Bankir Indonesia Dinilai Lebih Baik - Meskipun Belum Miliki Sertifikasi

NERACA

Jakarta - Meskipun banyak pegawai perbankan Indonesia yang belum memiliki sertifikasi kompetensi, namun kualitasnya masih jauh lebih baik dibandingkan bankir asing seperti Singapura dan Malaysia.

Ketua Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Zulkifli Zaini mengatakan, kualitas tersebut juga didukung oleh industri perbankan yang masih cukup sehat. Menurut dia, hal ini terlihat dari masih rendahnya nonperforming loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah.

Zulkifli juga menjelaskan, Indonesia tidak perlu khawatir dengan masuknya bankir asal Singapura dan Malaysia ke Indonesia. “Jumlah penduduk Negara-negara itu berapa? Justru sebenarnya Indonesia yang memiliki penduduk sebanyak 240 juta jiwa, berpotensi besar merambah Negara lain, harusnya mereka yang khawatir dengan kita,” kata Zulkifli di Jakarta, Senin (6/1).

Lebih lanjut dia juga mengatakan, untuk bisa memasuki ranah perbankan di luar Indonesia, para bankir lokal juga wajib memenuhi persyaratan tingkat kompetensi. Salah satunya yakni, dengan menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan kuantitas dan kualitas yang terbaik.

“Karena, tanpa didasari pertumbuhan bisnis perbankan semakin besar, memang kualitas harus ditambah, karena persaingan produk itu akan terus bertambah, jika kualitas kurang menjadi standar maka kompetensi yang akan bicara,” ucap dia.

Standar kompetensi ini, tambah dia perlu dilakukan untuk menghadapi persaingan dimestik maupun regional menyambut pasar bebas masyarakat ekonomi asean (MEA) 2015 mendatang.

"Saya kita tidak perlu menyebut bankir dari negara mana, yang lebih siap menyiapkan kompetisi bankirnya sehingga tidak perlu diwaspadai, jadi kita pada dasarnya itu harus mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahwa arti bankir-bankir Indonesia hendaknya bisa bekerja dengan baik paling tidak negara kita sendiri," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Ajat Sudrajat mengungkapkan, saat ini bankir di Indonesia yang belum memiliki sertifikasi kompetensi mencapai 300.000 dari 700.000 bankir yang ada. “Padahal, sertifikasi ini penting untuk operasional teknis, selain itu juga menjadi kunci SDM,” katanya.

Ajat mengatakan, merasa prihatin dengan banyaknya bankir yang sudah bekerja lama, namun belum memiliki sertifikasi kompetensi. Menurut dia, jika memiliki sertifikasi, akan ada pengakuan atas kemampuan mereka di bidang perbankan.

Lebih lanjut dia menuturkan, ada bankir yang telah bekerja selama 15 tahun tapi belum memiliki sertifikasi, dia menjelaskan para bankir itu harus memiliki pengakuan kemampuan manajemen risikonya.

“Apakah bankers sudah menjadi kebutuhan atau tidak? Tugas utama kita dalam sertifikasi kompetensi, mengcreate bangsa kita arti pentingnya sertifikasi," jelasnya.

Dia menyebut, sertifikat ini sama pentingnya dengan program sertifikat tanah yang muncul di tahun 1972 dengan keluarnya program nasional. "Dari itu semua bank mewajibkan tanah harus memiliki sertifikat baru. Lalu baru dapat melakukan kredit atau pinjaman uang dari agunan tanah yang sudah bersertifikat," ungkap dia.

Ajat berharap bankir di Indonesia dapat memiliki sertifikasi kompetensi bankir sebelum memasuki pasar bebas ASEAN 2015."Modal teknologi dan SDM merupakan bekal penting bagi perbankan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tutupnya. [sylke]

Related posts