Pemerintah Akui Terkendala Masalah Infrastruktur - Meski Optimis Ekonomi Tumbuh

NERACA

Jakarta---Pemerintah mengakui ada kendala dalam memacu pertumbuhan ekonomi terutama terkait dengan masalah infrastruktur. Namun pemerintah tetap optimistis membangun perekonomian pada tahun mendatang. "Kita tahu Indonesia masih banyak masalah yang mendasar, seperti infrastruktur, seperti energi listrik," kata Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada acara Indonesia International Confrence Focus on Indonesian Economy 2011, di Shangri-La, Jakarta, Kamis (21/7)

Selain masalah infrastruktur, lanjut Kepala Negara, permasalahan yang juga ikut menghambat pertumbuhan ekonomi, antara masalah korupsi dan birokrasi yang kurang responsif serta kebijakan dan regulasi daerah yang tidak kondusif. "Kasus korupsi, birokrasi tidak responsif serta kebijakan dan regulasi daerah yang kurang kondusif dapat menghambat perekonomian," tambahnya.

Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, pihaknya akan melakukan perbaikan secara intensif dan continue, mengingat banyaknya masalah perekonomian tersebut. Dan diharapkan pada 2025 perekonomian kita sudah mencapai puncaknya. "Kita akan perbaiki secara intensif dan berkelanjutan, kita yakin pada 2025 perekonomian mulai maju, sekarang perekonomian kita tumbuh kuat," imbuhnya.

Ditempat yang sama, Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), Chairul Tanjung menyatakan ekonomi RI akan memasuki Era Keemasan atau Golden Era di tahun 2025. "Indonesia bisa masuk ke Golden Era, sepuluh tahun lagi Indonesia sudah bisa mengarah ke situ, Indonesia bisa tumbuh sekarang, 10 tahun, dan sampai 2025," katanya.

Bahkan, lanjut CT-panggilan akrabnya, diperkirakan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan GDP per kapita RI bisa mencapai US$ 14.900 - US$ 15.500. Malah kemungkinan Indonesia dapat tumbuh lebih besar daripada yang diproyeksikan pemerintah. "Kita bisa tumbuh cepat, dua kali lipat tiap lima tahun. Bahkan di tahun 2030. Kita bisa raih GDP per kapita mencapai 22.500 di tahun 2030. Melebihi visi pemerintah yang menargetkan US$ 18.000," terangnya.

Menurut CT, ekonomi RI sedang dalam fase pertumbuhan yang cepat. Ia berharap, hal ini dapat menumbuhkan semangat investasi ke depannya. "Indonesia dapat menjadi dominan di ASEAN, sekarang ekonomi kita sudah berperan mencapai 40%. 10 tahun ke depan diharapkan kita bisa mengendalikan ekonomi ASEAN mencapai lebih dari 50%," tambahnya.

Lebih jauh kata CT, hal tersebut dapat terjadi karena semakin meningkatnya tingkat produktivitas penduduk Indonesia jika dilihat berdasarkan susunan demografi. Selain itu, sumber daya yang dimiliki Indonesia sangat besar dan masih bisa dioptimalkan. Didukung pula dengan adanya kebijakan pemerintah untuk melaksanakan program percepatan pembangunan melalui MP3EI. "Politik kita pun realitf stabil, demokrasi negara kita menuju dewasa. Walaupun ada gangguan hal tersebut bersifat minoritas," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala pusat studi dan kajian ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetyantono menilai salah satu factor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah tingginya konsumsi masyarakat. Bahkan memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60%. Ketertarikan investor terhadap Indonesia, membuat investasi memberikan kontribusi sebesar 30% terhadap PDB.

Tony menambahkan kinerja ekspor dan impor masing-masing memberikan kontribusi 23,6% dan 20,6%. Yang masih menjadi catatan dan harus ditingkatkan adalah kontribusi APBN terhadap PDB yang masih sangat rendah. “Belanja atau investasi pemerintah hanya memberikan kontribusi sebesar 7%,” jelasnya.

Yang jelas, kata Tony lagi, pemerintah perlu mendorong percepatan pembangunan dan ketersediaan infrastruktur di dalam negeri sebagai stimulus agar sektor swasta turut serta berperan dalam sektor infrastruktur. **cahyo

BERITA TERKAIT

Tumbuh Berani di Tengah Gelombang

Oleh: Mochammad Bayu Tjahono, Staf Direktorat Jenderal Pajak *) Tak salah jika menyebut tahun 2018 merupakan tahun politik. Pada 27…

BI : Siklus Krisis Ekonomi 10 Tahunan Tak Relevan

      NERACA   Jakarta - Pernyataan bahwa siklus krisis ekonomi di Indonesia akan terjadi setiap 10 tahun sekali…

FSTM : Membangun Ekonomi Umat Lewat Masjid

  NERACA   Jakarta – Forum Silaturahim Takmir Masjid (FSTM) Jakarta ingin menjadikan masjid sebagai sentral dalam pembangunan ekonomi umat.…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pengendalian Harga Mencegah PLN Bangkrut Akibat Harga Batubara

      NERACA   Jakarta - Sesuai prinsip berbagi keadilan Kabinet Kerja Joko Widodo, maka pengendalian harga batubara melalui…

Kemampuan Moneter Calon Gubernur BI Harus Teruji

      NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati,…

Mendes Sebut Penyerapan Dana Desa Terus Meningkat

    NERACA   Semarang - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo menyebutkan penyerapan dana…