Pemimpin Tunakuasa - Oleh: Kumarudin, Aktivis HMI IAIN Walisongo Semarang

Dalam beberapa dekade terakhir, sering terdengar sedang terjadi krisis kepemimpinan. Konsekuensinya, sosok pemimpin yang ideal, yaitu mampu menjadi panutan, mengayomi, melindungi, dan siap menjadi 'budak' rakyat, bahkan menjadi problem solver (pemecah permasalahan) rakyat, pun kini jarang dan sulit ditemui.

Di era materialistik ini, yang tolok ukur atau acuannya selalu pada sesuatu yang berbau materi, tentunya tidak dibenarkan. Sebab, cara berfikir demikian maka orang akan memandang segala sesuatu dengan sebelah mata. Orang akan memandang orang lain hanya dengan materinya, sehingga yang benar bisa menjadi salah. Sebaliknya, yang salah bisa menjadi benar. Misalnya saja, orang yang pesek bisa menjadi mancung dan yang pendek menjadi jangkung, dan semua itu sangat mungkin hanya bermodalkan materi.

Nah, begitu juga dengan pemimpin dewasa ini, yang telah hilang jiwa kepemimpinannya. Yang ada hanyalah orientasi sesat. Para pemimpin, kini mau dan ingin memimpin tidak lagi didasarkan pada hati nurani, sehingga yang terjadi hanyalah penyelewengan-penyelewengan. Mereka hanya haus kekuasaan, sehingga memimpin lebih didorong oleh keinginan menjadi penguasa, mendapatkan tahta, dan harta tanpa didasari niat untuk melakukan perbaikan. Oleh sebab itu, kini para pemimpin berlomba untuk memperkaya diri, dan menyejahterakan diri, tanpa memandang kepentingan rakyat.

Seorang pemimpin diakui eksistensinya memiliki urgensi yang signifikan. Menurut Muhammad Dhiya al-Din al-Rayis, urgensi pemimpin di antaranya adalah pertama, melanjutkan misi Islam sepeninggal Nabi Muhammad SAW, sehingga ajaran yang dibawanya dapat terus dijalankan dengan baik. Kedua, melindumgi masyarakat dari berbagai macam mudharat, semisal kekacauan, persengketaan, peperangan, fitnah, pertumpahan darah, anarki dan kehancuran dalam berbagai dimensi kehidupan. Ketiga, untuk merealisir kewajiban-kewajiban agama (yang pelaksanaanya memerlukan campur tangan penguasa, semisal membela orang yang teraniaya. Keempat, untuk mewujudkan keadilan sempurna dan menjamin tercapainya keinginan rakyat untuk menggapai kehidupan dunia akhirat.

Dari pendapat tersebut telah menggambarkan bahwa pemimpin memiliki peranan yang sangat besar, yaitu untuk menyelenggarakan berbagai tugas kehidupan dalam negara, agar negara tersebut dapat berjalan dengan baik, tertib, aman, damai, dan teratur. Tidak hanya itu, pemimpin juga akan mengelola, memimpin, dan mengurus segala permasalahan rakyatnya. Sehingga berbagai kepentingan masyarakat akan tercapai. Sebaliknya, jika tidak ada seorang presiden, maka keadaan dalam suatu negara tidak menutup kemunginan akan terjadi banyak konflik, diantaranya, pertikaian, penindasan, peperangan dan pembunuhan atau pertumpahan darah, yang akan berdampak kehancuran di dalam suatu negara tersebut.

Bahkan keurgenan adanya pemimpin tidak hanya disampaikan oleh para pakar-pakar maupun para ahli, melainkan juga terdapat pada teks-teks normatif yang dijadikan pedoman hidup, seperti Al-Qur'an dan Al-Hadist.

Tunakuasa

Memimpin adalah pengemban tugas suci, yaitu melaksanakan amanah rakyat. Maka, pemimpin memiliki tanggung jawab besar, mengingat pemimpin harus mengakomodir kepentingan seluruh umat, tidak hanya golongan tertentu. Sehingga pertanggungjawabannya pun tidak hanya dengan rakyat semata, melainkan juga dengan Tuhan YME di akhirat kelak.

Dalam menjalankan tugas suci itu, seorang pemimpin selalu berhadapan dengan cobaan dan godaan terutama yang mengarah pada hal-hal yang dinilai sebagai keburukan. Mengutip pendapat Ibnu Khaldun, setidaknya godaan yang mengikuti sosok pemimpin, terkait dengan kekuasaanya, di antaranya adalah, pertama, adanya faktor kemegahan. Argumenntasinya, karena dasar sifat manusia yang memiliki nafsu, maka sangat wajar jika setiap manusia ingin disembah, dihormati, disanjung, dan lain sebagainya. Apabila dia datang ke suatu wilayah, dilakukan penyambutan melalui seremonial dengan mata acara serba wah sehinga tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja. Dalam hal inilah, maka jiwa kemegahan dari seseorang akan muncul.

Kedua, bagi seseorang yang memiliki kekuasaan, maka godaan yang selalu ada adalah harta yang selalu datang. Ini tidak bisa dipungkiri. Harta itu tidak lain dari orang-orang dengan kepentingan terselubung (jahat), yang silih berganti menghampiri untuk mendapatkan sesuatu. Oleh sebab itu, tidak heran jika ada riswah (suap), korupsi, dan sebagainya. Dengan demikian, maka tentu benar apa yang dikatakan sejarawan dan filosof Inggris, John Emerich Edward Dalberg Acton, Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan pada penyelewengan.

Ketiga, seorang pemimpin tidak akan lepas dari godaan wanita. Sehingga wajar jika dewasa ini banyak di antara pemimpin terjebak dalam berbagai kasus korupsi dan perselingkuhan dengan para wanita. Atau jika menilik kondisi saat ini, yang ada adalah bentuk suap berupa gratifikasi seks. Bahkan, tidak bisa dipungkiri bahwa akibat wanita seseorang dapat melakukan apa saja. Misalnya Syekh Jehan membuat Tajmahal sebagai hadiah untuk meminang isterinya padahal, konon biaya bukan main besarnya dan banyak nyawa melayang.

Dewasa ini banyak para pemimpin (wakil) rakyat yang terjebak pada kekuasaan dan kekuasaan itu dijadikan sebagai ladang instan mencari kekayaan, mencari kesenangan semu, tanpa memahami maksud dari mengapa ia diberi kekuasaan. Kebanyakan pemimpin lebih mengedepankan hal-hal duniawi, mereka menyembah bukan kepada Tuhan YME lagi tetapi seperti kata Nurcholish Madjid, mereka kini menyembah berhala modern, seperti harta, tahta, wanita, jabatan, kekuasaan, dan lain-lain. (haluankepri.com)

Related posts