Ketimpangan Penghasilan Buruh dan Selebriti - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Semua orang tahu betapa saat ini penghargaan terhadap pelaku dunia hiburan sangat tinggi. Ada pekerja hiburan (selebriti) yang sekali tampil di layar TV bisa memperoleh penghasilan puluhan juta rupiah. Padahal saat tampil di TV yang bersangkutan hanya sekedar joged-joged dan jika berbicara, melawak atau beradegan sering menampilkan hal-hal yang kurang pantas meski penonton yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Tetapi apa yang dialkukannya justeru hanya untuk bahan tertawaan, mulai dari meledek dengan kata-kata yang tidak pantas, melecehkan secara fisik lawan mainnya hingga merias diri dan perilakunya bak wanita.

Anehnya, menurut TV tersebut tayangan-tayangan usil semacam itu memiliki rating tinggi sehingga diperthankan dan bahkan bertambah modelnya dengan format lain tetapi jenisnya sama. Pihak TV pun mengikuti "selera rendah" ini dengan lebih memberi porsi tayangan-tayangan semacam itu di program-program acara TV.

Alhasil. jadilah seolah-olah dunia TV kita tak lepas dari kehidupan berinterkasi yang tertawa terkekeh-kekeh, joged menari, hiruk pikuk, tiada hari tanpa suasana keramaian yang jauh dari sifat edukasi bahkan mengajak generasi mudah bersantai ria, tidak ada upaya membuat tayangan kreatif yang cenderung menguji kreatifitas dan kecerdasan dalam mengisi pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat.

Tayangan-tayangan yang ada di TV-TV kita ini tentu bernilai rupiah yang sangat tinggi, sekali tayang bisa jadi ratusan juta rupiah digelontorkan meski untuk itu pihak sponsor mampu menutupinya. Hanya saja tayangan-tayangan yang tidak mendidik jangan sampai dibiarkan walaupun nilai rupiah dan ratingnya sangat tinggi. Mesti ada kepedulian dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini.

Ketidakadilan dalam pekerjaaan ditunjukkan di negeri kita ini, coba bayangkan buruh-buruh kita yang bekerja berjam-jam di pabrik dengan aturan perusahaan yang demikian ketat masih sulit meminta upah diatas Rp 3 juta perbulan.

Pihak majikan atau pengusaha masih saja berkilah dan berlindung pada alasan bahwa produktivitas buruh diperlukan jika ingin upahnya meningkat meski keuntungan perusahaan sudah demikian besar. Sementara itu di dunia hiburan TV seperti yang dipaparkan diatas seorang pekerja hiburan pada acara TV sekali tayang bisa puluhan kali lipat upah buruh perbulan.

Betapa tidak adilnya penghargaan pemerintah dan masyarakat atas jenis pekerjaan yang dilakukan sesama warga negara di negeri ini. Buruh yang bekerja sangat berat, serius dan penuh resiko hanya dibayar amat minim sekali dibanding selebirit yang tampil sekali di tayangan hiburan TV.

Padahal kita tahu sendiri apa yang dikerjakan selebirti itu tidak berkeringat bahkan mereka sering melakukan ucapan-ucapan keliru yang fatal tetapi tidak ada yang menggubrisnya, sehingga tuntutan hukum terhadap selebirit itu rendah, penampilannya tidak mendidik sementara penghasilannya besar apalagi bila dibandingkan pekerja-pekerja di pabrik. Sungguh kita mempertontonkan ketidakadilan terhadap sesama warga negara yang berhak mendapatkan kesejahteran dalam kemakmuran dan keadilan.(uin-malang.ac.id)

Related posts