Pasar Modal Syariah Masih Sulit Dikembangkan

NERACA

Jakarta – Pasar modal syariah diprediksi masih membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk dapat menjadi besar dan menarik minat investor. Pasalnya, pasar modal syariah masih butuh beberapa variabel untuk siap sebagai tujuan utama berinvestasi di pasar modal.

Pengamat pasar modal dari Univ.Pancasila Agus Irvani menyebutkan bahwa pasar modal syariah di Indonesia dalam pelaksanaannya masih menerapkan sistem yang sama dengan pasar modal konvensional. Dia menyebutkan, profit taking harian, margin trading masih diperbolehkan dalam pelaksanaannya,”Kenapa masih diijinkan? Karena jika beberapa trading seperti ini tidak diperbolehkan, maka pasar akan sepi”, katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (5/1).

Selain itu, dia juga menyebutkan bahwa dalam prakteknya pengelolaan bisnis emiten belum 100% syariah. Sehingga dia menyebutkan akan sulit menerapkan pasar modal yang benar-benar syariah. Selain itu, kesiapan otoritas juga belum dapat diacungi jempol. Sama halnya dengan perbankan syariah.

Tanpa bermaksud menilai, dia menyebutkan bahwa menjamurnya bisnis syariah baik perbankan ataupun pasar modal akibat penilaian salah banyak pihak yang beranggapan syariah merupakan sesuatu yang baik, sementara non syariah adalah tidak baik.“Seperti dalam perbankan syariah, yang benar-benar syariah hanya muamalat. Yang lainnya adlah perbankan konvensional yang menggadang nama syariah dan istilah-istilah syariah dalam menjalankan bisnis perbankannya”, jelasnya.

Dia menyebutkan beberapa variabel yang masih menjadi hamabtan dalam pasar modal syariah adalah kualitas dan kemampuan SDM dalam menerapkan dan memahami prinsip pasar modal syariah. Kemudian sistem yang harus terintegrasi, karena sistem yang ada saat ini masih berbasis bunga.“Sedangkan untuk bagi hasil belum ada, ini perlu disiapkan. Pelaku pasar juga banyak yang belum paham mengenai pasar modal syariah”, katanya.

Terkait transaksi harian, dia menyebutkan perilaku pelaku pasar termasuk investor yang lebih mengutamakan ambil untung seharusnya dilarang dalam pasar modal syariah. Pasalnya, jika dimasukan dalam syariah berinvestasi di pasar modal artinya dalam jangka waktu panjang. Sehingga transaksi harian apalagi aksi ambil untung sangat dilarang.

Selain itu, regulasi juga dinilai dia masih tarik ulur, belum ada kepastian yang tegas mengenai pasar modal syariah. Kondisi ini, menurut dia sangat berbeda dengan pasar modal syariah yang dibentuk di negara Inggris. Dia menyebutkan, kualitas SDM di sana jauh lebih siap dibandingkan Indonesia.“Kita itu lebih banyak latah, di luar ada syariah kita ikut. Padahal SDM belum siap. Di Inggris cukup menarik, padahal Indonesia mayoritas beragama Islam”, ungkapnya.

Ke depannya, dia menilai pasar modal syariah memiliki prospek cukup bagus, asalakan dikembangkan dan disosialisasikan dengan baik oleh pihak otoritas. Karena, pasar modal syariah sebenarnya memiliki nilai yang dapat menarik minat para investor retail.“Tinggal bagaimana sosialisasinya saja, adanya pasar modal syariah dapat memotivasi dan memikat investor khususnya retail. Namun, memang masih butuh waktu lama untuk mengembangkannya”, ungkapnya.

Sebelumnya Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengemukakan bahwa kendala pasar modal syariah kurang berkembang adalah minimnya jumlah pemodal yang melakukan investasi. Dia mengemukakan bahwa pasar modal syariah dikembangkan sebagai jawaban kebutuhan umat Islam di Indonesia yang ingin berinvestasi pada produk pasar modal yang sesuai dengan prinsip syariah. (nurul)

Related posts