LTV Persulit Pertumbuhan Properti

NERACA

Bogor - Dampak penerapan peraturan loan to value (LTV) pada properti dinilai memberatkan sisi penjualan perusahaan properti, Bogor Nirwana Residence. Untuk itu diperlukan langkah strategis untuk meyakinkan para investor mengenai nilai investasinya. Dengan begitu target penjualan dapat terjaga. “Dengan adanya peraturan LTV sudah pasti ada pengaruhnya terhadap penjualan properti perumahan. Dampaknya pertumbuhan penjualan dapat melambat. Sebab peraturan LTV itu sendiri sifatnya mempersulit pertumbuhan properti,” kata Chief Marketing Officer Bogor Nirwana Residence, Atang Wiharna di Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/12).

Dia menjelaskan, dengan peraturan pembayaran uang muka sebesar 40% kepada pembeli rumah kedua, maka dapat dipastikan pertumbuhan investasi di sektor properti pasti menurun di tahun depan. “Dengan segala macam analisa interval pertumbuhan penjualan properti di perusahaan kita juga tidak akan lebih dari 5% pada tahun 2014. Masalahnya segmen penjualan rumah yang kita tawarkan ada dikisaran Rp1 miliar-Rp3 miliar. Artinya, dapat dipastikan konsumennya merupakan pembeli rumah kedua untuk tujuan investasi," jelasnya.

Untuk itu, Atang mengaku pihaknya telah mempersiapkan strategi untuk menjaga pertumbuhan penjualan properti perumahan. Dia melihat jika segmen pasar ada di level pembeli rumah kedua dengan tujuan investasi, maka harus diberikan keyakinan terhadap nilai investasi dari produk tersebut. Dengan begitu para calon pembeli akan tetap tertarik untuk membeli properti.

“Namun costnya memang mahal karena agar ada nilai investasi dari produk properti perumahan tersebut kita harus membangun berbagai macam fasilitas penunjang kebutuhan keluarga. Misalnya dengan membangun area hiburan, sekolah, dan taman tebuka hijau yang lebih luas. Dengan begitu investor dapat yakin nilai investasi yang kita tawarkan layak untuk dikonsumsi,” terang Atang.

Investasi area bermain

Pada kesempatan yang sama, Chief Operating Officer Bogor Nirwana Residence, Muhammad Taufiq mengatakan, dengan pembangunan fasilitas penunjang perumahan sejatinya harga properti justru akan meningkat. Pasalnya konsumen akan melirik hal tersebut sebagai nilai tambah. Dengan begitu produk ongkos yang dikeluarkan juga bisa menunjang akselerasi pendapatan.

"Kami sudah menginvestasikan Jungle Fest sebesar Rp400 miliar sejak tahun 2013. Hasilnya produk perumahan kita dengan tipe biasa yang sulunya hanya seharga Rp250 juta justru meningkat harganya. Sekarang kita bisa jual rumah tipe biasa dengan harga di atas Rp500 juta,” ungkapnya.

Lebih jauh Taufiq mengaku dengan membangun fasilitas berupa area hiburan berupa Jungle Fest pihaknya juga bisa membuka peluang lebih banyak untuk menghimpun laba. Pasalnya area hiburan itu sendiri dapat dikomersilkan dan dibuka untuk umum. Sehingga BNR akan meraih pendapatan bukan hanya dari penjualan properti tapi juga dari penjualan tiket masuk Jungle Fest.

“Sebetulnya kita punya beberapa area bermain selain Jungle Fest yaitu Jungle Land dan Jungle Water Park. Dari situ saja kita bisa meraih keuntungan bersih hingga ratusan miliar per tahun. Dan perlu ditekankan pendapatan itu diperoleh di luar penjualan properti,” tutur dia.

Perlu diketahui, hingga akhir tahun 2014, BNR telah mencatat realiasi penjualan properti perumahan senilai Rp360 miliar atau setara dengan 95% target penjualan perusahaan. Sedangkan dari taman bermain sendiri mampu memperoleh laba bersih hingga miliaran Rupiah. Secara rinci dari Jungle Water Park sebesar Rp80 miliar dan Jungle Land Rp60 miliar pada tahun 2013. “Sedangkan Jungle Fest kita proyeksikan dapat menghasilan laba hingga Rp68 miliar per tahun,” tandasnya. [lulus]

Related posts