IMF Nilai Kenaikkan BBM Berdampak Positif

NERACA

Jakarta---International Monetary Fund (IMF) mengkritik Indonesia yang terlalu memanjakan subsidi. Apalagi tingginya beban subsidi BBM menjadikan APBN makin berat. Padahal kenaikkan harga BBM diyakini berdampak hanya sementara."Itu hanya temporary (sementara). Beberapa bulan kemudian akan normal kembali. Dan positifnya akan tercapai harga BBM yang sebenarnya," kata Senior Economist IMF Washington DC Thomas Rumbaugh dalam diskusi di Paramadhina, Jakarta,21/7.

Apalagi, kata Thomas, berdasarkan penelitian subsidi BBM itu tak dinikmati masyarakat miskin semuanya. “Subsidi BBM itu tidak efisien karena meski dinikmati sebagian masyarakat miskin juga dinikmati oleh masyarakat mampu," tambahnya.

Rambaugh menambahkan, subsidi BBM sebaiknya dihilangkan dan dialokasikan langsung ke masyarakat miskin. "Pada 2005, pemerintah Indonesia berhasil menaikkan harga BBM tanpa menimbulkan gejolak ekonomi dan sosial masyarakat," tukasnya. Selain itu, anggaran yang tadinya digunakan untuk subsidi dapat digunakan untuk proyek infrastuktur.

Pendapat senada diungkapkan Chief Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan. Alasanya, dengan harga BBM bersubsidi sekarang dapat meningkatkan penyelundupan. "Selain itu, pasokan suplai BBM di berbagai daerah akan berkurang karena akan terjadi penimbunan," tuturnya.

Demikian juga dikatakan ekonomi UGM, Tony Prasetiantono yang kecewa. Karena hingga kini pemerintah belum mengambil sikap tegas dalam menghadapi dilema subsidi BBM. Padahal opsi yang semestinya diambil pemerintah adalah menaikkan harga BBM bersubsidi. "Rekomendasi saya, BBM itu naik, tapi paling Rp1.000 per liter," ujarnya.

Tony mengakui meski kenaikan harga tersebut menyebabkan subsidi yang dianggarkan pemerintah untuk BBM bersubsidi tetap tinggi, minimal angkanya tidak melonjak di atas Rp120 triliun. "Ya, ditahan tidak sampai Rp125 triliun," terangnya.

Lebih jauh kata Tony, cepat atau lambat harga BBM bersubsidi tetap dinaikkan. "Jadi, yang paling mendesak sekarang ini persiapan kenaikan harga BBM, nggak mungkin dipertahankan seperti ini terus," ujarnya.

Selain itu, ia optimistis, kenaikan harga BBM bersubsidi tidak akan mengubah laju inflasi di bawah 6%. "Sekarang inflasi sudah satu persen. Pada akhir Juli nanti inflasi akan satu persen, demikian pula dengan Desember. Jadi, total 3% ditambah kenaikan BBM, inflasi akan naik satu persen, sehingga total menjadi empat persen. Kalau ada kenaikan harga BBM Rp1.000, total inflasi tetap di bawah enam persen," kata Tony.

Berdasarkan data dan usulan Tim Pengawas Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi (TP3M) mencatat upaya peningkatan keandalan fasilitas produksi dapat menurunkan kehilangan peluang produksi, termasuk unplanned shutdown.

Rata-rata produksi migas tahun 2011 (hingga pertengahan Juli 2011) sebesar 21,6 ribu bph, lebih rendah dari rata-rata tahun 2010 sebesar 25,7 ribu bph. Namun demikian, produksi minyak nasional belum mencapai sasaran yang ditetapkan, di mana rata-rata hingga tanggal 19 Juli 2011 sebesar 904 ribu bph. Adapun rata-rata produksi minyak bulan Juni sebesar 894 ribu bph dan bulan Juli (hingga tanggal 19 Juli 2011) sebesar 899 ribu bph.

Penyebab utama rendahnya produksi bulan Juni dan Juli adalah terhentinya sebagian produksi di beberapa Kontraktor KKS, khususnya di Kalimantan Timur, selama pemeliharaan fasilitas produksi. Dengan telah diselesaikannya kegiatan pemeliharaan fasilitas produksi, produksi migas nasional mulai pertengahan Juli sudah kembali meningkat. **cahyo

BERITA TERKAIT

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

BI Nilai Pelonggaran Bunga Masih Bisa Berlanjut

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia mengklaim pelonggaran suku bunga kredit perbankan masih dapat berlanjut di 2018, meskipun penurunan suku…

Produksi Naik, PHE Catatkan Kinerja Positif di 2017

      NERACA   Jakarta - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak usaha PT Pertamina (Persero) di sektor hulu…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

Muliaman Hadad Ditunjuk jadi Dubes RI untuk Swiss

    NERACA   Jakarta-Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Darmansyah Hadad resmi ditunjuk menjadi Duta Besar…

Tiga Tahun Jokowi Diklaim Berhasil Turunkan Inflasi

      NERACA   Padang - Pejabat Kantor Staf Presiden (KSP) memaparkan dalam tiga tahun perjalanan pemerintahan Presiden Jokowi…