Pasar Modal Dinilai Belum Mandiri Dari Asing - Dominasi Investor Asing Masih Tinggi

NERACA

Jakarta – Menutup tahun 2013, dominasi kepemilikan saham investor asing di pasar modal dalam negeri belum terkalahkan. Berdasarkan data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 24 Desember 2013 disebutkan, komposisi kepemilikan saham pihak asing yakni sebesar Rp1.458,25 triliun (63%) dibandingkan lokal sebesar Rp848,21 triliun (37%).

Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia Heri Sunaryadi mengatakan, industri pasar modal di tahun 2013 masih di kuasai asing dengan kepemilkan saham oleh investor asing mencapai 63% dan lokal hanya 37%,”Sementara dari sisi kinerja sepanjang 2013, terdapat total aset yang tercatat di KSEI menurun sebesar 5,39 persen dari Rp 2.735,97 triliun pada 26 Desember 2012 menjadi Rp2.588,22 triliun pada 24 Desember 2013," ujar Heri di Jakarta, Senin (30/12).

Masih tingginya dominasi asing dalam Bursa Efek Indonesia, tidak bisa lepas dari soal minimnya sosialisasi dan edukasi masyarakat lokal untuk berinvestasi saham. Oleh karena itu, OJK bersama anggota SRO lainnya terus meningkatkan edukasi dan sosialisasi mengenai investasi pasar modal.

Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan pernah bilang, pemahaman masyarakat mengenai pasar modal adalah kunci untuk meningkatkan jumlah investor lokal. Alasannya, dengan memperkuat investor lokal tentunya industri pasar modal bisa tahan banting terhadap sentimen luar negeri. Selama ini, kendala yang ada saat ini adalah pemahaman masyarakat yang minim mengenai dunia investasi di pasar modal.“Kurangnya pemahaman masyarakatlah yang menjadilkan gap dalam dunia pasar modal kita”, ujar dia.

Sudah menjadi rahasia umum, pasar modal dalam negeri masih bergantung kepada asing dank arena itu, pasar modal dalam negeri mudah digoyah oleh derasnya dana asing yang keluar. Di sisi lain jumlah investor pasar modal Indonesia masih sangat kecil, hanya sekitar 0,2% dari jumlah penduduk Indonesia. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan negara di Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia dan Singapura.

Selain itu, KSEI juga mengungkapkan, sepanjang tahun 2013 terdapat pula peningkatan jumlah SID sebesar 12,81% atau 320.606 per 24 Desember 2013 dibandingkan data pada 26 Desember 2012 sebanyak 281.438. Terkait jasa penyelesaian transaksi, di 2013, KSEI juga telah dapat memberikan fasilitas penyelesaian transaksi Efek dalam mata uang Dolar Singapura (SGD), melengkapi penyelesaian transaksi mata uang asing yang sebelumnya sudah tersedia dalam mata uang Dolar Amerika (USD).

Disebutkan, secara keseluruhan sistem untuk menangani transaksi tersebut sudah siap di KSEI, termasuk Bank Pembayarannya. KSEI juga telah menyediakan jasa penyimpanan dan penyelesaian transaksi Surat Utang Negara dalam Valuta Asing (SUN Valas) yang diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia pada 25 November 2013.

Khusus untuk jasa penyelesaian transaksi Efek dengan Instruksi Pemindahbukuan Efek Tanpa Pembayaran (Free of Payment/FOP), pada Desember 2013 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan persetujuan atas peraturan KSEI terkait hal tersebut. (nurul)

Related posts