RAPOR PEREKONOMIAN 2013

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO and Founder BondRI

Jangan pernah lupakan sejarah! Barangsiapa tak mengindahkannya, bisa mengulangi sejarah pahit. Namun jangan pula terlena dengan sejarah, yang membuat kita lupa dengan dinamika kekinian dan tantangan di masa depan. Mari kita serap esensi setahun penuh perjalanan sejarah perekonomian, yang telah mengalami ups-and-downs di tahun 2013. Skor 0 hingga angka 100 (angka 100 adalah yang terbaik), nilai berapa prestasi (pencapaian) perekonomian kita di tahun 2013 menurut para pembaca? Jawabannya pasti akan berbeda satu sama lain.

Banyak pekerjaan rumah perekonomian 2013 yang tak tuntas. Perekonomian kita memang sustain, namun melambat dalam kondisi entropi yang kurang terkendali. Berikut rapor ekonomi kita:

Rapor-Makro; Harga minyak sering kali mengalami revisi yang turut memberikan kontribusi negatif terhadap stabilitas perekonomian domestik. Daya beli Rupiah juga terdepresiasi sangat signifikan di akhir tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan walaupun secara nominal bertambah. Nilai plus yang dialami ranah makro hanya pada indikator foreign direct investment.

Rapor-Mikro; Utilisasi kapasitas industri dan Indeks Harga Produsen cukup favorable, namun produksi industri mengalami penurunan dalam kondisi total utang swasta menggelembung hingga IDR 1677 T (baik IDR maupun valas). Mengenai isu upah minimum, ada persoalan pending yang butuh resolusi di 2014. Dalam kondisi tingkat pengangguran yang menurun, jumlah tenaga kerja ternyata mengalami penurunan signifakan. Hal yang cukup menghibur adalah adanya kenaikan pada Indeks kondis bisnis domestik dan indeks keyakinan konsumen.

Rapor-Fiskal; Selama beberapa periode, perekonomian sempat mengalami kondisi twin-deficit. Dalam kondisi IDR yang terdepresiasi konsisten, total utang luar negeri kita naik lebih tinggi dibanding tahun lalu. Total surat berharga pemerintah hingga akhir tahun telah berada di atas figur IDR 1000T. Artinya pola kebijakan pembiayaan untuk menutup defisit anggaran masih terlalu eksesif namun kurang efektif. Secara umum, kondisi fiskal domestik telah menyebabkan pasar kurang apresiatif terhadap kurs Rupiah.

Rapor-Moneter; Cadangan devisa berkurang signifikan dibanding tahun lalu, yang tidak terlepas dari kebijakan otoritas moneter dalam rangka mempertahankan daya beli Rupiah. Suku bunga acuan mengalami kenaikan sangat signifikan dalam periode yang supersingkat, demi menyelamatkan Rupiah. Tingkat lending rate yang tinggi telah menyebabkan aktivitas sektor riil tersendat, yang membuat value creation process mandek.

Rapor-Pasar Modal; Proses value creation yang mandek membuat proses profit creation di ranah industri juga macet, sehingga geliat atau dinamika capital market tidak seperti yang diharapkan. Dalam kondisi laju inflasi, suku bunga acuan, yield obligasi acuan yang naik dan relatif tinggi, hal ini telah menyebabkan sovereign risk yang ditanggung perekonomian kita sangat tinggi saat ini. Dari 0 hingga 100, BondRI menilai rapor pencapaian perekonomian Indonesia ada di skor 61.

Related posts