Inflasi Disumbang Kenaikan BBM - Tahun Ini

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi sepanjang tahun 2013 sebesar 8,38%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi pada bulan Juli. Kenaikan harga bahan bakar minyak pada bulan itu diklaim menjadi sebab utamanya. “Selama periode Januari hingga Desember tahun 2013 ini telah terjadi inflasi sebesar 8,38%% atau terjadi kenaikan indeks dari 135,49 pada bulan Desember 2012 menjadi 146,84 pada Desember 2013,” kata kepala BPS Suryamin di Jakarta, Kamis (2/1).

Suryamin mengatakan dilihat dari besarnya sumbangan andil inflasi selama tahun 2013 ini kelompok bahan makanan masih mendominasi. Ia melihat bahan makanan memberikan andil terhadap inflasi hingga 2,75%. Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mencapai 1,34%.

“Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 1,48%. Untuk kelompok sandang sebesar 0,04%, kelompok kesehatan 0,15% dan kelompok pendidikan, rekreasi serta olahraga sebesar 0,26%. Sedangkan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan memberikan sumbangan inflasi hingga sebesar 2,36%,” tutur Suryamin.

Untuk jenis barang dan jasa yang dominan memberikan sumbangan inflasi selama tahun 2013 dipaparkan Suryamin antara lain, bensin 1,17%, tarif angkutan dalam kota 0,75%, bawang merah dan tarif listrik masing-masing 0,38%. Kemudian cabai merah 0,31%, ikan segar 0,30%, beras, nasi dengan lauk dan tarif sewa rumah masing-masing 0,20%. Kemudian rokok kretek filter 0,19%, tarif angkutan udara 0,18% dan upah tukang bukan mandor dan bahan bakar rumah tangga masing-masing 0,16%. “Sedangkan mie instan naik 0,12%, daging ayam ras, daging sapi, dan jeruk naik masing-masing 0,11%.”

Kemudian Suryamin menjelaskan inflasi tertinggi pada tahun 2013 terjadi pada bulan Juli 2013 sebesar 3,29 persen. Ia melihat komoditas yang dominan menyumbang andil terhadap inflasi nasional pada bulan tersebut seperti antara lain bensin, tarif angkutan dalam kota, bawang merah, daging ayam ras, ikan segar, cabai rawit, beras, tarif angkutan udara, tarif angkutan antar kota, telur ayam ras, dan rokok kretek filter.

“Inflasi tertinggi terjadi pada bulan Juli yang disebabkan kenaikan BBM bersubsidi menjadi Rp6.500 per liter. Dampak dari inflasi pada bulan itu sangat berpengaruh pada inflasi bulan-bulan selanjutnya. Tapi lambat laun dapat terkondisikan hingga inflasi Desember 2013 hanya mencapai 0,55%,” terang Suryamin.

Terakhir Suryamin menerangkan inflasi Desember sebesar 0,55% disumbang oleh inflasi komponen inti pada sebesar 0,45% atau terjadi kenaikan indeks dari 136,92 pada November 2013 menjadi 137,54 pada Desember 2013. “Kemudian komponen yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,52%. Sedangkan komponen bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,79%.” [lulus]

Related posts