OJK Didorong Mengelompokkan Bank Berdampak Sistemik

NERACA

Jakarta - Industri perbankan nasional meminta Otoritas Jasa Keuangan untuk mengelompokkan bank yang memiliki dampak sistemik atau systemically important bank (SIB). Pengkategorian ini juga harus diawasi lebih ketat yang bertujuan agar bank tidak membahayakan perekonomian Indonesia.

Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Bidang Perbankan, Mulya Effendi Siregar mengatakan, saat ini OJK mencatat terdapat 15 bank yang memiliki aset besar dan memiliki anak usaha yang terinterkoneksi. Dia juga menjelaskan, untuk pengawasan SIB domestik, ada beberapa kriteria yang harus dilengkapi. “Pertama ukuran atau size perbankan itu sendiri. Kedua kriteria interconnectivity-nya. Ketiga terkait dengan complexity, dan keempat, mengenai substitutability,” katanya di Jakarta, Senin.

Dengan empat kriteria tersebut, tambah Mulya, akan menentukan bank mana yang akan jadi perhatian OJK. “Yang kami awasi itu terdapat 15 bank besar, namun bukan SIB tapi hanya untuk mempermudah kami ketika mengelompokan bank yang memiliki dampak sistemik,” tuturnya.

Ke depan, Mulya menambahkan, pengawasan akan lebih difokuskan kepada perbankan yang memiliki konglomerasi atau anak usaha, misalnya seperti asuransi. Karena, dengan hal itu, OJK akan lebih mudah ketika melakukan pengawasan yang terintegrasi dan menyeluruh.

Sayangnya, Mulya belum bisa menyebutkan bank-bank mana saja yang bisa berdampak sistemik. "Bank yang memiliki risiko sistemik akan mendapatkan pengawasan dengan lebih ketat. Jika salah satu dari 15 bank dengan total aset terbesar itu masuk kriteria SIB, maka pengawasan terhadap bank tersebut akan mengacu pada global systematically important banks (GSIB)," jelas dia.

Namun akan ada sedikit modifikasi untuk aturan SIB domestik. "Untuk yang global, tampaknya bank nasional Indonesia belum ada yang mengglobal. Jadi tentukan kriteria domestik SIB. Semua masih dalam proses, akan diskusikan dengan perbankan mengenai ide ini," tambah Mulya.

Sebelumnya, OJK memang berencana mengeluarkan kriteria terkait bank yang berdampak sistemik. Komisioner OJK Bidang Perbankan Nelson Tampubolon menjelaskan, bank dengan status atau level bank umum berdasarkan kegiatan usaha (BUKU) IV atau bank besar, berpotensi memenuhi syarat dan kriteria sebagai bank dampak sistemik.

Namun, dia menjelaskan penetapan tersebut tidak hanya pada status BUKU bank, bisa saja bank umum dengan BUKU III memenuhi syarat dan kriteria sebagai bank berdampak sistemik. Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan OJK akan bekerjasama mengawasi bank berdampak sistemik.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad, mengatakan bank yang berdampak sistemik tidak hanya memiliki kepentingan mikro, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas sistem. Karena itu, bank sentral dan OJK akan mengembangkan kemampuan mengawasi perbankan secara terintegrasi.

Sesuai dengan Undang-Undang (UU) OJK, Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah mengatakan BI memiliki tugas untuk menjaga kestabilan sistem keuanga, termasuk mengawasi gerak bank berdampak sistemik. OJK dan BI mengidentifikasi bank-bank yang termasuk dalam SIB. [sylke]

Related posts