Makna Keunggulan The Most Profitable Bank

NERACA

Jakarta – Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, kinerja tiga bank besar menunjukkan pertumbuhan laba usaha yang cukup signifikan hingga akhir triwulan ketiga tahun ini. Bank BRI tercatat meraih laba bersih tertinggi diantara dua bank lainnya yaitu Rp 15,45 triliun, menyusul kemudian Bank Mandiri Rp 13,27 triliun dan BCA Rp 10,36 triliun.

Berdasarkan data publikasi keuangan bank per September 2013, tingkat efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan aset bank seperti terlihat pada rasio likuiditas, BRI juga memperlihatkan keunggulan dari lainnya (lihat tabel).

Kemampuan bank mengelola asetnya secara profesional yang diindikasikan oleh rasio ROA (Return On Assets) BRI mencapai 4,65% disusul kemudian BCA (3,66%) dan Mandiri sebesar 3,45%. Sementara untuk kemampuan manajemen bank mengelola modal usaha (Return On Earnings-ROE) pada periode yang sama, BRI juga unggul dengan 33,24%, sementara Mandiri dan BCA mencapai 26,82% dan 26,61%.

Hal ini diakui oleh Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni, bahwa dalam 10 tahun terakhir PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini BRI dijuluki sebagai bank nasional yang paling menguntungkan atau “profitable.”

“Pertama, kami sebagai market leader dalam bisnis mikro. Pangsa pasar (Market share) kami terbesar dalam penyaluran kredit mikro di indonesia, yakni sekitar 45%,” ujar Baiquni. Kredit mikro BRI melayani pengusaha yang bergerak pada sektor riil dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia, serta masih memiliki potensi pengembangan bisnis yang sangat besar”, ujar Baiquni di acara Investor Summit 2013 di Jakarta belum lama ini.

Tidak hanya itu. Dalam upaya menerobos pasar layanan masyarakat antara lain melalui penyaluran kredit, kinerja ketiga bank besar itu menunjukkan kemampuan yang bervariasi. Hal ini tercermin dalam rasio penyaluran kredit dibandingkan penghimpunan dana masyarakat (Loan to Deposit Rasio-LDR) yang cukup moderat. Untuk LDR BRI tercatat 90,88% lebih tinggi dari Mandiri dan BCA yang masing-masing berada di posisi 85,65% dan 73,85%.

Baiquni mengatakan penetrasi layanan elektronik perbankan BRI ikut menjadi salah satu keunggulan di industri perbankan nasional. Hal itu terlihat dari pertumbuhan yang sangat pesat E – Banking BRI akhir-akhir ini. “E-Banking BRI serta jumlah rekening nasabah BRI yang mencapai 45 juta rekening, merupakan keunggulan kedua milik BRI. Potensi untuk kami makin besar disini, masih terbuka sangat lebar. Sebab kami merupakan bank dengan jumlah rekening nasabah terbesar di Indonesia, memberikan potensi pengembangan e-banking BRI di masa yang akan datang,” ujarnya.

Keunggulan ketiga lainnya menurut Baiquni, BRI memiliki jaringan dan jangkauan layanan tersebar dan terbesar. “Akses ke nasabah makin dekat. Dengan lebih dari 9.600 unit kerja real time online, BRI melayani seluruh lapisan masyarakat di Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke,” ujarnya.

Keunggulan keempat BRI adalah struktur permodalan dan infrastruktur yang kuat. Manajemen optimistis, BRI akan mampu bersaing secara nasional maupun regional ke depan. “Di depan mata kita kan ada perdagangan bebas ASEAN 2015. Kita optimis mampu bersaing. Utamanya pasar domestik ini harus kita layani secara optimal. Dengan dukungan permodalan yang kuat (Total CAR 17.13% ) serta infrastruktur teknologi informasi, sistem informasi dan SDM yang handal, BRI akan mampu menjaga pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Baiquni.

Dari sisi rasio efisiensi antara biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional bank perbankan (BOPO), BRI juga terlihat lebih efisien dibandingkan dua bank besar lainnya. Rasio BOPO BRI tercatat cukup rendah yaitu 61,54%, menyusul berikutnya BCA (62,76%) dan Bank Mandiri sebesar 63% sampai akhir September 2013.

Apresiasi Investor

Sementara itu, investor terus mengapresiasi kinerja keuangan perseroan. Saat pertama kali melantai di pasar saham pada Tahun 2003 harga saham BRI tercatat sebesar Rp 875/saham. Pada 2011, BRI melakukan stock split 1:2 sebagai respon atas kinerja saham perusahaan di pasar modal. Per Sept 2013 lalu dengan kondisi makroekonomi global yang belum menentu, harga saham BRI mencapai Rp 7.250,- meningkat 17x sejak pelaksanaan IPO di tahun 2003.

Apresiasi investor ini merupakan suatu kewajaran mengingat berbagai pencapaian yang terus dibukukan manajemen. Misalnya, pada 2005, BRI mencatatkan diri sebagai bank dengan profit atau laba bersih terbesar nasional. Sampai sekarang BRI masih teratas dalam dalam raihan laba terbesar. “Sampai September 2013 saja, laba bersih BRI sudah tumbuh 17% (yoy). Kita optimistis lagi tahun ini menjadi yang teratas dalam perolehan laba sebagai bank milik pemerintah dan publik,” ujar Baiquni.

