Fluktuasi Indeks, OJK Tidak Mau Disalahkan - Tidak Bisa Intervensi Pasar

NERACA

Jakarta – Masih berfluktuatifnya indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2013 akibat kondisi pengaruh pasar global, rupanya belum banyak bisa dilakukan otoritas pasar modal untuk mengendalikannya lantaran hal tersebut sangat bergantung pada sentimen kondisi pasar.

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, naik dan turunnya indeks BEI tidak dapat dipengaruhi. Pasalnya, hal ini bergantung dengan kondisi pasar, “Kita tidak bisa mengendalikannya, karena pengawas hanya bertugas mengawasi kondisi pasar,”katanya di Jakarta, Senin (30/12).

Dia mencontohkan, di negara lain seperti Singapura hal yang sama juga dilakukan. Dimana peran pengawas hanya mengawasi saja dan tidak bisa ikut campur tangan menaikkan atau menurunkan indeks. Karena itu, ketika indeks di sana naik ataupun turun tajam, pihak pengawas pasar modal tidak berbuat apa-apa.

Dirinya menegaskan, dengan pengawasan yang dilakukan OJK bisa dipastikan tidak ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan untuk keuntungan pribadi di tengah kondisi pasar yang kurang baik. Hal senada juag disampaikan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, hingga saat ini regulator tidak pernah campur tangan terhadap naik-turunnya IHSG ataupun saham emiten tertentu, “Ketika indeks ataupun saham ada yang naik atau turun kami tidak dapat mempengaruhi hal tersebut. Karena kami hanya memperhatikan naik turun suatu indeks secara efisien, teratur dan wajar,”tandasnya.

Lanjut dia, ketika indeks turun dan fluktuatif, tentunya pihak pengawas ataupun regulator tidak dapat disalahkan. Terkait prediksi indeks BEI di 2014, kata Ito, dirinya belum bisa memperkirakan. Namun, dirinya tetap optimis pasar masih akan tumbuh pada 2014 di mana Pemilu akan berlangsung,”Seperti Pemilu 2004 dan 2009 lalu, indeks tetap naik. Namun pada 2014 nanti, IHSG memang masih dibayangi banyak defisit neraca seperti perdagangan, transaksi berjalan, pembayaran,”ungkapnya.

Selain itu, Ito juga menyampaikan kebanggaannya dengan tercapainya emiten baru yang listing di pasar modal sebanyak 31 emiten. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan pengembangan pasar modal Indonesia sepanjang 2013 dipenuhi harapan akan semakin stabil. Meskipun IHSG mengalami penurunan pada tutup tahun ini yaitu 4.258,57 dari tahun lalu yang ditutup di level 4.316,68.

Kendatipun demikian, IHSG berhasil mencatatkan rekor tertinggi di tahun ini yaitu di level 5.214,97 pada 20 Mei 2013 lalu. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar meningkat tipis 0,87% atau menjadi Rp4.163 triliun pada 27 Desember 2013 dari penutupan akhir tahun lalu sebesar Rp4.127 triliun. Kemudian likuiditas transaksi juga meningkat ditandai dengan meningkatnya rata-rata nilai transaksi harian saham sebasar 37,68% yatu Rp4,54 triliun pada 2012 menjadi Rp6,25 triliun.

Sepanjang tahun 2013, tercatat dua reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (exchanged traded funds/ETF) yaitu reksa dana syariah premier ETF JII (XIJI) dan reksa dana premier ETF Indonesia consumer (XIIC). Tercatat juga 1 dana investasi real estate berbentuk kontrak investasi kolektif (real estate investment trust/REITs) yaitu DIRE Ciptadana Properti Ritel Indonesia (XCID). (nurul)

Related posts