Piramida Carstensz - Salju Di Garis Khatulistiwa

Para traveller pencinta kegiatan alam dunia, pastilah belum lengkap bila belum mengunjungi dan memuncaki tempat yang satu ini. Memiliki tempat yang sangat istimewah dan kecantikan yang tiada duanya, menjadikan tempat yang satu ini salah satu tempat pendakian favorit dunia, meski sangat berbahaya dan penuh tantangan, namun tidak membuat tempat yang satu ini ditinggalkan pecintanya.

Heinrich Harrer, penulis buku terkenal yang menulis “Tujuh Tahun di Tibet”, selalu terpesona oleh Puncak Jayawijaya di Papua. Da belas tahun setelah kembali dari Tibet pada tahun 1950, Heinrich Harrer bersama dengan tiga temannya, Temple, Kippax dan Huizinga, memutuskan untuk menaklukkan Puncak Jayawijaya. Pada tahun 1962 mereka menjadi pendaki pertama yang mencapai puncak Carstensz (Jayawijaya), salah satu dari 7 gunung tertinggi di dunia.

Puncak Jayawijaya, lebih dikenal oleh para pendaki gunung sebagai Piramida Carstensz yang memiliki ketinggian 4.844 meter di atas permukaan laut, dan selama berabad-abad telah menarik minat -gletser abadi khatulistiwa terutama para petualang dan pendaki gunung yang ingin mencapai gletser. Pada 1623, seorang penjelajah Belanda, Jan Carstensz, melihat gunung yang tertutup salju dan menamakan gunung itu dengan nama belakangnya.

Fenomena alam ini sangat jarang karena es alami biasanya tidak turun di sepanjang khatulistiwa. Sayangnya, penurunan gletser yang signifikan telah ditemukan pada beberapa lokasi seperti di Puncak Trikora dan Glacier Meren antara 1939, 1962 dan 1994 hingga tahun 2000. Salju abadi yang luas ini masih mengagumkan. Pendakian ke puncak memerlukan teknik khusus dan mendaki medannya hanya direkomendasikan bagi pendaki yang berpengalaman.

Related posts