Transformasi PT Pusri Membangun Kekuatan Bisnis - Melalui Efisiensi dan Modernisasi Pabrik

NERACA

Jakarta – Persaingan bisnis industri pupuk dalam negeri terus mengalami perkembangan pesat, terlebih memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015 nanti, dituntut untuk lebih agresif dalam merebutkan pasar ASEAN. Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing, maka inovasi, modernisasi dan efisiensi menjadi keniscayaan disamping menjadi kunci dalam merebutkan pasar dan memenangkan persaingan bisnis.

Langkah ini pula yang tengah di galakkan PT Pupuk Sriwidjaya (Pusri) Palembang untuk terus meningkatkan efisiensi, inovasi dan modernisasi pabrik agar bisa survive ditengah ketatnya persaingan industri pupuk dalam negeri. Bahkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mendorong biaya produksi PT Pupuk Sriwidjaja naik. Namun kondisi tersebut, berhasil mampu dilewati perseroan dengan tetap memproduksi pupuk urea untuk memenuhi kebutuhan petani dalam negeri,”Melemahnya rupiah akhir-akhir ini jelas berpengaruh terhadap biaya produksi karena gas yang digunakan untuk membuat pupuk urea harganya ditentukan dengan dolar Amerika Serikat," kata Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Musthofa.

Kemampuan Pusri untuk tetap bertahan hingga mengurangi beban meningkatnya biaya akibat dolar AS menguat adalah dengan efisiensi biaya produksi dan biaya umum di empat pabrik pupuk urea di Palembang. Selain itu, perseroan juga memaksimalkan penjualan ekspor untuk memperoleh pendapatan dalam dolar AS yang diharapkan bisa meringankan beban perusahaan.

Kata Musthofa, dirinya menyakini dengan meningkatkan efisiensi, inovasi dan modernisasi pabrik tidak hanya mampu meningkatkan daya saing semata tetapi juga membangun kekuatan bisnis dengan transfer value kepada pelanggan dengan keunggulan yang dimiliki. Maka dalam rangka membangun kekuatan bisnis tersebut, PT Pusri juga tengah melakukan revitalisasi pabrik Pusri II yang usianya 38 tahun menjadi pabrik baru, yakni Pusri II-B di Palembang, Sumatera Selatan,“Revitalisasi pabrik II B dilakukan karena pabrik sudah tua dan menggunakan teknologi tahun 70-an yang tentu saja boros bahan bakar minyak dan tingkat polusi masih tinggi,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Pusri, Zain Ismed, produksi PT Pusri tahun 2012 sebesar 2,05 juta ton dan tahun 2012 sebesar 2,04 juta ton. Produksi mengalami penurunan karena pabriknya sudah tua,”Saat ini ada 4 pabrik, semuanya tua,"ungkapnya.

Zain mengatakan, tingkat efisiensi konsumsi energi di pabrik tua tergolong rendah. Sebagai perbandingan, saat ini untuk menghasilkan 1 ton urea dibutuhkan gas sebanyak 38 juta metrik british termal unit (MMBTU). Di pabrik baru nantinya hanya dibutuhkan gas sekitar 25 MMBTU untuk menghasilkan 1 ton urea.

Diharapkan dengan beroperasinya pabrik Pusri II-B sekitar Desember 2015, nantinya kapasitas produksi PT Pusri bisa bertambah dari sekitar 2,2 juta ton per tahun menjadi 2,6 juta hingga 2,8 juta ton pertahun. Asal tahu saja, investasi revitalisasi pabrik Pusri II-B ditaksir mencapai sekitar US$ 561 juta. Dimana sumber pendanaan berasal dari ekuitas perusahaan dan pinjaman perbankan.

