Asa Membangun Daya Saing Pasar Modal di 2014

NERACA

Jakarta – Mengawali perdagangan awal tahun 2014, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 38,62 poin atau 0,90% ke level 4.300. Penguatan ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk perdagangan saham di bursa kedepannya. Pasalnya, tahun 2014 menjadi tantangan terberat bagi indeks BEI di tengah mulai melambatnya perekonomian Indonesia, disertai defisit negara yang terus melembar dan terkoreksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus berlanjut.

Kondisi ini kemudian makin diperparah dengan sentimen global terkait Bank Sentral AS (The Fed) yang dipastikan akan segera mulai mengurangi stimulus moneter awal tahun, tentu akan meningkatkan tekanan pada biaya pinjaman global dan berdampak negatif pada arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bagi Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) Boediono, hal tersebut menjadi suatu tantangan bagi pasar modal Tanah Air. Ini juga menandakan bahwa segenap pelaku pasar modal harus lebih giat lagi dalam menciptakan market domestik yang kuat dan berkesinambungan,”Apa postur kita, sikap kita dalam menghadapi tantangan di tahun 2014 ini," ujarnya saat membuka perdagangan saham perdana 2014 di Jakarta, kemarin (2/1).

Di tahun kuda ini, banyak sentimen negatif yang bakal membawa tekanan terhadap indeks BEI. Namun kekhawatiran tersebut dicoba ditepis dengan sikap optimisme pelaku pasar bila tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Seperti Presdir PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, pasar modal kedepan makin semarak sebagai alternatif pendanaan, “Ke depan secara umum kami yakin bursa semakin semarak. Kalau dilihat kemungkinan dari perbankan pendanaan lebih susah. Jadi kalau perusahaan-perusahaan baru khususnya, masuk ke pasar atau melakukan IPO (penawaran saham perdana) dan juga untuk pasar obligasi itu salah satu alternatif pendanaan untuk perusahaan-perusahaan untuk berkembang terus,"ungkapnya.

Tantangan lain bagi pasar modal, tidak hanya menjaga pertumbuhan kinerja IHSG, meningkatkan likuiditas pasar dan memperbanyak jumlah emiten semata, tetapi bagaimana memperkuat investor domestik. Suka tidak suka, belum optimalnya memperkuat investor domestik masih menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan oleh otoritas pasar modal mulai dari era Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) hingga era Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 24 Desember 2013, komposisi kepemilikan saham pihak asing mencapai Rp1.458,25 triliun (63%) dibandingkan lokal Rp848,21 triliun (37%). Itu artinya dominasi investor asing masih kuat di industri pasar modal. Selain itu, jumlah investor pasar modal Indonesia masih sangat kecil, hanya sekitar 0,2% dari jumlah penduduk Indonesia, tertinggal jauh dibandingkan Malaysia dan Singapura.

Padahal dengan adanya Integrasi Ekonomi ASEAN Economic Community 2015, pasar modal Indonesia harus dapat memiliki level of playing field yang sama dengan negara ASEAN. Oleh karena itu, kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, ke depan pihaknya akan mengambil langkah-langkah tertentu agar pasar modal Indonesia berkembang baik secara kualitas dan kuantitas. Salah satunya dengan penyederhanaan prosedur penawaran umum, pendalaman pasar saham, sosialiasi kepada perusahaan yang berprospek IPO, pengembangan pasar obligasi, dan perbanyak jenis produk investasi di pasar modal.

Salah satu yang terus dikembangkan adalah pengembangan pasar modal syariah yang tengah gencar di sosialisasikan OJK dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) serta bersama lembaga SRO lainnya untuk mengedukasi masyarakat luas. Pengembangan pasar modal syariah sangat beralasan, karena pasarnya terus mengalami perkembangan yang signifikan. Sampai pertengahan Desember 2013, jumlah investor syariah meningkat sebesar 51% dibandingkan dengan akhir tahun 2012, dari 531 menjadi 803 investor.

Berikutnya, tantangan bagi pasar modal adalah menekan jumlah kejahatan di pasar modal guna membangun kepercayaan investor. Tercatat sepanjang tahun 2013 lalu, ada 34 kasus kejahatan pasar modal. Dimana dari 34 pelanggaran atau kejahatan pasar modal terbagi menjadi 2, yaitu terkait dengan emiten sebanyak 19 dan yang kedua efek sebanyak 15. Meski saat ini sudah ada lembaga perlindungan investor pasar modal atau PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI), tetapi lembaga tersebut belum diketahui efektivitasnya kepada investor. Namun berharap, hadirnya lembaga tersebut bisa mengurangi risiko lebih besar lagi yang diderita investor dan tentunya bisa meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Selain itu, masih dalam upaya perlindungan investor, tahun ini OJK akan terus menuntaskan roadmap good corporate governance (GCG) terhadap industri keuangan bank dan nonbank di Indonesia. Nantinya, OJK akan menyerukan emiten di pasar modal untuk melaksanakan roadmap GCG tersebut. Alasannya, institusi yang dipimpin OJK juga masih bermasalah dengan tata kelola. Untuk itu, dewan komisioner selalu berupaya memperbaikinya. Diharapkan, penerbitan roadmap ini mendapat dukungan dari pelaku industri jasa keuangan. Selain itu, implementasi roadmap tersebut dapat memberikan rasa aman untuk investor pasar modal di Tanah Air. (bani)

Related posts