Apindo Prediksi Industri Manufaktur Tumbuh Stagnan - Rupiah Makin Melemah

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan pertumbuhan industri manufaktur nasional hingga akhir tahun ini, stagnan bahkan diperkirakan hanya berkisar 5,5%. Menurunnya industri manufaktur lebih disebabkan karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

“Pada tahun ini, pertumbuhan industri manufaktur nasional diproyeksikan mencapai 5,5% karena beberapa hambatan seperti pelemahan rupiah, naiknya tarif listrik dan upah buruh, serta mahalnya biaya distribusi dan logistik. Pada tahun politik 2014, investor asing mungkin mengambil posisi tunggu sebelum menanamkan modal dan investasi baru terwujud jika pemerintahan yang terpilih dianggap cocok dan situasinya terkendali,” kata Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanandi di Jakarta, Senin (6/1).

Anjloknya kinerja industri pada 2014, menurut Sofjan, disebabkan beberapa hambatan pada investasi.“Pengetatan kredit dan tingginya suku bunga pinjaman bank menjadi masalah paling besar, mengingat 80% usaha baru di Indonesia dibiayai lembaga keuangan tersebut. Seberapa poin bunga bank naik, sebesar itulah kira-kira investasi turun,” paparnya.

Menteri Perindustrian, M.S Hidayat mengatakan, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menjadi salah satu kendala pertumbuhan untuk sektor industri manufaktur nasional.

“Salah satu hambatan dalam pertumbuhan industri nasional adalah menguatnya dolar AS karena bahan baku serta bahan baku penolong harus diipor dengan biaya yang besar. Imbasnya, ada pengurangan kapasitas produksi,” ujarnya.

Hidayat menambahkan, di Indonesia sektor industri padat karya sangat sensitif terhadap masalah makro selain upah.“Apabila pertumbuhan rendah dan produksi terus menurun, solusi pertama adalah pemutusan hubungan kerja (PHK),” tuturnya.

Selain itu, Hidayat juga mengakui tahun ini krisis global dan perlambatan ekonomi global masih akan terus membayangi pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) bahkan mematok angka pertumbuhan ekonomi yang pesimistis bagi Indonesia, yakni 5,7%-5,8%. Namun, Hidayat optimistis pada tahun depan ekonomi Indonesia akan tumbuh di atas 6%.

Pada 2014, beberapa sektor industri yang akan dikembangkan oleh pemerintah antara lain industri permesinan, alat berat, alat kesehatan, kendaraan bermotor rendah emisi, perkapalan, kedirgantaraan, perkeretaapian, alat pertahanan, elektronika dan telematika, serta industri kreatif perangkat lunak&konten multimedia.

"Hampir semua proyek yang sekarang macet akan dilakukan ekstra effort supaya berjalan termasuk infrastruktur," ujar Hidayat.

Pada 2014, pemerintah melanjutkan program hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri, seperti pada industri berbasis agro seperti sawit, kakao, karet, rotan, industri berbasis sumber daya mineral (besi, aluminium, nikel, tembaga) dan industri berbasis migas (petrokimia).

Hidayat menambahkan, pembangunan industri dalam jangka panjang tidak hanya mengandalkan pada industri yang berbasis sumber daya alam, tetapi juga yang berbasis kemampuan sumber daya manusia, termasuk peningkatan penelitian, pengembangan, dan penguasaan teknologi, inovasi dan kreativitas. "Kami akan minta anggaran baru dari pemerintah," kata Hidayat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah akan mendorong pembangunan industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor barang modal dan bahan baku. "Pemerintah sedang mempersiapkan skema pemberian insentif, agar dalam jangka menengah Indonesia dapat menghasilkan bahan baku setengah jadi," ujar dia. [iwan]

Related posts