Pemerintah Diminta Perkuat Sektor Hulu Hortikultura - Lepas Ketergantungan Impor

NERACA

Jakarta – Pada 2014, izin impor yang akan dikeluarkan oleh pemerintah mencapai 1,2 juta ton atau naik hampir emapt kali lipat dibandingkan dengan 2013 yang hanya 260 ribu ton. Karena kenaikan yang terlalu tinggi tersebut, Ketua Komite Tetap Pengembangan Pasar Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Karen Tambayong meminta agar pemerintah untuk memperkuat sektor hulu hortikultura agar tidak bergantung lagi kepada produk impor. “Impor produk hortikultura, pada tahun ini akan meningkat tajam. Akibatnya akan mempertaruhkan ketahanan pangan nasional,” kata Karen di Jakarta, Kamis (2/1).

Ia mengatakan kenaikan yang tinggi tersebut harus menjadi perhatian pemerintah khususnya kementerian terkait untuk memperbaiki sistemnya. Menurut dia, pemerintah seharusnya memiliki cetak biru dan strategi besar untuk pengembangan hortikultura khususnya di sektor hulu atau perbenihan. Karen juga melihat pemerintah belum dapat memastikan mana saja komoditas hortikultura yang harus dikembangkan, mana yang harus diekspor, mana yang harus impor, serta mana yang diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurut dia, produk hortikultura berbeda dengan komoditas perkebunan seperti sawit, kakao dan tebu. "Produk hortikultura memiliki ragam dan jenis yang sangat besar. Selain itu rantai produksinya juga cukup panjang sehingga diperlukan pemahaman yang mendalam dalam menentukan strategi dan kebijakan di sektor ini," katanya.

Izin impor hortikultura yang naik hampir empat kali lipat, lanjut dia, menunjukkan Indonesia belum memiliki strategi, sementara negara yang memasukkan produknya ke Indonesia tentunya sudah mempersiapkan industrinya secara lebih matang. Karen mengatakan tingginya impor produk hortikultura menunjukkan adanya permintaan yang belum dapat dipenuhi industri dalam negeri yang selama ini terlambat diantisipasi karena tidak adanya strategi yang jelas.

Menurut dia, dengan strategi yang jelas selain akan mengamankan produk di dalam negeri juga akan meningkatkan kesejahteraan petani. Iklim di dalam negeri, kata Karen, seharusnya dapat mendorong pengembangan industri hortikultura terutama di sektor hulu. Namun, lanjut dia, kenyataannya tidak demikian. Sektor hulu dalam hal ini industri benih jumlahnya masih terbatas padahal sektor ini seharusnya diperkuat apabila ingin meningkatkan industri dan produk hortikultura di dalam negeri.

Karen mengatakan industri benih memegang peranan penting dalam rantai produksi hortikultura yang pada akhirnya akan memperkuat ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan kepada komoditas impor. Persoalannya industri benih di dalam negeri saat ini masih terbatas karena untuk membangunnya membutuhkan investasi besar, ilmunya juga spesifik karena menggunakan teknologi tinggi serta ketersediaan sumber plasma nutfah di sektor hortikultura yang terbatas.

Karen mengatakan seharusnya kebijakan di Indonesia dapat mendukung pengembangan hortikultura di dalam negeri termasuk dimungkinkannya transfer teknologi dari luar negeri. Dia mencontohkan negara-negara di Amerika Latin yang industri hortikulturanya maju pesat setelah membuka investasi untuk sektor ini sehingga memungkinkan transfer teknologi dan perkuatan modal.

Sebelumnya, ahli hortikultura sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bungaran Saragih dalam Seminar Agribisnis Outlook 2013 menyebutkan permintaan masyarakat terhadap produk pangan termasuk hortikultura tidak akan turun bahkan justru mengalami kenaikan.

Apalagi, jelas dia, dengan makin meningkatnya kesadaran hidup sehat di masyarakat membuat konsumsi terhadap sayuran dan buah-buahan semakin tinggi. Hal itu seharusnya dapat mendorong sektor hortikultura di Tanah Air dapat semakin tumbuh. Lebih jauh Bungaran menyatakan investasi yang diperlukan untuk pengembangan benih hortikultura sangat besar sehingga harus ada insentif kepada investor yang sudah membuktikan komitmen jangka panjangnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN) Ramdansyah menyatakan bahwa volume pengajuan impor komoditas hortikultura untuk periode semester I tahun 2014 mencapai 860.000 ton, naik 230% dibandingkan dengan kuota impor hortikultura di periode yang sama tahun 2013 yakni 260.000 ton.

Related posts