Teknologi Canggih

Modernisasi pabrik yang dilakukan Pusri dalam rangka meningkatkan efisiensi, rupanya tetap memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Hal ini penting dilakukan selain untuk keseimbangan usaha dan lingkungan juga amanat dari Instruksi Presiden (Inpres) No.2/2010 tentang Revitalisasi Pabrik Pupuk yang harus mengedepankan ramah lingkungan, meminimalkan penggunaan gas dan energi, serta meningkatkan produksi. Karena itu, modernisasi pabrik Pusri II-B diklaim menggunakan teknologi canggih yang ramah lingkungan.

Kata Zain Ismed, pabrik Pusri II juga akan menghemat pemakaian energi gas dari 21,47 MMBTU per ton menjadi 14,8 MMBTU per ton,”Kami akan mengkonversi bahan bakar gas ke batu bara di mana saat ini sedang proses pembangunan pembangkit yang dilakukan oleh PT Rekayasa Industri (Rekin),”paparnya.

Adapun estimasi kebutuhan batu bara untuk perseroan tersebut sebesar 400.000 ton per tahun. Nantinya, bahan bakar itu akan disuplai oleh PT Bukit Asam (Persero)Tbk. Dia mengatakan pabrik ini nantinya dapat memproduksi amonia sebanyak 2.000 ton per hari atau 660.000 ton per tahun, serta urea sebanyak 2.750 ton per hari atau 907.500 per tahun. Disebutkan, Pusri II-B menggunakan teknologi Ases 21 yang dikembangkan oleh Pusri dan Toyo Int, dengan pelaksana proyek PT Rekayasa Industri Persero dan Toyo Engg Corp Int.

Melalui konversi energi dari gas ke batubara, diperkirakan potensi efisiensi gas yang bisa dilakukan paling tidak 25% dari kebutuhan utilitas perusahaan. Saat ini, Pusri Palembang yang memasok pupuk urea bersubsidi ke Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, Bangka-Belitung, Jateng, dan Banten, membutuhkan gas hingga 225 juta kaki kubik per hari. Namun, karena pasokan dari Pertamina EP, Medco, dan Pertagas hanya 200-205 juta kaki kubik per hari, kapasitas pabrik yang termanfaatkan hanya 90%. Kendati demikian, Pusri tetap mampu memenuhi pasokan urea pupuk bersubsidi yang merupakan penugasan pemerintah sebesar 1,293 juta ton pada tahun ini.

Sementara Sulfa Ganie, Manajer Humas PT Pusri Palembang menyatakan, pihaknya telah banyak melakukan terobosan dalam upaya efisiensi. Disebutkan, dari penggunaan gas untuk operasional sehingga mengefisiensikan penggunaan listrik, mengurangi penggunaan energi gas dengan substitusi energi dari batu bara.

Disamping itu, PT Pusri, lanjutnya, juga melakukan terobosan lain terkait efisiensi adalah dengan penerapan proyek Steam Turbin Generator boiler batu bara (STG) atau substitusi dari gas bumi ke batu bara. Melalui STG, Pusri menghemat pemakaian gas bumi sebesar 17 million cubic feet per day standard (mmscfd), yang akan dialokasikan ke gas proses Pabrik II-B.

Pusri juga telah lama melakukan optimalisasi pemanfaatan tail gas yang diolah melalui unit pengolah limbah gas atau Purge Gas Recovery Unit (PGRU). Jika sebelumnya ada yang terbuang ke atmosfer, sekarang tail gas dimanfaatkan sebagai gas bakar. Nilai penghematan energinya mencapai 0,4 mmbtu per ton NH3.

Maka tidak heran, jika kepedulisn Pusri pada lingkungan tidak perlu diragukan lagi karena telah menerima banyak berbagai penghargaan yang berhubungan dengan lingkungan dan efisiensi, khususnya energi. Penghargaan yang diperoleh selama tahun ini adalah ‘’Proper Hijau’’ untuk kinerja lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Lalu, ‘’Industri Hijau’’ dari Kementerian Perindustrian dan ‘’Efisiensi Energi Nasional’’ kategori inovasi khusus dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (bani)

Related posts