Jaga CreditWorthiness Nusantara!

Oleh : Tumpal Sihombing

Founder and CEO BondRI

Government Securities Yield Curve (GSYC/kurva imbal hasil obligasi pemerintah) merupakan salah satu indikator pasar modal yang dapat menjelaskan kondisi fundamental perekonomian negara. Kurva imbal hasil adalah suatu garis yang menggambarkan hubungan antara tenor obligasi dengan tingkat imbal hasil yang ditawarkan. Secara umum, GSYC yang berbentuk positif (normal) mengindikasikan rasionalitas dan fisibilitas berinvestasi di pasar modal negara yang bersangkutan, dimana premis “the higher the risk, the higher the return” masih berlaku dalam pasar tersebut.

Dalam konteks yang khusus dimana GSYC berbentuk negatif, hal ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu prediktor. Jika GSYC suatu negara berturut-turut selama 4-5 kuartal telah mengalami negative curvature shape, maka tinggi peluang perekonoian negara tersebut akan default (bangkrut) pada kuartal ke-6. Demikian hasil analisa dari BondRI perihal besarnya manfaat pengetahuan praktis akan indikator GSYC bagi para perumus kebijakan termasuk bagi para partisipan di ranah industri jasa keuangan dan pasar modal.

Awal pekan ini pasar modal kita dikejutkan oleh kenaikan signifikan yang terjadi pada GSYC untuk setiap rentang tenor. Artinya, harga obligasi pemerintah secara umum mengalami penurunan yang signifikan. Hal itu amat jelas tergambar pada perubahan drastis yang terjadi pada yield acuan obligasi pemerintah yang naik sekitar 50bps di pembukaan minggu ini, dibanding minggu lalu. Terkadang, investor atau bondholder ada yang masih salah kaprah dalam menginterpretasikan arti kenaikan yield, terutama jika yield yang ditawarkan lebih besar dari laju inflasi berjalan. Laju inflasi saat ini 8.38%, masih relatif lebih rendah daripada yield yang ditawarkan oleh efek obligasi.

Masih segara di ingatan pada saat suku bunga acuan pernah dinaikkan oleh BI secara drastis di kuartal terakhir tahun 2013, pasar agak kewalahan dengan dampak yang ada, terutama bagi pelaku di sektor riil. Hal yang identik akan terjadi bagi para emiten obligasi(issuer) apabila terjadi peningkatan yang drastis pada figur yield acuan obligasi pemerintah.

Para bondholder atau prospektif investor akan mengharapkan imbal hasil lebih tinggi untuk risiko yang dipersepsikan lebih tinggi tentunya, sesuai dengan premis investasi rasional. Namun jika yield acuan ini naik dan konsisten bertengger di level yang tinggi, maka korban selanjutnya adalah para bondholders. Kejadian default berpotensi terjadi jika ada beberapa emiten besar yang mulai merasa kewalahan dengan pelunasan kupon dan pokok yang nilaiya menjadi lebih tinggi dan mahal. Pemerintah sebaiknya bersikap ekstra-pruden dengan level creditworthiness(kelaikan utang) negara kita.

Total utang pemerintah sudah mencapai figur Rp 1.035 triliun dalam bentuk surat berharga baik rupiah maupun valas. Jika expected yield investor untuk obligasi pemerintah sedang naik, maka demikian juga untuk obligasi perusahaan. Secara umum yield yang ditawarkan obligasi perusahaan lebih tinggi daripada obligasi pemerintah. Ini wajar karena investor mengharapkan higher return untuk kesediaannya memegang efek dengan risiko berinvestasi yang lebih tinggi.

Total utang swasta telah mencapai figur IDR 1670 triliun (sebagian dalam obligasi). Jika yield acuan obligasi pemerintah 10 th telah mencapai figur 9,10%, maka bond-issuer swasta harus membayar lebih mahal daripada itu untuk tenor yang sama. Mari kita jaga creditworthiness Nusantara!

Related posts