Menurut dia, kinerja ini tak lepas dari kian majunya layanan teknologi informasi di perusahaan. Pada 2009, BRI sukses mengimplementasikan jaringan terkoneksi secara real time on-line di seluruh unit kerja BRI di Tanah Air sampai ke desa-desa. Tak hanya unggul diunit kerja, BRI juga mencatat milestone sebagai bank dengan jaringan ATM terbesar nasional yakni lebih dari 18 ribu ATM.

Tidak hanya itu, profitabilitas itu juga didukung oleh tata kelola (Good Corporate Governance/GCG) perusahaan yang baik dan bersih. Sebab itu, tidak heran bila pada penghujung 2013 ini, BRI menyabet sertifikasi ISO 9001:2008 dari Badan Sertifikasi LRQA (Lloyd's Register Quality Assurance) yang telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Internasional/ United Kingdom Accreditation Service (UKAS) dan Komite Akreditas Nasional, untuk kategori Provision of Card Center and Complaint Handling.

“Bank BRI telah berhasil mendapatkan sertifikasi itu. Sertifikasi ini adalah bentuk penilaian terhadap sistem manajemen mutu yang telah diterapkan terhadap proses Produksi Kartu dan Penanganan Keluhan Nasabah, yang pada akhirnya dapat menjamin kepuasan nasabah,” ujar Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali di Jakarta, belum lama ini.

Selain itu untuk kali kedua, BRI juga berhasil mempertahankan sertifikat ISO 9001:2008 untuk Provision of Payment system by RTGS and Clearing, and Remittance, yang sebelumnya telah diterima pada tahun 2012 lalu. Sertifikasi ini adalah bentuk penilaian terhadap sistem manajemen mutu yang telah diterapkan terhadap proses Sistem Pembayaran menggunakan RTGS dan Kliring, serta proses pengiriman uang dari Luar negeri atau Remittansi.

Dengan pencapaian ini, hingga Desember 2013, Bank BRI telah menerima lima sertifikasi, yakni untuk proses Produksi Kartu, Penanganan Keluhan Nasabah, Sistem Pembayaran menggunakan RTGS dan Kliring, serta proses pengiriman uang dari Luar negeri atau Remittansi, dan 1 lagi yakni sertifikasi manajemen mutu untuk Proses Audit yang telah diterapkan oleh BRI.

“Dan ditargetkan seluruh system operasional di BRI akan mendapatkan sertifikasi ISO pada tahun 2017 mendatang, saat ini tersisa 8 bagian lagi yang belum terakreditasi sertifikasi ISO,” ujar Ali.

Sebagaimana diketahui, LRQA didirikan pada 1985 dan menjadi lembaga sertifikasi pertama yang mendapatkan akreditasi untuk menerbitkan sertifikat sistem manajemen mutu, dari Dewan Akreditasi Nasional untuk Lembaga Sertifikasi, atau yang sekarang dikenal sebagai UKAS (United Kingdom Accreditation Service). Dan saat ini LQRA beroperasi di sebagian besar negara di seluruh dunia,

BRI menurut data Kementerian BUMN, tercatat salah satu contoh perusahaan yang memiliki keunggulan bersaing daftar 10 perusahaan publik terbaik 2012 di Indonesia versi majalah Forbes. Mengapa?

Karena, bank BUMN itu dinilai mampu menghasilkan keuntungan dan memiliki aset yang jauh melebihi pemain di industrinya. Perusahaan tersebut juga mampu bertahan menghadapi persaingan selama puluhan tahun dan tumbuh memanfaatkan berbagai peluang.

Menurut pakar manajemen strategi Porter (1985), perusahaan dikatakan memiliki keunggulan bersaing jika memiliki biaya lebih rendah dibandingkan pesaing, memiliki produk atau proses yang lebih baik, sukses menjalankan strategi fokus segmen pasar tertentu.

Melengkapi pengertian tersebut, Peteraf (1993) mendefinisikan keunggulan bersaing berkelanjutan sebagai kemampuan untuk mendapatkan keuntungan di atas normal dalam jangka panjang (sustain above normal return).

Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai literatur mengenai keunggulan bersaing sejak 1965, Hoffman (2000) menyimpulkan keunggulan bersaing berkelanjutan adalah manfaat jangka panjang dari implementasi suatu “unique value-creating strategy” yang secara bersamaan tidak diterapkan oleh para pesaing.

Ini menunjukkan manajemen bank harus selalu memperbaharui sumberdaya dan kapabilitas unggulannya sesuai dengan perubahan kunci sukses di industri. Dalam hal ini, bank harus memiliki kemampuan kapabilitas dinamik (dynamic capability) yakni kemampuan untuk membentuk ulang, mengkonfigurasi, dan merekonfigurasi sumberdaya dan kapabilitas perusahaan sehingga dapat merespon perubahan teknologi dan pasar. [ardhi/fba]

TABEL KINERJA BANK BESAR PER SEPTEMBER 2013

Komponen BRI Mandiri BCA

Laba Bersih (Rp) 15,45 T 13,27 T 10,36 T

LDR 90,88% 85,65% 73,85%

ROA 4,65% 3,45% 3,66%

ROE 33,24% 26,82% 26,61%

BOPO 61,54% 63% 62,76%

Sumber: Laporan Publikasi Bank per September 2013(konsolidasi)

Related posts