Investor Diminta Waspadai Isu Dalam Negeri

NERACA

Jakarta- Kekhawatiran mengenai sederet permasalahan makro ekonomi dalam negeri di tahun ini tidak bisa tidak masih akan mempengaruhi kondisi pasar keuangan dalam negeri, tidak terkecuali pasar modal. Pelaku pasar dinilai perlu mewaspadai beberapa kendala antara lain defisit neraca perdagangan, tingkat inflasi, dan kurs nilai tukar rupiah. “Yang harus diperhatikan investor khususnya isu dalam negeri, seperti defisit neraca perdagangan, defisit APBN.” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito di Jakarta, Selasa (7/1).

Dampak kondisi perekonomian, menurut dia, bisa dilihat dari tahun-tahun sebelumnya sehingga menjadi tugas pemerintah untuk menjaga kondisi perekonomian dalam negeri. Sementara dari sisi gejolak politik, masyarakat dinilai sudah mampu untuk bersikap dewasa. Pada 2004 lalu misalnya, kata dia, IHSG naik 40%, sedangkan pada 2009 mencapai hampir 87%.

Oleh karena itu, di tahun politik ini, dia pun optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mengalami kenaikan. "Kami perkirakan pada tahun ini rata-rata transaksi perdagangan capai Rp 7 triliun ini gambaran optimistis kami,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, setelah tembus support gap 4.274-4.287, tren jangka pendek memang sudah berubah jadi tren turun. Akan tetapi, IHSG yang sudah sampai di 4.190-an kemarin yang merupakan retracement 61%, belum juga terlihat adanya signal reversal. “Kita hanya bisa berharap dari tren jangka menengah yang support-nya di 4.154 itu,” katanya.

Dia pun mempertanyakan, apa yang sebenarnya mempertakut pasar. Fraksi harga barukah, kenaikan LPG, UU Minerba, atau Regional? “Kenaikan LPG sudah dikurangi. Tapi market belum juga menunjukkan adanya bottom yang kuat. Udah gitu, Hang Seng Index (HSI) malah ditutup di level terendah baru. Kalau sudah begini, signal-nya tidak bagus. Regional masih menunjukkan potensi koreksi,” tuturnya.

Senada dengan Satrio, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang menilai, semakin tidak kondusifnya iklim politik di tanah air, ditambah negatifnya sentimen yang datang dari luar negeri membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mengalami hambatan untuk memenuhi keinginan penguatannya. “Secara teknikal pun IHSG menunjukkan tren bearish yang artinya masih berpeluang kembali tergerus.” ucapnya.

Selain itu, sentimen yang berhembus dari luar negeri juga diproyeksi akan berkontribusi pada pelemahan IHSG. Terlihat, sebelum mencapai fokus utama pekan ini yakni release hasil FOMC Minutes di Rabu dan data Payrolls pada Jumat, investor sudah terlebih dahulu kecewa atas release data ISM Non-Manufacturing Desember.

Sementara dari dalam negeri, lelucon politik terkait gonjang ganjing harga elpiji 12 kg di tengah kejatuhan EIDO (Indosesia ETF) sebesar -1.18% dan kejatuhan Dow Jones sebesar -44,89 poin (-0,27%) disertai kebijakan fraksi harga yang membuat semakin tidak menarik bagi para trader. (lia)

Related posts