Peruri Mengaku Peredaran Upal Jangan Terlalu Dikhawatirkan - Kemiripan di Bawah 50%

NERACA

Jakarta - Kepala Divisi Pengembangan Pasar dan Dukungan Penjualan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), Indrio Tjahyo, mengatakan jangan terlalu khawatir akan peredaran uang palsu (upal) menjelang akhir 2013. Pasalnya, kualitas uang palsu yang saat ini beredar sangat rendah. Sehingga dapat dengan mudah diketahui.

“Uang palsu yang saat ini beredar tingkatan kualitasnya masih belum sampai taraf yang cukup tinggi. Artinya, uang palsu yang sekarang ada masih dalam taraf meniru saja. Belum sampai taraf imitasi yang mirip atau sama persis. Tapi jumlahnya ada berapa saya kurang mengetahui pasti,” ungkap Indrio kepada Neraca, Minggu (29/12) pekan lalu.

Indrio menjelaskan uang palsu yang ditemukan sepanjang tahun ini masih dibuat dengan dengan alat yang sederhana atau alat cetak print warna biasa. “Mereka (pencetak uang palsu) masih melakukannya dengan cetak off set biasa. Atau bahkan ada juga yang menggunakan printer kertas kantoran. Jadi kalau secara porsentase tingkat kemiripannya masih di bawah 50%,” jelasnya.

Meski begitu Indrio mengaku pihaknya terus memonitoring perkembangan tingkat kemiripan uang palsu yang berhasil ditemukan. Bahkan Peruri juga aktir melakukan sharing knowledge mengenai uang palsu dengan lembaga-lembaga keuangan. Baik lembaga keuangan nasional maupun internasional.

“Kita selalu aktif diskusi dan memonitoring perkembangan uang palsu dengan BI (Bank Indonesia) dan lembaga keuangan lainnya di dalam negeri. Di luar negeri kita juga aktif dengan membahas hal ini. Bahkan di Asia dan duni kita turut aktif bersama asosiasi percetakan uang internasional membahas hal ini untuk tindakan pencegahan,” terang Indrio.

Untuk mencegah keberadaan uang palsu, Indrio sendiri mengaku pihaknya selalu mengganti kode-kode keamanan dalam uang setiap lima tahun sekali. Dengan begitu para pemalsu uang juga akan keteteran mengikuti perkembangan kode keamanan uang asli. “Kita bisa melakukan perubahan pada tambang yang terdapat di dalam uang. Atau kode-kode lainnya. Dengan begitu keberadaan uang palsu juga tidak akan terus mengalamu kesulitan dalam meniru uang asli," papar dia.

Sebelumnya Direktur Departemen Pengedaran Uang Bank Indonesia, Adnan Djuanda mengungkapkan, hingga Agustus 2013 mayoritas uang yang dipalsukan adalah pecahan Rp100 ribu. Bahkan tercatat, hingga Juni 2013, peredaran uang palsu mencapai 4 lembar dalam 1 juta lembar uang.

"Pecahan yang sering dipalsukan adalah yang Rp100 ribu, di tahun 2009 ada 36.377 lembar, di tahun 2010 ada 146.366, 2011 ada 61.357 dan 2012 ada 21.497 lembar," kata Adnan. Diakuinya, meski sudah ada Undang Undang Mata Uang yang melarang dan memberi sanksi berat bagi siapa saja yang membuat dan mengedarkan uang palsu. Namu belum membuat efek jera bagi para pelaku.

"Pada tahun 2012 ini bulan Juni, ada 4 lembar per 1 juta," tambahnya. Namun, walau demikian jika dibandingkan negara Eropa dan Amerika Serikat, Adnan mengatakan Indonesia masih tergolong belum begitu mengkhawatirkan. "Kalau dibandingkan negara lain kita belum terlalu gawat. Mata uang euro dan dolar AS lebih tinggi dari kita. Apalagi dolar AS itu mata uang internasional, lebih dari 20-30 lembar per1 juta," katanya.

Lebih lanjut Adnan memetakan, ibukota Jakarta merupakan tempat dominan beredarnya uang palsu dengan prosentase sebesar 28% atau sebanyak 11.758 lembar. "Penyebaran terbesar terjadi di DKI dan Banten, tahun 2012, 11 758 ribu atau 28%, Jabar 9879 (24,05%), Jatim 8815 (21,46%), Lampung sebanyak 1759 (4,28%) dan daerah lain seperti Jateng," tukasnya. [lulus]

Related posts