Kerek Produksi Udang, 675 Ha Tambak Direvitalisasi - Perikanan Budidaya

NERACA

Jakarta – Dalam rangka pencapaian peningkatan produksi udang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat program revitalisasi tambak udang, dari tahun 2012 lalu sampai dengan akhir tahun 2013 ini sudah ada sekitar 675 hektar tambak yang sudah direvitaslisasi. Hasilnya pun sangat menggembirakan, dengan capaian per September 2013 sudah mampu memproduksi 480 ribu ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya 457.600 ton.

“KKP melalui program revitalisasi berhasil mengoptimalkan lahan tambak dengan membuat model percontohan berupa demonstrasi farm atau demfarm. Hasilnya, produksi udang nasional per September 2013 telah mencapai 480 ribu ton. Jumlah ini telah melebihi capaian produksi tahun 2012 yang mencapai 457.600 ton,” kata Sharif C. Sutardjo, Menteri Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, Jumat (27/12).

Lebih jauh lagi Sharif menjelaskan, program Revitalisasi tambak dengan demfarm juga telah memberikan efek luar biasa bagi petambak udang tradisional maupun masyarakat di sekitar lokasi tambak demfarm. Di mana, tambak yang sebelumnya mangkrak dan kurang produktif, kini mulai produktif. Bahkan, peningkatan produksi tersebut berkorelasi positif dengan bertambahnya luasan tambak budidaya udang, di sekitar tambak demfarm. Tercatat ada penambahan luasan tambak baru yang mencapai 675 ha di 6 lokasi tambak demfarm yakni Serang, Tangerang, Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Penambahan areal pertambakan secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan petambak dan pekerja tambak. “Program revitalisasi tambak juga mampu menyerap tenaga kerja baik musiman maupun pekerja tetap sebanyak 130 ribu orang,” katanya.

Menurut dia, perikanan budidaya saat ini menjadi barometer utama dalam menopang pembangunan perikanan nasional. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dalam mewujudkan Perikanan Budidaya sebagai ujung tombak dalam menggerakan perekonomian nasional dan ketahanan pangan masyarakat. Dalam upaya mewujudkan harapan besar tersebut, maka diperlukan sebuah kebijakan strategis yang terimplementasi secara nyata melalui kerjasama sinergi dari seluruh stakeholders pelaku perikanan budidaya.

"Langkah nyata yang sedang ditempuh adalah melalui implementasi kebijakan industrialisasi perikanan budidaya. Program ini merupakan kebijakan strategis dalam menggerakan seluruh potensi melalui pengelolaan yang arif dan bertanggungjawab, sehingga secara langsung akan berdampak terhadap peningkatan produksi dan produktivitas serta nilai tambah,” tegasnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, mengatakan, khusus untuk kegiatan revitalisasi tambak udang, KKP melakukan perbaikan infrastruktur berupa saluran primer, sekunder dan tersier. Program ini diharapkan dapat meningkatkan performa kawasan pertambakan. Contohnya, tambak Pantai Utara Jawa, yang saat ini masih banyak mengalami kerusakan.

Untuk lebih mengoptimalkan lahan pertambakan tersebut, KKP berupaya mengajak keterlibatan masyarakat pembudidaya, swasta dibidang perikanan budidaya, perbankan serta stakeholders lain untuk dapat bersinergi dalam upaya peningkatan produksi perikanan dengan nilai tambah dan mempunyai daya saing. “Program demfarm, sifatnya hanya stimulan dengan luasan yang sangat terbatas dibanding luasan lahan pertambakan yang ada, namun program ini dapat menunjukkan bahwa usaha budidaya udang di Indonesia bila diterapkan sesuai dengan teknologi masih dapat dijadikan sebagai peluang usaha yang menguntungkan,” ujarnya.

Menurut Slamet, keberhasilan program revitalisasi tambak juga didukung kesuksesan Indonesia menangani serangan penyakit udang mematikan EMS (Early mortality Stage) dan bebas residu. Keberhasilan ini mendukung posisi tawar udang Indonesia di pasar udang dunia, cukup tinggi. Hasilnya adalah peningkatan permintaan udang Indonesia terus mengalami peningkatan, sehingga harganya pun juga meningkat. Sudah barang tentu, kondisi ini mampu memberikan keuntungan usaha yang signifikan bagi petambak udang dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya. Hal ini berkat kerja keras dan disiplin semua stakeholders usaha budidaya udang dalam menerapkan standard prosedur sesuai ketentuian yang ditetapkan KKP,” jelasnya.

Primadona Ekspor

Udang merupakan salah satu komoditas utama dalam industrialisasi perikanan budidaya karena memiliki nilai ekonomis tinggi (high economic value) serta permintaan pasar yang juga tinggi (high demand product). Komoditas ini bahkan sampai saat ini merupakan primadona ekspor produk perikanan budidaya.

“Produksi udang Indonesia pada 3 tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan cukup signifikan. Tercatat produksi tahun 2012 mengalam peningkatan hingga 32,87%, dari 400.385 ton pada tahun 2011 menjadi 457.600 ton pada tahun 2012. Pada tahun 2014, KKP menargetkan peningkatan produksi udang sebesar 200 ribu ton,” kata Sekretaris Ditjen Perikanan Budidaya, Tri Hariyanto.

Related posts