kepada Neraca, Selasa (7/1).

Lebih jauh dia mengungkapkan, jika dibandingkan PDB Indonesia yang mencapai sekitar Rp7.000 triliun seharusnya bisa diatas 10%. Pemicu tidak tercapainya target belanja Pemerintah karena Pemerintah sendiri tidak bisa mengelola anggaran dengan baik dan benar. Hal ini terbukti dari serapan Kementerian dan Lembaga (K/L) yang tidak lebih dari 95% dan tidak berkualitas dengan banyak “buang-buang” anggaran di akhir tahun.

Maka dari itu, Enny menilai proyeksi pertumbuhan 2014 versi Pemerintah sebesar 6% masih sangat berpotensi jauh lebih rendah. Perlu diketahui, 20% dari APBN telah tersandera oleh belanja subsidi dan bayar bunga utang. “Sangat sedikit yang dialokasikan untuk pembangunan jangka panjang. Saya rasa masih ada peluang besar yang dapat membuat pertumbuhan lebih rendah dari 6%,” terangnya.

Begitu pula dengan target inflasi Pemerintah di 2014 sebesar 5,5%, Enny melihat, ada peluang besar yang membuat inflasi tahun ini lebih besar dari proyeksi Pemerintah. Terlebih tekanan pada sektor pangan diprediksi akan semakin meningkat.

“Tekanan pada bahan pangan secara global di tahun 2014 akan meningkat seiring dengan meningkatnya harga energi. Masalahnya untuk memenuhi pangan saja kita sangat tergantung oleh impor. Jadi saya kira ancaman inflasi di tahun 2014 tetap akan tinggi,” tutur Enny.

Dia juga menambahkan, tahun lalu, Pemerintah memproyeksikan inflasi ada di level 5,5%, namun kenyataannya, hingga akhir 2013 bertengger di level 8,3%. Hal ini terjadi lantaran disebabkan oleh administrated price (harga dasar yang ditentukan Pemerintah) seperti kenaikan harga BBM, gas serta melonjaknya suku bunga acuan atau BI Rate.

“Bisa saja inflasi akhir tahun 2014 tetap di level 8,3%, mengingat struktur pangan kita sangat dikendalikan oleh mekanisme pasar. Sedangkan secara natural, kebutuhan pangan pokok juga terus meningkat. Sementara Pemerintah juga tidak memiliki peran dalam mengendalikan pangan, kecuali beras. Saya kasih contoh, akibat harga bawang naik inflasi mencapai 2% tahun kemarin,” terang Enny.

Deindustrialisasi Dini

Tak hanya itu, Enny menyebut bahwa Indonesia sudah mengalami fenomena deindustrialisasi dini atau negara yang industrinya tertinggal di landasan. Pasalnya, negara yang keluar dari middle income trap dapat membuat industri di dalam negerinya memiliki peran sebanyak 30% terhadap pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan.

“Sementara Indonesia, belum juga sampai angka tersebut sudah melemah. Porsi peran industri dalam negeri terhadap akselerasi ekonomi sangat minim. Peran industri kita baru sampai 24% terhadap PDB tapi langsung melemah. Bahkan, dari tahun ke tahun semakin turun porsinya mengingat banyak perusahaan berbasis industri bertransformasi jadi berbasis jasa,” paparnya.

Kurang berkualitasnya peran industri dalam negeri juga membuat Indonesia kerap bermasalah dengan defisit transaksi perdagangan dan defisit transaksi berjalan.” Industri kita sangat bergantung pada bahan baku impor. Jadi, saya masih pesimistis tahun 2014 bisa surplus. Untuk meminimalisir defisit saja itu sudah bagus,” katanya, seraya menyindir.

Meski begitu, Enny melihat masih ada “titik terang” untuk meminimalisir defisit perdagangan dan defisit neraca pembayaran tahun ini. Pasalnya, menurut dia, komoditas ekspor dalam negeri mulai membaik. Dengan demikian, terdapat harapan untuk mengurangi dua defisit tersebut.

“Mungkin (pengurangan defisit) tidak terlalu besar dampak perbaikannya. Karena nilai ekspor kita juga akan terus terbebani oleh impor migas. Sedangkan kita tidak memiliki substitusinya pada komoditas itu. Lagipula perlu diketahui juga, dengan adanya defisit perdagangan dan neraca pembayaran, sudah menjadi bukti kalau kita masih terjebak dalam middle income trap," tandasnya. lulus/ardi

Related posts