Indonesia Khawatirkan "Serangan" Produk Singapura dan Thailand - Hadapi MEA 2015

NERACA

Jakarta - Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada 2015 akan menjadikan Indonesia sebagai pasar utama. Pasalnya, jumlah penduduk Indonesia paling besar dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Maka dari itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan mengaku khawatir dampak pasar bebas tersebut terhadap perekonomian Indonesia.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan pasar bebas ASEAN akan meyerang Indonesia melalui banyaknya produk impor terutama dari Singapura dan Thailand. Seperti contoh dari Singapura melalui impor minyak dan Thailand lewat komoditas otomotif atau kendaraan dari Thailand.

Menurut dia, lifting minyak yang tak kunjung meningkat menjadi penyebab impor minyak yang semakin meningkat. "Singapura kita mendatangkan minyak mentah dan ini sejauh mana kita bisa menekan. Konsumsi meningkat dan lifting tidak meningkat ya susah," ucap Gita di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Untuk itu, ia meminta pemerintah fokus pada sektor minyak agar bisa mengendalikan lifting. Jika lifting minyak diperbesar maka impor bisa dikendalikan. Selain itu, impor hortikultura dan otomotif dari Thailand juga harus menjadi perhatian. "Kalau Thailand otomotif sama hortikultura kita masih bisa antisipasi. Importasi minyak harus dikendalikan dengan meningkatkan lifting," tegasnya.

Pengendalian impor, lanjutnya, menjadi harga mati yang harus dilakukan agar defisit neraca perdagangan Indonesia tidak terus melebar. Pada November 2013, surplus perdagangan mencapai US$ 0,78 miliar. Surplus perdagangan ini terbesar sepanjang 2013. Surplus perdagangan ini terdiri dari surplus neraca non migas sebesar US$ 1,97 miliar, sedangkan neraca migas masih mengalami defisit US$ 1,19 miliar.

Menurut Gita, surplus perdagangan ini terjadi karena beberapa faktor salah satunya penguatan harga beberapa komoditas seperti timah, kelapa sawit serta penguatan permintaan. Sedangkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (US$) disebut tidak banyak berpengaruh. "Demand beberapa negara tinggi dan volume ekspor naik 30%. Surplus karena kebijakan moneter seperti kenaikan suku bunga belum ada ke situ," tuturnya.

Percepat Infrastruktur

Ungkapan kekhawatiran juga sempat dilontarkan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari. Ia menilai ketika dimulainya MEA 2015, maka akan banyak serbuan produk impor dari negara tetangga, khususnya Thailand, Malaysia, dan Singapura. “Untuk mengantisipasi, pemerintah harus mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur, jaringan logistik, ketersediaan energi dan konektivitas untuk meningkatkan daya saing pengusaha domestik,” katanya.

Menurut dia, jika Indonesia tidak melakukan antisipasi maka hanya akan menjadi pasar bagi produk-produk Thailand, Malaysia, dan Singapura saat ASEAN Economic Community berlaku pada 2015. Okto mengatakan, tantangan yang dihadapi pengusaha lokal dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak ringan. Hingga kini, daya saing pengusaha Indonesia masih harus ditingkatkan baik produktivitas maupun efisiensi biaya produksi agar bisa bersaing dengan pengusaha Asia Tenggara lainnya.

Salah satu cara efektif adalah mempercepat ketersediaan infrastruktur yang berkualitas. Pengusaha lokal juga saat ini fokus pada peningkatan kualitas produk barang dan jasa diminta bisa bersaing. Sebab, anggota Hipmi akan memanfaatkan pasar bebas ini secara maksimal, baik untuk ekspansi, maupun untuk membuka pasar ekspor baru.

Hipmi juga mengeluhkan sikap pemerintah yang masih minim melakukan sosialisasi mengenai pasar bebas Asean 2015 ini. Menurut Okto, mayoritas pemerintah daerah tidak mengetahui mengenai rencana diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean sehingga banyak pengusaha di daerah lebih kesulitan mempersiapkan diri.

Di sisi lain, lanjutnya, para pengusaha asal Malaysia, Vietnam, dan Thailand saat ini aktif memperkenalkan produknya kepada pasar Indonesia. "Kami banyak menerima rekan pengusaha UKM asal Vietnam dan Malaysia yang berniat membuka pasar di Indonesia," katanya.

Bekerja Keras

Sebelumnya, Menteri Peindustrian (Menperin) MS Hidayat menilai pemerintah dan dunia usaha Indonesia harus bersiap dan bekerja keras mempersiapkan diri menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN di 2015. Bila dua tahun lagi tak ada perubahan maka Indonesia akan diserbu produk impor.

Menurutnya perlu adanya pengaturan dan perubahan regulasi, tarif, infrastruktur jalan hingga manajemen pelabuhan. Kondisi ini menurutnya harus diperbaiki dan dikelola dengan baik dan cepat. Kalau gagal mempersiapkan diri, Indonesia akan kalah bersaing dengan produk dan jasa dari negara tetangga ASEAN. "Maka dua tahun lagi kita bukan negara unggul di AEC karena dengan penduduk besar dan geografis besar kita akan kemasukan produk asing dan produk-produk pesaing kita. Kita menjadi buyer dan itu yang harus kita hindari," ucap Hidayat.

Menurutnya Indonesia harus belajar pada penerapan China-ASEAN Free Trade Agreement`(CAFTA) yang berlaku 2010 lalu. Ketika itu Indonesia belum siap menghadapi CAFTA. "Agar pengalaman pahit saya ketika baru dua bulan menjadi Menteri Perindustrian pada akhir Oktober. CAFTAnya sudah berjalan pada Januari. Ada 200 komoditas Indonesia tidak bisa bersaing dan kita kalah. Ini juga bisa terulang di AEC," jelasnya.

Related posts