Toyota Bantu Laboratorium ke UI dan ITB

NERACA

Sistem Toyota Production System (TPS) sudah dikembangkan sejak pasca Perang Dunia ke II, di era 1950an. Cara ini berbeda dengan industri otomotif Amerika yang kebanyakan memakai pendekatanmass productiondan economic of scaleuntuk mencapai efisiensi produksi.

Toyota justru lebih mengedepankan just in time (JIT). Perusahaan fokus mengeliminasi waktu dan material yang terbuang dari setiap langkah dalam proses produksi. "Hasilnya adalah proses yang cepat dan fleksibel dalam memberikan apa yang diinginkan pelanggan pada waktunya dengan kualitas tertinggi dan harga yang pantas. Kami telah menularkan TPS dengan memberikan bantuan berupa laboratorium TPS ke dua Universitas yaitu UI dan ITB," kata Executive General Manager External Affairs DivisionPT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam.

Peragaan simulasi TPS dilakukan di booth Toyota pada gelaran Indonesia Jepang Expo 2013, di Kemayoran, Jakarta Pusat, akhir Desember lalu. Para pengunjung diajak membandingkan tahapan produksi secara konvensional dan TPS dengan menggunakan alat peraga berupa mainan Tamiya sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Awalnya diterapkan pola konvensional dalam memproduksi mobil dengan melewati pos pemasangancasing wheel, pemasangan baterai danassemblingsesuai permintaan dealer atas pesanan konsumen.

Hasilnya penerapan pola TPS ternyata memberikan produksi yang sesuai keinginan konsumen, baik dari segi jumlah, ketepatan waktu, selain bisa ditekannya jumlah unit yang rusak, cacat dan sedikitnya jumlah stok dalam proses.

"Kami jadi makin tahu pentingnya efisiensi, kualitas, dan ketepatan waktu dalam menghasilkan sebuah produk sebelum diterima konsumen," komentar Ivan Satria, siswa kelas 12 SMK 1 Karawang usai melakukan simulasi TPS.

Tidak di Ekspor

Dengan metoda just in time, Toyota memproduksi kendaraan sesuai dengan jenis dan jumlah yang diperlukan. Dengan begitu bisa mencegah terjadinya penumpukan stok serta menjamin kualitas kendaraan yang diterima konsumen. "Kendaraan yang diterima konsumen adalah kendaraan yang baru selesai diproduksi di pabrik Toyota, bukan kendaraan yang telah disimpan lama," kata Bob.

Pilar kedua TPS adalah Jidoka yaitu berbagai upaya mencegah terjadinya ketidaknormalan dan menjaga kualitas produksi agar selalu prima. Tiga prinsip dasar Jidoka adalah tidak menerima cacat, tidak membuat cacat, dan tidak meneruskan cacat. Penerapan prinsip ini adalah dengan memberikan wewenang penuh bagi operator untuk menghentikan lini produksi jika terjadi abnormalitas.

Dasarnya JIT dan Jidoka merupakan dua hal yang kontradiktif. Saat sebuah proses produksi mengoptimalkan JIT dengan menitikberatkan efisiensi, terkadang kualitas yang diusung oleh prinsip Jidoka, diabaikan. "Inilah yang menjadi keistimewaan TPS, mampu menyelaraskan kedua prinsip yang kontradiksi tersebut, sehingga dapat mencapai tingkat efisiensi tinggi tanpa melupakan kualitas yang baik," klaimnya.

Related posts