Desember Diprediksi Inflasi

NERACA

Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Destry Damayanti, mengatakan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak pertengahan November lalu jelas berpengaruh terhadap inflasi, terlebih pada Desember. Diamenjelaskan, setiap 10% depresiasi rupiah akan berdampak ke inflasi sekitar 0,8%.“Sudah mulai terasa dampaknya bulan ini (akan terjadi inflasi). Ini bisa dilihat dari harga Pertamax yang harganya naik menjadi Rp11 ribu per liter. Padahal harga minyak di pasar global masih relatif stabil,” katanya di Jakarta, pekan lalu.

Lebih lanjut Destry memproyeksikan inflasi pada Desember akan berada di kisaran 0,6% hingga 0,7%. Oleh karena itu, inflasi sepanjang 2013 ini akan mencapai 8,5% hingga 8,7%.Sementara Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan dari hasil pemantauan mereka ini sangat minimal.

“Ada tiga faktor kenapa dampak nilai tukar tidak terlalu besar terhadap inflasi, salah satunya adalah karena harga komoditas dunia yang terus turun,” kata dia.Menurut Perry, survei sampai minggu kemarin inflasinya 0,36%, sedangkan untuk memprediksi inflasi Desember akan di bawah 0,5% Kecil. Sehingga inflasi secara setahun (year on year/yoy) di bawah 8,5%. Tingkat inflasi tersebut jauh berada di bawah proyeksi BI sebelumnya yang memperkirakan inflasi 2013 akan berada di kisaran 9% hingga 9,8%.

Perry juga menjelaskan, turunnya permintaan domestik, oleh karenanya impor baik barang konsumtif dan barang modal itu akan turun. Sedangkan faktor ketiga dalah ketersediaan bahan makanan, khususnya bahan pokok. Menurut Perry itu juga merupakan bagian dari koordinasi yang erat antara BI dan pemerintah.

“Diharapkan ketersediaan barang pokok itu sangat cukup, sehingga itu juga menjadi salah satu faktor mengapa pelemahan rupiah tidak berdampak besar ke inflasi,” imbuh dia.Sedangkan untuk proyeksi tahun depan, Perry menjelaskan masih akan tetap terkendali, karena komoditas dunia masih akan tetap rendah. “Yang kedua, pergerakan nilai tukar kedepannya itu akan cenderung menguat, itu karena neraca pembayaran defisitnya akan lebih kecil,” kata dia.

Selain itu, tambah Perry, untuk tingkat nilai tukar sekarang ini jika dibandingkan fundamental itu sebetulnya perhitungan BI memang lebih lemah dari fundamental yang ada. “Pengelolaan permintaan domestik itukan masih akan terus dilakukan, sehingga kami masih akan yakin bahwa pelemahan nilai tukar rupiah itu tidak akan berdampak besar terhadap inflasi,” ucapnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya senantiasa menjaga supaya mata uang rupiah masuk dalam kategori tanpa volatilitas. “Dan selalu terjaga stabilitasnya, memang jika akhir tahun seperti ini, karakteristik pasar di Indonesia adalah adanya demand foreign currency atau devisa yang tinggi, itu juga membuat tekanan, kami yakin itu sementara,” kata Agus.

Agus menjelaskan, Dewan Gubernur BI akan terus menjaga pengelolaan moneter yang prudent dan hati-hati. “Kita akan menjaga konsistensi karena kita tahu Indonesia masih memiliki tantangan untuk reformasi struktural, hal itu memerlukan waktu yang cukup lama, tidak bisa diselesaikan dalam waktu 1 atau 3 bulan saja, kami akan konsisten agar nantinya pertumbuhannya lebih baik dan berkesinambungan,” ucapnya. [sylke]

Related posts