BI: 1.220 Pegawai akan Bekerja di OJK

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memastikan ssebanyak 1.220 pegawainya akan bekerja untuk Otoritas Jasa Keungan pada tahun 2014. Sejumlah pegawai yang pindah lembaga itu akan khusus ditugaskan untuk membantu mengawasi industri perbankan dalam negeri. Namun dari sejumlah pegawai yang pindah tersebut masih tetap digaji BI hingga 2015.

“Saya memastikan pada tahun 2014 akan ada sebanyak 1.220 pegawai BI yang siap beralih tugas membantu OJK dalam mengemban peran sebagai pengawas perbankan mulai 1 Januari 2014. Sekarang ini pegawai dan pejabat BI yang diserahkan ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sudah sebanyak 1.150 orang. Di mana 70 orang di antaranya sudah lebih dulu bertugas pada awal 2013,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo dalam Konferensi Pers Peralihan Fungsi Pengaturan dan Pengawasan Perbankan di kantor BI, Selasa (31/12).

Agus menjelaskan mengenai pemindahan ruang kerja pegawai BI ke OJK ini sudah diatur dalam Undang-undang (UU). Namun, bantuan dari BI dengan pengalihfungsian pegawainya kepada OJK paling lambat berakhir pada tahun 2015. Dengan begitu pegawai BI yang bertugas di OJK hanya bersifat sementara. Mereka akan dipulangtugaskan kembali ke BI pada awal tahun 2016.

“Mengenai masa tugas para pegawai BI yang bekerja untuk OJK akan berlaku hanya selama tiga tahun saja. Setelah habis masa kerjanya mereka akan diberikan pilihan untuk tetap bekerja di OJK atau kembali bekerja di BI. Jadi paling lambat akhir tahun 2015 sejumlah pegawai tersebut harus sudah membuat ketetapan apakah akan kembali ke BI atau tetap di OJK," ungkap Agus.

Mengenai gaji para pegawai BI yang pindah ke OJK itu ternyata masih ditanggung oleh kas yang ada di bank sentral. "Pegawai yang bertugas di OJK itu masih akan didukung oleh anggaran sumber daya manusia dari BI. Sebab para pergawai yang pindah tuga situ sementara ini masih menjadi tanggungjawab kami," tambah Agus.

Kemudian Agus mengaku optimistis para pegawai BI yang bekerja di OJK akan merasa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Sehingga kinerja pengawasan bank yang mulai dilaksanakan OJK juga tidak akan mengalami hambatan. "Kami optimistis seluruh pegawai BI yang pindah kerja ke OJK akan cepat merasa nyaman dan dapat mengembangkan karier di OJK.”

Dana Himpunan Bank

Pada kesempatan yang sama Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan dalam menopang kinerja lembaga tersebut pihaknya mendapat sejumlah dari dari Anggaran Perencanaan Belanja Negara (APBN) dan sejumlah dana himpunan bank. Dengan begitu ia berharap akselerasi OJK untuk mengawasi industri perbankan juga dapat tercapai.

“Pendanaan OJK dari iuran, kita masih menunggu penandatanganan terakhir mengenai daftar perusahaan yang akan ikut serta. Tapi seperti yang sering saya sampaikan, implementasinya akan dilakukan secara bertahap. Dan juga sekaligus menyeimbangkan peran iuran dan APBN dalam berbagai macam kegiatan OJK,” terang Muliaman.

Menurut Muliaman iuran yang ditetapkan bagi pelaku industri keuangan agar disetor ke OJK ditetapkan pada level 0,03%% dari aset. Namun besaran iuran itu juga akan mengalami peningkatan secara bertahap hingga 2016 mendatang.

“Tujuan dari iuran ini kan supaya beban APBN makin berkurang dan OJK bisa hidup dari juga dari situ. Secara bertahap pada tahun 2014 akan diterapkan sebesar 0,03% terlebih dahulu. Kemudian pada tahun 2015 akan menjadi 0,045%. Dan begitu juga seterusnya akan mengikuti,” tutur Muliaman.

Namun, Mulyaman mengatakan masalah pokok dari iuran itu sendiri bukan pada besarannya. “Namun, bagaimana kita (OJK) bisa meyakini para pelaku industri keuangan untuk mau terlibat iuran. Pasalnya kita juga harus bisa memperlihatkan dengan iuran itu dapat mendorong kinerja industri keuangan secara keseluruhan.” Perlu diketahui, per tahun 2014 ini pagu anggaran OJK yang disetujui oleh DPR sebesar Rp2,408 triliun atau naik 46,37% dari anggaran tahun 2013 sebesar Rp1,645 triliun. [lulus]

Related posts