Cadangan Darurat BBM RI Nol - Ketahanan Energi Rapuh

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan, ketahanan energi Indonesia masih rapuh. Susilo mencontohkan jika saja Indonesia perang dengan negara lainnya, maka ia memprediksi Indonesia akan bertahan paling lama hanya 3 hari saja. "Zero strategic kita. Kita nggak punya ketahanan energi, kalau Indonesia ini diblokir sana sini, kapal perang kita punya, pesawat tempur kita punya tapi mau diisi bahan bakarnya pakai apa? Pakai air?" tegas Susilo.

Susilo yang hadir dalam acara Penyerahan Surat Penugasan Kepada Badan Usaha Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu Tahun 2014, di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (31/12) mengatakan Indonesia tidak punya cadangan BBM yang disimpan secara khusus jika terjadi hal darurat seperti bencana alam atau terjadi perang. "Cadangan BBM kita nol! Bandingkan dengan Malaysia yang punya 30 hari, Jepang dan Korea 50 hari, Singapura 50 hari," tegas dia.

Susilo menambahkan yang dimiliki Indonesia saat ini adalah cadangan operasional yang digunakan setiap hari, yang disediakan badan usaha yang menyalurkan BBM subsidi, tersebar di SPBU-SPBU dan Depo BBM. "Cadangan operasional itu pun hanya 17 hari, bandingkan dengan Malaysia yang punya 25 hari, Singapura 50 hari, Korea 50 hari," tandasnya.

Sementara itu, menurut Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim, setidaknya ada 3 kebijakan utama yang harus dilakukan dalam upaya membangun ketahanan energi nasional. Pertama adalah dengan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. "Kalau volume energi impor masih besar perannya, maka apa yang terjadi di luar akan sangat berpengaruh pada ketahanan energi kita," ujar Ibrahim.

Untuk mengurangi impor tersebut, Ibrahim menegaskan, produksi minyak dalam negeri harus ditingkatkan dan melakukan diversifikasi penggunaan energi tidak hanya tergantung kepada minyak, melainkan juga menggunakan jenis energi yang lain, seperti gas bumi, batubara dan energi terbarukan lainnya. "Gas sekitar 50 tahun lagi masih ada. Sedangkan minyak bumi kalau tidak ada temuan temuan baru itu 11-14 tahun lagi akan habis," katanya.

Upaya lain yang perlu dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional adalah keluar dari ketergantungan pada minyak bumi yang merupakan sumber energi yang tidak terbarukan serta perlunya menggunakan energi secara hemat dan tidak boros. Semakin mahalnya harga bbm saat ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih hemat.

Untuk menjaga ketahanan sumber energi nasional, pemerintah perlu mengubah strategi tata kelola migas yang saat ini cenderung mengacu pada pencapaian lifting, menjadi tata kelola yang komprehensif dengan strategi peningkatan cadangan.

"Tujuan tata kelola migas harus mencari keseimbangan dengan meningkatkan cadangan yang lebih besar, jangan hanya monolitik lifting yang sifatnya pragmatis jangka pendek untuk pemenuhan dana APBN," ujar pengamat ekonomi energi Darmawan Prasodjo.

Menurut Daramawan, jika yang dikejar merupakan target lifting, itu hal yang mubazir, karena kegiatan produksi merupakan kegiatan yang padat kapital, padat teknologi, dan berisiko tinggi. "Ini faktor-faktor penting yang harus dikelola dalam jangka panjang bukan hanya sekadar pemenuhan target APBN setiap tahunnya," tegasnya.

Untuk ke depan, Darmawan mengusulkan pengelolaan migas di masa datang harus berlatar multi dimensi, yaitu bagaimana membangun industri migas nasional, mengelola sumber daya alam dengan kekuatan sendiri dalam jangka panjang. Lalu, lifting migas yang tidak hanya sekedar pemenuhan target APBN, dan tidak hanya mengejar bagaimana mengelola peningkatan cadangan dan produksi.

Sebagaimana diketahui, cadangan minyak nasional saat ini sekitar 3,6 miliar barel, sementara lifting hanya 830.000 barel per hari, sehingga menurut Darmawan, secara praktis cadangan tinggal 11 tahun untuk bisa ditingkatkan lagi.

Related posts