Pancasila Masih Jadi Slogan

NERACA

Sebagai falsafah hidup, Pancasila mengandung wawasan dengan hakikat, asal, tujuan, nilai, dan arti dunia seisinya, khususnya manusia dan kehidupannya, baik secara perorangan maupun sosial. Ini berarti bahwa wawasan dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara kultural diinginkan agar tertanam dalam hati sanubari, watak, kepribadian serta mewarnai kebiasaan, perilaku dan kegiatan lembaga-lembaga masyarakat.

Sayangnya, di beberapa tempat nilai spiritualitas Pancasila dalam tiap individu masyarakat kian terkikis. Melihat hal itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahab mengatakan Pancasila dan kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa di beberapa tempat hanya menjadi slogan.

“Saat ini sebagian anak bangsa seolah-olah telah kehilangan karakter. Berbagai perilaku amoral, tindakan anarkis, dan perilaku koruptif menjadi tontonan menarik di berbagai media,” ujar dia di Yogyakarta belum lama ini.

Oleh karena itu, sambung dia, terkait dengan penyelenggaraan Dies Natalis Ke-50 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), isu dan gerakan memantapkan pendidikan karakter sungguh memiliki relevansi yang strategis bagi masa depan Indonesia yang lebih baik.

"Berkaitan dengan hal itu, peringatan usia setengah abad UNY mengambil tema Memantapkan Pendidikan Karakter untuk Melahirkan Insan bermoral, Humanis, dan Profesional," katanya.

Menurut Rochmat tema itu merupakan serangkaian ide yang lahir atas apa yang menjadi cita-cita UNY ke depan. Gagasan itu sekaligus memantapkan identitas UNY sebagai kampus "leading in character education".

Dalam rangka memperingati usia emas yang jatuh pada pada 21 Mei 2014, UNY akan menggelar kegiatan yang mengarah pada pengembangan nilai dan watak humanis dan profesional, dan tetap berada pada koridor nilai yang dikembangkan UNY, yakni ketaqwaan, kemandirian, dan kecendekiaan.

Related posts