Tiga Komoditas Pangan Utama Masih Akan Terus Diimpor di 2014 - Proyeksi Kementan

NERACA

Jakarta – Imporsasi pangan sepanjang tahun 2013 masih sangat besar guna memenuhi kebutuahan konsumsi dalam negeri. Kementrian Pertanian (Kementan) memproyeksikan dari 5 komoditas pangan utama yaitu padi, jagung, kedelai, gula pasir, dan daging sapi, 3 diantaranya yaitu kedelai, gula pasir, dan daging sapi pada tahun 2014 diprediksikan masih akan terus impor dari luar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Suswono, Menteri Pertanian mengatakan, melihat kondisi yang ada seperti pertimbangan keterbatsan lahan, sisi permodalan, Sumber Daya Manusia (SDM) petani yang makin sedikit, anomali cuaca yang tidak bersahabat, dan kendala-kendala yang ada, dari 5 komoditas pangan utama, ada 3 komoditas pangan yang pada tahun 2014 diprediksikan akan masih terus impor dari luar. “Dari 5 komoditas utama, selain padi dan jagung, pada tahun 2014 nanti Indonesia masih akan terus impor dari luar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri,” katanya pada saat jumpa pers akhir tahun 2013 Kementan yang mengusung tema “Refleksi 2013 dan Prospek Pertanian 2014”, di Jakarta, Senin (30/12).

Alasan kenapa dari 3 komoditas itu akan terus impor Suswono menjelaskan, pertama, untuk kedelai sepanjang tahun 2012 sampai dengan 2013 produksi kedelai nasional masih defisit. Produksi tahun 2012 sebanyak 0,84 juta ton, sedangkan pada tahun 2013 hanya mampu produksi 0,81 juta ton saja atau defisit sekitar 3,5%, sehingga diprediksikan tahun 2014 masih akan terus impor untuk kedelai. “Tahun depan tidak ada cadangan untuk kedelai, sedangkan kalau mengharapkan dari produksi para petani belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, belum lagi untuk industri tempe, maka dari itu perlu impor lagi,” terangnya.

Sedangkan untuk gula, sejauh ini lahan untuk penanaman tebu terus berkurang, data menunjukan produksi gula dalam negeri untuk tahun 2012/2013 sebanyak 176,04 juta ton, sedangkan untuk tahun 2013/2014 hanya 174,83 juta ton atau defisit 0,69%, oleh karenanya harus impor. “Permasalahan pada gula nasional, selain lahannya yang menyempit, revitalisasi industri pabrik gula belum berjalan, selain itu juga pembangunan pabrik gula baru hanya 1 pabrik, dari target 20-25 unit pabrik gula baru,” jelasnya.

Yang ketiga yaitu daging sapi, fenomena daging sapi masih menjadi masalah hangat sampai dengan saat ini, diakui oleh Suswono, harga daging sapi sampai dengan saat ini masih tinggi dipasaran, padahal impor sudah dibuka lebar-lebar, dia memprediksi adanya tingginya harga daging sapi permasalahannya pada sistem perdagangan. “Harusnya harga daging sudah turun, karena suplai dipasaran sudah tersedia, tapi kenyataanya harga masih tinggi berarti ini ada permainan di sistem perdagangannya,” ungkapnya.

Kendati demikian, Mentan juga memprediksi impor daging sapi pada tahun 2014 masih sangat tinggi, mengingat didalam negeri masih banyak kendala seperti sarana dan prasarana, transportasi sapi antar wilayah, tata niaga yang belum tertata dengan baik. “Padahal di luar Jawa masih banyak cadangan sapi dengan harga yang murah, hanya saja transportasinya yang mahal menjadikan para tengkulak lebih baik impor dari luar. Karena dirasa harganya bisa lebih murah, dibandingkan ambil sapi lokal dari luar Jawa,” tegasnya.

Namun begitu, menurut Suswono, pada komoditas lain seperti padi, petani nasional mampu mencatatkan hasil yang lebih baik, karena para petani sudah mampu meningkatkan produksi padi, dari tahun 2012 memproduksi 69,06 juta ton, tahun 2013 naik menjadi 70,87 juta ton. “Artinya disisi lain petani kita sudah bisa meningkatkan produksi nasional, dan diperkirakan produskinya mencukupi kebutuhan nasional di tahun 2014, sehingga tidak perlu impor lagi,” paparnya.

Kondisi Global Membaik

Suswono memaparkan, secara umum tahun 2014 diproyeksikan kondisi global diperkirakan akan relitif membaik ini nampak dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia meningkat dari 2,1% tahun 2013 menjadi 2,8% tahun 2014. Perbaikan pertumbuhan PDB membaik itu diperkirakan terjadai pada negara-negara mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, China dan India, kecuali Japan yang diprediksi masih akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan analisis United States Departement of Agriculture (USDA), produksi pangan global khususnya beras, kedelai, dan daging secara umum diprediksikan akan mengalami peningkatan. “Diperkirakan dengan kondisi ini, harga pangan global tahun 2014 secara umum diprediksi akan stabil, dan cadangan pangan dunia diperkirakan aman,” tuturnya.

Terang saja, dengan prospek ekonomi dan produksi pertanian secara global di tahun 2014 meningkat menjadikan produksi pangan akan sangat kompetitif. Dengan kondisi itu, menuntut bagi pertanian nasional perlu upaya peningktan daya saing melalui efisiensi dan produktivitas pertanian. Terutama bahan pangan impor, yang diprediksi harganya menurun akibat meningkatnya stok pangan dunia. “Petani nasional harus mampu bersaing jika pasokan pangan dunia mencukupi, karena jika tidak petani nasional bisa kalah saing terutama pada harga, sehingga orang lebih memilih produk impor dibandingkan lokal,” tegasnya.

Related posts