BKP Kementan Terbitkan 1,2 Juta Sertifikat Karantina - Sepanjang 2013

NERACA

Jakarta - Sepanjang tahun 2013, Badan Karantina Pertanian (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan), mencatat telah mengeluarkan hampir 1,2 juta sertifikasi tindakan karantina hewan dan tumbuhan. Sertifikasi diperuntukan untuk kegiatan ekspor, impor dan perdagangan antar area (domestic trading).

"Sertifikasi dilakukan untuk pengawasan kepada keamanan pangan produk pertanian segar dan untuk melindungi konsumen dalam rangka kita melakukan ekspor. Hingga 19 Desember 2013 tercatat Badan Karantina Pertanian mengeluarkan 1.157.309," ungkap Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini, seperti dikutip Neraca, Rabu (1/1).

Jumlah itu meningkat hampir 14% bila dibandingkan tahun lalu. Hingga akhir tahun 2013 diperkirakan jumlah sertifikat yang dikeluarkan adalah sebanyak 1,2 juta. "Ada peningkatan sebanyak 14% dan tertinggi selama 10 tahun terakhir. Tahun 2004 baru sekitar 250 ribu sertifikasi, meningkat terus 911.890 di tahun 2012. Sekarang 1,157 juta. Diperkirakan hingga akhir Desember sebanyak 1,2 juta," imbuhnya.

Rinciannya adalah sertifikasi untuk impor produk karantina hewan adalah sebanyak 395.012 dan produk karantina tumbuhan sebanyak 78.134. Sedangkan untuk sertifikasi ekspor produk karantina hewan adalah 17.286 dan karantina tumbuhan adalah 93.674. Adapun sertifikasi perdagangan domestik untuk karantina hewan adalah sebanyak 228.747 dan karantina tumbuhan sebesar 344.456.

"Hal ini artinya memang situasi perekonomian kita berjalan positif dengan perdagangan dan aktifitas ekonomi yang meningkat. Yang kedua meningkatnya kesadaran masyarakat dengan media pembawa atau sudah ada kepatuhan dari para pelaku usaha. Lalu meningkatnya kinerja pengawasan karantina," jelasnya.

Produk Impor

Di tengah tingginya imporsasi pangan nasional Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengungkapkan bahwasanya orang Indonesia lebih gemar makan-makanan impor alias produk luar dibandingkan produk lokal. Sebagai contoh sederhana, masyarakat lebih memilih minum jus tomat kemasan impor dari Australia. Padahal produksi tomat petani dalam negeri berlimpah. "Orang kita itu senang minum jus tomat, banyak di supermarket, itu diimpor dari Australia," kata Suswono.

Menurut Suswono, saking berlimpahnya tomat lokal, jika saat panen harga tomat terjun bebas. Sehingga banyak tomat yang dibiarkan membusuk karena kelebihan pasokan. "Padahal di petani kita tomat berlimpah ruah, malah nggak ada nilainya di petani karena terlalu murah, sehingga petani malas memanen dan membiarkan tomat-tomatnya membusuk," ungkapnya.

Harusnya ditengah kondisi sekarang ini masyarakt nasional, bisa lebih mencintai produk-produk pangan nasional, dibandingkan makan makanan impor, sehingga bisa menguntukan petani nasional. “Bagaimana petani mau berproduski, jika produknya tidak mau dibeli akhirnya petani merugi. Makanya produksinya menurun, karena tidak ada kegairahan terhadap produk-produk nasional,” paparnya.

Sementara itu Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan Indonesia memang unggul dalam hal ekspor hasil perkebunan terutama crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah namun semuanya masih belum diolah hingga ke produk hilir sehingga nilai tambahnya rendah.

"Banyak sekali kita ekspor CPO ke berbagai negara, sebenarnya di jual mentah saja untung, tapi apa iya kita cuma jual mentah terus, sementara negara lain mengembangkan industri hilir pengolahan CPO dan dapat nilai tambah yang jauh lebih besar. Industri hilir kita harus berkembang, memang perlu investasi lagi, tapi sayang kalau tidak dikembangkan," kata Rusman.

Rusman menambahkan kampanye cintailah produk-produk Indonesia yang kerao didengar oleh telinga kita saat ini masilah dirasa kurang cukup, tapi harus ditambah dengan cintailah produk bahan baku nasional sehingga impor kita bisa menurun. "Yang ada sekarang itu cintailah bahan baku Indonesia, bagaimana kita menciptakan farm estate, sehingga bahan baku kita bisa kita olah sendiri, sehingga hasilnya jauh lebih besar," tuturnya.

Terkait produk pangan impor, menurut data Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian, realisasi impor daging sapi sepanjang tahun ini, hingga 22 Desember 2013 mencapai 55.840,6 ton atau meningkat dibandingkan 2012 yang hanya sebesar 41.027,2 ton. Sementara impor sapi bakalan hingga 27 Desember 2013 realisasinya mencapai 312.687 ekor, naik dari tahun lalu sebanyak 297.462 ekor. "Sedangkan impor sapi potong tahun ini mencapai 94.949 ekor, padahal pada tahun lalu tidak ada impor sapi potong," kata Banun Harpini, Kepala Barantan, belum lama ini.

Namun ditengah tingginya impor daging sapi, harga daging sapi terus menggeliat, dipasaran sampai dengan saat ini masih dikisaran Rp 100 ribu, padahal pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan, seperti Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 46/M-DAG/KEP/8/2013 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan.

Dalam peraturan tersebut, disebutkan bahwa pemerintah telah membuka keran impor yang bertujuan untuk menekan harga daging di bawah Rp76 ribu per kilogram. Apabila harga daging di bawah Rp76 ribu per kilogram, importasi daging akan disetop.

Related posts