Pedagang Kecil Terbebani Harga Elpiji 12 Kg

NERACA

Jakarta - Ketua Asosiasi Pedagang Warteg Mukroni mengaku keberatan dengan kenaikan gas LPG 12 kg, pasalnya kenaikan tersebut sudah pasti akan mengerek harga pangan yang lainnya dan yang lebih parah lagi akan menambah beban masyarakat banyak.

"Pemerintah sebaiknya tidak menaikan harga LPG 12 kg, masyarakat saat ini sudah semakin susah, terus sekarang mau ditambah lagi. Kami pedagang kecil akan semakin sulit dan terpuruk,"jelas Mukroni saat dihubungi Neraca, Kamis (2/1).

Tidak hanya itu, sejumlah pedagang makanan resah terkait kenaikkan harga gas LPG 12 kilogram. Bahkan, mereka juga mengeluhkan ketersediaan gas LPG 12 kg yang terkadang sulit didapat. Bowo (20 tahun), penjaga kedai Mie Ayam di Petukangan Selatan mengaku, paling tidak dalam sebulan dia harus mengganti lima kali tabung gas LPG ukuran 12 kg.

Dia pun menyesalkan rencana pemerintah untuk menaikkan harga gas LPG 12 kg. Menurutnya kenaikan sebesar Rp 25.400 tidak wajar dan merugikan konsumen."Jelas kami keberatan. Kalo mau naikin tuh harusnya yang masuk akal. Kalo naiknya lima ribu atau maksimal sepuluh ribu sih masih gak apa-apa," ujarnya.

Dia pun berharap, pemerintah untuk mengkaji lagi rencana tersebut. Pasalnya, kenaikan itu justru akan membuat pedagang semakin terjepit. Dia pun belum bisa memastikan apakah akan menaikkan harga makanan yang dijual gerainya.

Bowo menambahkan, apabila ada kenaikan harga seharusnya diimbangi dengan ketersediaan gas tersebut. Dia pun mengeluhkan kelangkaan gas LPG 12 kg yang sering terjadi. Dalam sebulan paling tidak dua kali, dia harus menunggu pasokan gas dari agen langganannya. ''Kalau ngambil dari agen yang lain, nggak enak ama agen yang lama,'' tuturnya.

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Hasan (32), pemilik Warteg Agung Sari. Dia juga mengeluhkan kelangkaan gas LPG 12 kg yang kerap terjadi. Namun, kelangkaan tersebut tidak sampai membuat proses memasak di wartegnya terganggu.

Ketika ditanya tanggapannya kenaikan gas LPG 12 kg, Hasan sempat kaget. Dia mengaku belum mendengar informasi tersebut. ''Wah, kalau gitu caranya sih, bisa-bisa terpaksa ganti ke gas yang tiga kilo,'' ujarnya.

Edi Yong (66), penjual eceran gas LPG di dekat Pasar Kebayoran Lama mengakui, memang sempat ada kelangkaan gas ukuran 12 kg pada bulan lalu. Namun, kini sudah mulai kembali normal. ''Pasokannya sudah lancar lagi kok,'' tuturnya.

Edi mengaku sudah mendengar rencana kenaikan harga LPG 12 kg. Tapi, belum tahu kapan tepatnya kenaikan itu akan dilakukan. ''Kalo harganya naik, pasti permintaan bakal turun,'' ujar pria yang sudah berjualan gas sejak tahun 80an tersebut.

Edi justru mewanti-wanti potensi kelangkaan gas tiga kg, akibat kenaikan harga 12 kg. Pasalnya, orang-orang akan banyak yang beralih ke tiga kg. Apalagi ditambah dengan selisih harga yang lumayan besar antara ukuran tiga kilo dengan 12 kilo.

Edi biasanya menjual gasnya ke restoran dan Hotel Bunga Karang, yang berada di Jalan Kartini. Untuk satu gas ukuran 12 kg, Edi menjualnya seharga Rp 75 ribu. Sementara untuk ukuran tiga kg, Edi menjualnya dengan harga Rp 16 ribu rupiah. Harga itu, menurut Edi, adalah harga pasaran yang ada di sekitar Pasar Proyek.

Lebih lanjut, dia mengaku bingung harus mengambil keuntungan seberapa banyak jika rencana kenaikan itu benar-benar terjadi, pada Maret mendatang. Edi pun tidak bisa berbuat apa-apa dan menerima kondisi tersebut. ''Yah, kami mah penjual kecil, terima aja deh. Mau protes juga paling gak didenger. Lihat kondisi nanti aja deh mas,'' ujarnya.

Kenaikan Harga

Kemarin, PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk menaikkan harga Elpiji non subsidi kemasan 12 kilogram. Hal ini dilakukan dikarenakan tingginya harga pokok LPG di pasar serta turunnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan kerugian perusahaan semakin besar.

Dengan konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12 kilogram tahun 2013 yang mencapai 977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan Elpiji rata-rata meningkat menjadi 873 dollar AS, serta nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar, maka kerugian Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp5,7 triliun. Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari harga jual Elpiji non subsidi 12kg yang masih jauh di bawah harga pokok perolehan.

"Kondisi ini tentunya tidak sehat secara korporasi karena tidak mendukung Pertamina dalam menjamin keberlangsungan pasokan elpiji kepada masyarakat," tutur Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir.

Harga yang berlaku saat ini merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 2009 yaitu Rp5.850 per kilogram. Sementara harga pokok perolehan kini telah mencapai Rp10.785 per kilogram. Dengan kondisi ini maka Pertamina selama ini telah "jual rugi" dan menanggung selisihnya sehingga akumulasi nilai kerugian mencapai Rp22 triliun dalam 6 tahun terakhir.

Related posts