Dorong Ekspor, Indonesia Perlu Tingkatkan Investasi Di Luar Negeri

NERACA

Jakarta – Indonesia dijadikan sebagai negara tujuan investasi. Tak ayal, lembaga pemeringkat seperti Moody's sempat menyempatkan bahwa Indonesia masuk sebagai investment grade yang artinya layak untuk investasi. Namun, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi memandang para investor dalam negeri diharapkan untuk investasi di luar negeri. Pasalnya dengan begitu maka kinerja ekspor akan terbantu dengan adanya investasi Indonesia di luar negeri.

Manurut Bayu, pada tahun ini Indonesia perlu mengambil beberapa langkah besar terkait dengan perdagangan. Salah satu diantaranya adalah memperbesar investasi di luar negeri. “Indonesia harus mulai memikirkan investasi di luar negeri. Di dunia perdagangan itu, trade will follow investation. Jadi ini kita harus mulai berani investasi dalam bentuk gudang, atau packanging, dan lain-lain," katanya di Jakarta, Selasa (7/1).

Tak hanya memperbesar investasi, Bayu juga mengatakan guna memperbesar kapasitas ekspor maka diperlukan optimalisasi hap (penghubung atau simpul) perdagangan. Ia mencontohkan untuk ekspor barang ke Amerika maka Indonesia dapat membuat hap ini di Dubai. Dengan demikian, maka para eksportir dapat melakukan efisiensi jarak. Selain lebih mudah dijangkau, fasilitas yang ada di sana juga sangat baik sehingga dapat mendukung kelancaran jalannya proses perdagangan. “Tapi hap ini harusnya orang Indonesia untuk memfasilitasi ekspor dari Indonesia ke Amerika. Itu strategi simpul,” urainya.

Bayu melanjutkan, saat ini pihaknya terus berusaha memperluas jaringan untuk membuat hap-hap tersebut di luar negeri. Meski belum memiliki program konkrit, Bayu mengaku telah mulai mengidentifikasi peluang tersebut untuk dapat membuka celah realisasi yang lebih besar. “Kita akan mengidentifikasi ini (hap), bisa yang besar dan bisa juga kecil. Misalnya dengan mendekati pemenang-pemenang impor Indonesia di sana,” katanya.

Selain dua permasalahan tersebut, hal lain yang harus menjadi perhatian dan perlu semakin digiatkan adalah dengan memunculkan pengusaha-pengusaha muda Indonesia yang baru untuk masuk ke pasar luar negeri dan melebarkan sayap ekspor Indonesia. “Kita dorong mereka untuk berangkat ke negara-negara itu untuk melihat peluang,” tambahnya.

Di akhir Bayu juga menekankan, hal utama yang juga tak kalah penting dalam maksimalisasi sektor ekspor Indonesia adalah maksimalisasi upaya perluasan jaringan dan peluang melalui perjanjian-perjanjian dengan negara lain. “Jadi mengekspor ke negara-negara itu gak mudah. Tapi kita dapat menggunakan perjanjian-perjanjian, antara lain hasil WTO di Bali. Dengan demikian kita punya celah untuk masuk kesana, maupun juga melalui perjanjian bilateral, multilateral. Ini kita coba gali untuk mendukung ekspor kita ke negara-negara tersebut. Kita mulai dengan Chili, Peru, dan negara-negara lain,” pungkasnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan pihaknya sangat mendukung dan memandang investasi perusahaan Indonesia di luar negeri sebagai hal yang patut dipuji dalam proses liberalisasi perdagangan dan globalisasi. Ia memandang investasi perusahaan Indonesia di luar negeri akan menjamin penyuplaian bahan mentah produksi dan pangsa pasar melalui peningkatan bisnis.

Hal ini juga akan meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia. Dahlan Iskan memperingatkan perusahaan Indonesia agar memahami hukum negara destinasi investasi, khususnya undang-undang perdagangan dan undang-undang ketenagakerjaan lokal. Perusahaan juga dianjurkan untuk bekerja sama dengan perusahaan lokal dan mewujudkan prinsip saling menguntungkan. Perusahaan swasta yang didorong perusahaan ukuran besar BUMN juga telah memulai investasinya di luar negeri.

Investasi Inovatif

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto menginginkan BUMN dapat melakukan investasi inovatif di luar negeri untuk meningkatkan kepentingan strategis nasional. “Kami harapkan BUMN dan investor swasta Indonesia berani membeli kilang BBM di negara lain, melakukan akuisisi bank luar negeri, investasi di jaringan usaha retail dan sebagainya,” kata Suryo.

Menurut dia, upaya BUMN untuk melakukan investasi di beberapa negara lain adalah suatu langkah yang besar dan berani serta strategis. Ia mencontohkan langkah investasi inovatif seperti ada BUMN yang sudah merintis investasi pabrik semen di beberapa negara ASEAN. “Demikian juga investasi dalam penggemukan sapi di Australia. Tentu pada kasus tertentu ekspansi investor Indonesia ini menimbulkan kecemasan di negara tertentu,” katanya.

Ketua Umum Kadin berpendapat, langkah semacam itu bukanlah merupakan "capital flight" (pelarian modal) karena dinilai mempunyai nilai strategis baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk melayani pemasaran produk dalam negeri. Suryo juga mengemukakan, pengambilalihan lahan oleh negara-negara yang kekurangan lahan subur sudah banyak contohnya.

Related posts