KKP : Indonesia Bisa Lebih Besar dari Singapura - Ekspor Ikan Hias

NERACA

Bekasi – Nilai transaksi ekspor perikanan non konsumsi secara skala international diperkirakan sebesar US$ 250 juta per tahunnya, nilai ekspor tertinggi dipegang oleh Singapura sebesar US$ 60 juta. Sedangkankan Indonesia sepanjang tahun 2013 hanya mengantongi sekitar US$ 21 juta atau hanya sepertiganya saja, padahal ikan singapura 60% didatangkan dari Indonesia.

Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Saud P Hutagalung mengatakan selain ikan konsumsi, potensi ekspor ikan non konsumsi juga besar. Saat ini Singapura merajai untuk ekspor non konsumsi, padahal ikannya didatangkan dari Indonesia. Seharusnya ekspor non konsumsi Indonesia lebih besar dari Singapura. “Kita bisa lebih besar dari Singapura, karena ikan dari Singapura saja didatangkan dari Indonesia,” katanya saat kunjungan ke PT Kampung Ikan, di Bekasi, Selasa (7/1).

Saud mengomentari mengapa bisa Singapura lebih besar mendapatkan dana dari ekspor ikan non konsumsi, hal itu terjadi karena Singapura sudah mempunyai sarana dan prasarana yang lebih menunjang, seperti sudah punya pesawat khusus untuk ekspor, logitik yang memadai, dan manajemen yang sudah rapi. Sedangkan di Indonesia, kata dia, sarananya belum semuanya mendukung. “Ekspor ikan non konsumsi, seperti ikan hias harus dalam kondisi hidup. Sedangkan dikita transportasi untuk itu masih terbatas, selain itu juga logistik yang belum mumpuni,” imbuhnya.

Oleh karenanya, sambung Saud, pihaknya akan terus menggenjot produksi, serta memberikan konsentrasi untuk pembenahan sarana dan prasana sehingga tidak lagi mengandalkan Singapura untuk ekspor ikan non konsumsi namun langsung ke negara tujuan. “Kita sedang berbenah, dan konsen untuk penataan sarana dan prasarana jika itu teralisasi semua, saya yakin kita bisa mengalahkan Singapura untuk ekspor ikan non konsumsi,” tegasnya.

Berdasarkan data, setiap tahunnya nilai perdagangan produk perikanan nonkonsumsi terus meningkat, dengan capaian pada tahun 2011 adalah Rp565 miliar dari target sebesar Rp350 miliar (161,43 %) dan mengalami peningkatan pada tahun 2012 sebesar Rp1,4 triliun dari target sebesar Rp1 triliun, sementara capaian pada tahun 2013 adalah Rp1,7 triliun dari target Rp1,5 triliun.

Sedangkan untuk sebaran distribusi nilai perdagangan produk perikanan nonkonsumsi menurut provinsi terbesar pada tahun 2012 terdapat pada Jawa Timur (Rp576 miliar atau 41%), Jawa Barat (Rp19 miliar atau 19%), Nusa Tenggara Barat (Rp182 miliar atau 13%), Daerah Istimewa Yogyakarta (Rp149 miliar atau 11%) dan Kalimantan Barat (Rp102 miliar atau 7%). Dari 17 komoditas yang ditangani oleh Direktorat Pengembangan Produk Nonkonsumsi, Ditjen P2HP nilai perdagangan produk nonkonsumsi terbesar pada tahun 2012 adalah ikan hias sebesar Rp815,4 milyar rupiah atau (58 %) dan mutiara dengan nilai sebesar Rp183 milyar rupiah atau 13 %.

Jaring Pasar

Dalam kesempatan yang sama, Direktur PT Kampung Ikan, Sutoyo mengatakan saat ini pihaknya telah mempunyai pasar terutama untuk ekspor ikan hias sebanyak 9 negara, namun demikian melihat potensi permintaan dari luar masih sangat besar maka tinggal bagaimana menyakinkan buyer-bayer untuk bisa langsung membeli dari Indonesia bukan dari Singapura lagi. “Potensi pasar sangat besar untuk ekspor ikan konsumsi, tinggal bagaimana pintar-pintar kita saja untuk menjaring pasar ikan non konsumsi international,” katanya.

Dan dengan potensi ikan hias nasional, lanjut Sutoyo kita bisa mampu menyaingi Singapura, karena memang produksi ikan hias Indonesia banyak diminati oleh pasar International. “Mimpi besar saya adalah bisa menyaingi bahkan melebihi Singapura untuk ekspor ikan hias,” tegasnya.

Adapun memang kendala saat ini, memang Indonesia belum sebesar Singapura dalam hal fasilitas, hanya saja itu bisa dibangun sambil berjalan. “Kalau tekad kita kuat saya yakin kita mampu. Fasilitas di Singapura memang sudah memadai, tapi kita tidak perlu minder, karena kita sudah punya modal produksi ikan yang lebih baik dibandingkan singapura. Fasilitas bisa sambil jalan,” tuturnya.

Related posts