Tiang Pancang Dilakukan 2014 - Pembangunan Jembatan Selat Sunda

NERACA

Jakarta—Peletakan tiang pancang pertama proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) diperkirakan pada 2014. Alasanya menunggu pembentukan badan pelaksana, yakni Tim Nasional Pembangunan Jembatan Selat Sunda (Timnas JSS). “Pokoknya pemancangan tiang pertama dilakukan pada 2014," kata Menurut Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto di Jakarta,21/7.

Menurut Djoko, saat ini pihaknya masih dalam proses pembentukan badan pelaksana, karena itu membutuhkan peraturan presiden. Badan pelaksana itu dibentuk Tim Nasional Pembangunan Jembatan Selat Sunda yang diketuai Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan menteri pekerjaan umum sebagai ketua harian. "Itu sudah disusun, tinggal menunggu perpres dari Presiden," tambahnya.

Lebih jauh kata Djoko, dalam badan pelaksana itu akan ditetapkan siapa pelaksana dan investornya. Diharapkan perpres itu tidak lama terbit, karena sudah tidak ada lagi masalah substansial. Badan pelaksana itu nantinya yang akan mengumumkan rencana tender kepada investor. "Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa ditender,” terangnya.

Rencananya JSS mulai dibangun memakan waktu sekitar 10 tahun untuk pengerjaannya. Nilai proyek juga berubah-ubah, dari awalnya diperkirakan Rp100 triliun, kini meningkat menjadi Rp215,37 triliun. Namun, biaya itu masih bersifat estimasi awal berdasar kuantitas atau volume pekerjaan dan harga satuan pekerjaan.

Jembatan dengan total panjang sekitar 29 kilometer itu dibangun menggunakan dua buah jembatan suspensi sebagai jembatan utama dengan panjang bentang mencapai 2.500 meter. Jembatan ini akan dilengkapi infrastruktur seperti transmisi gas, rel kereta api, transmisi listrik, dan air minum.

Sebelumnya, ada wacana pemerintah bersedia menanggung pembebasan tanah Proyek JSS. Namun peran pemerintah dalam proyek ini tidak akan dominan dari sisi penggunaan dana APBN. Sebagian besar dana investasi akan diserahkan ke investor swasta, namun untuk urusan lahan pemerintah siap menanggung. "Saya harap ini dari investor (swasta), tapi kalau investasi dibidang infrastruktur tidak mungkin tak ada dana APBN, paling tidak tanahnya, desain awalnya atau fasilitas apapun. sifatnya fasilitasi bukan sebagian besar," tegas Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto.

Ia juga mengatakan pemerintah sangat berharap pemimpin investor proyek JSS adalah perusahaan nasional. Meski tidak menutup kemungkinan investor asing akan ikut berpartisipasi dalam proyek ini. "Kami mengharapkan lead-nya adalah nasional jadi ada investor nasional, di belakangnya didukung China, Korea dan Jepang nggak masalah, itu business to business mereka," katanya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Optimalisasi LKM/LKMS dalam Pembangunan Daerah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Semenjak diundangkannya Undang – Undang No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro …

Perpres No 191/2014 Tentang BBM Minta Direvisi

  NERACA Jakarta - Pengamat Energi yang juga Direktur Puskepi, Sofyano Zakaria mendesak Perpres No. 191/2014 tentang Penyedian, Pendistribusian dan…

Proyek Pembangunan Jalan Cengkareng

Di wilayah Cengkareng terdapat proyek pembangunan jalan dekat mal Ramayana yang sangat meresahkan dan sudah hampir seminggu lamanya. Pada bagian…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pengaruh Pilkada 2018 ke Ekonomi

  NERACA   Jakarta - Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pengaruh pemilu kepala daerah…

Negara Berkembang Paling Pesat Pertumbuhan Belanja Online

    NERACA   Jakarta - Survei terbaru Mastercard menyebutkan, pertumbuhan aktivitas belanja melalui gawai (smartphone) atau "mobile shopping" berkembang…

Blended Finance Dikaji untuk Biayai Infrastruktur

  NEACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah tengah mengkaji skema "blended finance" agar…