Selamatkan Satwa Endemik - Pertamina Bangun Penangkaran Maleo di Pesisir Pantai Bangkiriang

NERACA

Burung Maleo merupakan satwa endemik Sulawesi yang hampir punah lantaran telurnya yang menjadi buruan masyarakat. Penebangan hutan di kawasan hutan Sulawesi pun juga ditengarai sebagai penyebab burung maleo bergeser ke tempat lain yang kemudian punah. Padahal satwa endemik ini harus dilestarikan.

Tanggung jawab penyelamatan satwa seperti Maleo bukan hanya tanggung pemerintah. Perusahaan swasta dan masyarakat di daerah sulawesi Tengah harus turut berkecimpung dalam menjaga dan melestarikan hewan endemik tersebut.

Untuk itu, dalam upaya melestarikan lingkungan hidup, PT Pertamina EP bekerjasama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, membuat penangkaran Maleo di pesisir pantai Bangkiriang guna menjaga populasi burung Maleo yang hampir punah.

“Konservasi maleo harus ditingkatkan, dalam hal ini Pertamina EP membuat penangkaran Maleo untuk membantu proses penetasan telur burung maleo,” tutur Direktur Exploration & New Discovery Project Director Eksplorasi, Doddy Priambodo.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Sudharto mengapresiasi langkah Pertamina EP melestarikan burung Maleo di Sulawesi. Bahkan, dia mengucapkan terima kasih karena telah menjaga hewan endemik di Sulawesi tersebut.

"Pertamina sebagai pahlawan pelestarian burung maleo," puji Sudharto.

Medianto menambahkan bahwa konservasi Maleo dilakukan sejak 25 Januari 2012. Kemudian pada Juli 2013, Pertamina EP melepas delapan ekor burung Maleo. September 2013 dilepas lagi 12 ekor burung Maleo, dan 8 Oktober 2013 dilakukan pelepas liaran kembali sejumlah 32 ekor burung Maleo.

Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan komitmen pelestarian bumi, Pertamina EP juga menanam mangrove dan 9 ribu pohon mahoni di Desa Pandanwangi, Kecamatan Toili Barat, seluas 5,1 hektare. Kemudian Desa Tohiti Sari, Kecamatan Toiki, seluas 1,5 hektare dan Kelurahan Tombang Permai, Kecamatan Luwuk, seluas 0,2 hektare.

Related posts